Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST 38


__ADS_3

Setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari dokter,Inka di alihkan ke dokter bagian penyakit dalam. Dokter Ayu hanya memastikan dan menjelaskan perihal resiko yang akan di alami ibu hamil yang mengalami kanker.


Bagai tertimpa bebatuan secara bersamaan rasanya perih,sesak dan tidak tahu Inka harus bercerita pada siapa. Inka terlalu perasa untuk melibatkan orang lain,dia takut merepotkan, terlebih Dia merasa sudah menjadi benalu dalam kehidupan keluarganya.


Putra yang berhari-hari pergi tanpa meninggalkan kabar,membuat penderitaan Inka semakin lengkap,di tambah pemandangan hari ini yang semakin mencabik-cabik perasaannya,ingin rasanya Inka menghilang saja dari muka bumi ini secepat mungkin.


Ya,Inka melihat Putra sedang mendorong kursi roda seorang wanita,bahkan dengan mata kepalanya sendiri Dia melihat bahwa wanita itu adalah orang yang Inka kenal. Perempuan itu adalah Raya,entah apa yang terjadi dengan wanita itu sampai Putra rela meninggalkan istrinya yang sedang mengandung,dan lebih memilih wanita lain, meskipun itu wanita yang putra cintai.


Inka semakin menyadari posisinya yang tidak berharga di mata Putra,rasanya sudah tidak kuat menghadapi ini sendiri,apalagi mendengar ucapan dokter yang mungkin saja ingin memberitahu bahwa kematian ada di dapan mu.


Inka keputusan untuk pulang,namun keadaan kembali membuat Dia harus bertemu dengan seseorang. Saat Inka akan memutar arah menuju jalan keluar lain,Inka tidak sengaja menabrak seseorang,yang tak lain adalah Pak Arya dosen Inka sewaktu di kampus.


Dosen itu datang bersama wanita paruh baya dan sepertinya itu adalah ibu sang dosen.


"Ma__maaf saya tidak sengaja" ucap Inka yang masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya


"Tidak apa-apa," ucap laki-laki itu


Saat keduanya sudah menyadari satu sama lain ada suara yang memanggil nama seseorang.


"Airin.." ucapan dengan mata terkejut kearah Inka,ya suara itu berasal dari wanita paruh baya tersebut.


"Inka" ucap laki-laki tersebut yang bernama Arya


"Pak Arya" ucap Inka melihat kearah sang dosen.


"Wah kebetulan sekali kita bertemu disini. Mah namanya Inka bukan Airin" ucap Arya pada sang Mama


Wanita itu langsung memegang pundak Inka dan menatap wajahnya lekat lekat, seperti feeling seorang ibu yang menemukan anaknya.


"Ya Dia Airin,dia sama persis dengan Airin saat masih remaja lesung pipi,hidung dan matanya sama sekali tidak bisa menyembunyikan bahwa dia adalah bentuk lain dari Airin"

__ADS_1


Inka semakin bengong dengan apa yang baru dia dengar,Inka beranggapan kalau ibu dari dosennya itu memiliki gangguan jiwa.


"Ma,aku memang mencurigai hal yang sama tapi aku belum memastikan kalau Dia adalah anak dari Kak Airin" ucap Arya terus terang.


Inka lagi-lagi bingung mendengar pernyataan Arya,takdir apalagi yang ia temui saat ini. "Airin? siapa dia kenapa ibu itu berkata aku mirip dengan wanita yang ia sebutkan?"


"Tapi mama sudah yakin kalau dia adalah putri Airin yang selama ini kita cari. Arya, sekarang kita sudah kembali dan kehidupan kita sudah layak untuk mengambil anak Airin dari laki-laki yang jahat itu!" ucap ibu paruh baya tersebut


Sedangkan Inka hanya mematung.


"Ma,sabar dulu. Sebaiknya kita memastikan itu terlebih dahulu"


"Maaf,aku menyela pembicaraan kalian, sepertinya sejak tadi obrolan kalian berkaitan dengan ku,apa kalian mengenal ku,dan siapa wanita bernama Airin itu?" ucap Inka memberanikan diri untuk bertanya.


Keduanya pun menatap kearah Inka,wajah pucat Pasih,kurus seperti kekurangan asupan gizi, membuat keharuan di mata keduanya.


"Kami akan menjelaskan semuanya,bisa kah kamu ikut dengan kami?" ucap Arya


Inka pun mengangguk dan ikut berjalan bersama mereka,berbeda dengan wanita paruh baya bernama Rahmi itu,dia berjalan sambil memeluk tangan Inka dan sesekali mengusap air matanya yang jatuh. Awalnya Inka merasa aneh,namun ia membiarkannya.


Ketiganya meninggalkan rumah sakit dengan mobil,memecah jalanan ibu kota yang tidak terlalu macet,dan kurang dari satu jam mereka sudah sampai disebuah bangunan tinggi yang cukup megah,Inka menyimpulkan bahwa itu adalah kediaman keduanya .


"Ayo sayang kita turun,kita sudah sampai" ucap ibu Rahmi pada inka


Inka pun menuruti keinginan Rahmi dan mengikuti langkah kaki keduanya. Di depan rumah sudah ada beberapa pegawai yang menyambut kedatangan sang majikan,membuat Inka semakin takjub.


Sesampainya di dalam rumah Inka di persilahkan duduk,dan di tawari minuman untuk membasahi tenggorokannya yang mungkin saja sedang kehausan.


"Sayang kamu mau minum apa?" ucap Bu Rahmi lembut


Inka yang masih terbengong tidak menyahut ucapan Rahmi.

__ADS_1


"Hey,kok bengong?"


"Ehh... maaf Bu"


"Kamu mau minum apa?" tanya kembali Rahmi sambil mengelus kepala Inka


"Apa saja Bu,kalau boleh yang asam-asam"


"Baiklah. Bu buatkan jus jeruk 3 ya. Dan jangan lupa siapkan makan siang yang sehat dan enak" ucap Bu Rahmi memerintah salah satu asisten rumah tangganya


"Baik Bu"


Keheningan terjadi di antara ketiganya,tidak ada obrolan sampai kedatangan salah satu pelayan membawa minuman.


"Nak, silahkan di minum"


Inka menurut dan setelah itu Dia membuka suara untuk menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran,bahkan Inka melupakan kejadian di rumah sakit perihal putra dan penyakit yang ia derita.


"Sebelumnya saya minta maaf sudah lancang untuk bertanya,saya hanya sedikit penasaran kenapa kalian seolah mengenal saya dan apa hubungan saya dengan pak Arya dan ibu?" ucap Inka terus terang.


Ibu Rahmi menarik napasnya cukup dalam,dan ia berjalan ke arah sebuah kamar tanpa menjawab pertanyaan Inka. Beberapa menit kemudian Bu Rahmi kembali dengan membawa sebuah album foto yang lumayan tebal. Inka bingung kembali,kenapa pertanyaan yang ia berikan malah di jawab dengan album foto.


"Lihatlah sayang,maka kamu akan menemukan jawabannya,jika perlu kami akan menceritakan semuanya padamu" Ucap Bu Rahmi memberikan album tersebut


Dengan perasaan bingung Inka mengambil album foto tersebut,melihat lembar demi lembar namun membuatnya semakin bingung. Inka tidak mengenal orang-orang yang ada di foto tersebut, kebanyakan foto itu berisi seorang anak perempuan cantik tak lupa wajah Bu Rahmi mengisi di setiap momennya dan laki-laki yang menurutnya adalah suami Bu Rahmi, kesimpulan Inka itu adalah keluarga Bu Rahmi.


"Saya tidak mengenal orang-orang yang ada di dalam foto ini Bu, sepertinya mereka adalah keluarga ibu. Lalu apa hubungannya dengan saya?" ucap Inka yang merasa tidak menemukan sesuatu.


"Lihatlah sampai akhir nak,mungkin kamu akan mengenal salah satunya" ucap Bu Rahmi


Inka pun menurut,dan betapa terkejutnya Dia saat melihat salah satu foto seseorang yang ia kenali.

__ADS_1


***


__ADS_2