Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST2


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Arumi menjadi nyonya di rumah besar Putra. Arumi melihat kesungguhan Putra yang telah banyak berubah, laki-laki yang dulu bersikap cuek dan dingin kini sudah menghangat dan penuh perhatian. Memberikan kesempatan kedua tidak selalu menjadi trauma,karena dengan memberikan kesempatan kita bisa melihat sajauh mana hubungan itu bisa dipertahankan.


Putra memasak nasi goreng seafood seperti yang di request oleh istrinya. Meskipun bi Hannas sudah menyediakan hidangan untuk sarapan,namun hal itu tidak mengurungkan Putra untuk menyajikan sarapan spesial untuk istri tercintanya. Arumi menikmati masakan buatan suaminya,bahkan ia menambah sampai dua kali. Sepertinya memang benar tenaganya sudah terkuras habis.


"Sayang pelan-pelan makannya," putra menghalau istrinya.


"Iya mas aku sangat lapar,anggap saja baterai ku lowbat,jadi aku sedang mengisi ulang." sahut Arumi sambil mengunyah makanannya


Putra hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Setelah baterainya penuh bisa dong di pake lagi." lagi-lagi putra menggoda istrinya.


Arumi melirik tajam ke arah suaminya "Kamu memang benar-benar menyebalkan mas!"


"Haha,santai sayang mas hanya bercanda saja." ucap putra tertawa menanggapi ucapan istrinya yang sedang sewot


"Tidak lucu!"


**


Sarapan pagi pun sudah selesai,kini keduanya tengah bersantai di ruang keluarga. Putra sudah berusaha menahan rasa penasarannya,ia harus bertanya langsung pada Arumi, bagaimana pun teka-teki di kepalanya harus dipecahkan,dan pastinya dengan mendengar langsung jawaban dari Arumi.

__ADS_1


"Sayang, bolehkah mas menagih penjelasan dari mu?" tanya Putra hati-hati.


Arumi melihat ke arah suaminya "Apa harus sekarang?" tanya Arumi


"Iya sayang,mas menginginkan jawaban itu sekarang juga. Semuanya harus jelas terlebih Arka pasti bertanya mengenai Rafa,selain kamu yang ia harapkan kembali,Rafa adalah salahsatunya. Jadi mas mohon, meskipun berat kamu harus menjelaskannya."


Arumi pun menarik napasnya perlahan,dan mengangguk untuk menyetujui ucapan suaminya.


"Baiklah. Aku bingung harus memulai cerita dari mana,yang jelas semuanya terjadi begitu saja dan aku hanya menjalani semuanya sesuai kehendak yang maha kuasa. Meskipun aku akan tetap menceritakannya..."


"Aku belum pernah menikah dan Rafa bukanlah anakku. Aku dan ayah rafa adalah saudara sepupu, singkat cerita kakak sepupu ku mengalami kecelakaan di tempat kerjanya sampai koma bertahun-tahun. Saat ayah Rafa mengalami kecelakaan, Rafa belum dilahirkan. Keadaan kakak sepupu ku tak kunjung ada perubahan,hingga akhirnya perusahaan menawarkan untuk membawanya berobat ke luar negeri. Hal itu terjadi saat Rafa masih balita ,istri dari kakak sepupuku harus membuat pilihan berat,yaitu menitipkan putra pada ibuku dan aku ikut membantunya ..."


"Waktu berlaku dengan cepat, Rafa semakin hari semakin bertumbuh,ia mulai bersosialisasi dengan banyak teman,sampai waktu dimana salah satu temannya menanyakan perihal ayah pada Rafa,tentu saja hal itu menjadi pertanyaan besar untuk dia,karena disaat teman yang lain berkumpul dengan ayah dan ibunya ,sedang Rafa tidak ada. Aku kesulitan menjelaskan,saat itu aku belum siap menjelaskan yang sebenarnya terjadi,hingga aku bersedia menikah dengan mu waktu itu.."


Putra mendengarkan penjelasan istrinya begitu merasa bersalah, ternyata selama ini istrinya melalui banyak hal yang tidak mudah. Seandainya Putra lebih peka dan mencari tahu semuanya lebih dulu, mungkin ia tidak akan bersikap masa bodi,sadar bahwa ia masih mencintai mendiang istrinya,namun di sisi lain ada wanita yang sedang berjuang dan berkorban untuk kebahagiaan seorang anak.


Putra tidak ingin mendengar lebih banyak lagi cerita dari Arumi, baginya itu sudah cukup menjelaskan situasi sebenarnya. Saat ini ia hanya ingin memeluk istrinya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja,dan dirinya akan selalu ada untuk Arumi.


Saat Arumi akan membuka mulutnya dan menceritakan cerita selanjutnya,Putra langsung membungkam mulut Arumi dengan bibirnya dan setelahnya memberikan pelukan hangat.

__ADS_1


"Cupp .. Sudah cukup sayang,kamu tidak perlu menceritakan lagi,aku sudah sedikit paham dengan situasi yang kamu hadapi. Maafkan kebodohan ku saat itu,dan aku berjanji akan selalu ada di sampingmu selamanya. Aku juga akan berusaha menjadi suami dan ayah untuk anak-anak kita."


Pelukan erat dari Putra dan juga kata-kata manisnya membuat Arumi terharu dan menitikkan air matanya. Ia begitu bahagia ,tidak masalah melewati hari berat saat itu,jika hari ini bisa se membahagiakan ini. Arumi pun mengangguk dan membalas pelukan erat dari suaminya.


Setelah melepas pelukan dari istrinya,putra kembali bertanya.


"Lalu di mana Rafa saat ini?"


"Rafa sudah kembali bersama ayah dan ibunya." ucap Arumi singkat.


Tanpa mereka sadari Arka mendengar semua cerita Arumi bersama neneknya. Awalnya Arka akan langsung menemui kedua orangtuanya, tentunya untuk menanyakan perihal keberadaan Rafa,namun pertanyaan ayahnya membuat Arka menghentikan langkahnya,sampai jawaban demi jawaban yang diberikan Arumi membuat Rafa terkejut,ia pun ikut merasa bersalah, ternyata kehidupan Rafa tidak lebih baik darinya.


***


Bersabar sebentar lagi ya teman-teman,jangan tinggalin aku haha cerita ini akan segera selesai. Aku targetkan sampai 100rb kata,dan saat ini kurang 8k kata lagi.


Terima kasih sudah membersamai cerita ini, meskipun garing dan tidak menarik kalian tetap hadir memberikan dukungan. Aku sudah hampir menyerah namun berusaha nulis lagi.


Aku masih bersyukur memiliki pembaca setia seperti kalian,terlepas ada penghasilan atau tidak. Ibarat jalan itu aku lagi tertatih haha menyelesaikan cerita kacangan saja hampir bertahun.🀦

__ADS_1


Mudah-mudahan selesai akhir bulan ini. Makasih ya semuanya ,jika dekat rasanya ingin memeluk kalian satu persatu hehe. Peluk dan sun pipi dari jauh buat kalian πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2