
Hari itu Putra mengurus Inka dengan baik, seperti suami istri yang saling mencintai, meskipun pada kenyataannya hal itu tidak terjadi. Inka sangat bahagia namun kebahagiaan itu tidak terlalu ia anggap serius,Dia sadar bahwa putra melakukan semua ini karena alasan kemanusiaan bukan cinta.
Selesai memesan bubur dan menyuapi Inka dia pun izin untuk pergi ke sekolah, terlebih Inka sudah menghubungi Hesti untuk menemaninya,Putra khawatir kalau kalau Inka membutuhkan sesuatu namun tidak ada yang membantunya.
"Inka saya harus pergi ke sekolah,saya hanya izin sebentar saja"
"Iya mas pergi saja,aku sudah menelpon Hesti dan dia sedang menuju kesini."
"Baiklah kalau seperti itu, istirahat lah"
"hhmh,apa mas akan pulang malam lagi?"
"Saya usahakan pulang cepat,lagi pula beberapa hari yang lalu sekolah sedang sibuk mempersiapkan turnamen dan juga menghadapi ujian sekolah jadi mau tidak mau saya lembur."
"Apa Bu raya juga ada?" ucap Inka bertanya.
Putra merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Inka.
"Maaf mas, tidak usah di jawab,aku terlalu mencampuri urusan mas,padahal mas tidak menyukainya. Berangkatlah mas,hati hati di jalan." (berasa nyanyi 😁)
"Iya" sahut Putra singkat
Putra pun meninggalkan kamar Inka ,Dia menyadari kesalahannya yang masih berhubungan dengan Raya, meskipun hubungan itu hanya sebatas rekan kerja. Sejujurnya perasaan putra pada raya belum terkikis sepenuhnya. Hanya saja semesta tidak mendukung keduanya untuk bersama.
Raya selalu bersikap agresif dan selalu terang-terangan mendekati Putra,terlebih orang tua Raya tidak lagi memaksakan kehendaknya. Lain halnya dengan Putra yang merasakan ketidak nyamanan,bukan karena tidak ingin di dekati raya, melainkan pandangan orang lain mengenai dirinya yang sudah beristri.
***
Selesai mengawasi ujian sekolah,Putra menemui Raka sahabatnya. Dia ingin meminta bantuan sahabatnya, bagaimana pun caranya Putra harus menjaga jarak dengan Raya, sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Tok tok tok
"Masuk" ucap Raka dari dalam ruangannya
Putra pun masuk kedalam.
"Hey Put,tumben kesini,apa kamu tidak makan siang?" tanya Raka yang masih memeriksa laporan dan menandatanganinya."
__ADS_1
"Belum. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu Rak," ucap putra to the points
"Wah ..wah sepertinya bukan hal biasa nih,ketika seorang Putra Aditya datang keruangan ku,ada apa bro?"
"Rak,apa aku bisa meminta di pindahkan ke sekolah mu yang lain ? rasanya tidak nyaman harus terus bertemu dengan raya sedangkan aku sudah menikah,ya meskipun aku tidak mencintai istriku"
Raka seketika menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Putra.
"Apa kamu serius? tanya Raka
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Ya tidak si,aku si bisa saja memindahkan kamu ke sekolah yang lain,tapi bagaimana kamu menjelaskan pada Raya soal kepindahan kamu yang tiba-tiba?"
"Kedatangan ku kali ini salahsatunya adalah meminta bantuan padamu dan menjelaskan pada raya mengenai kepindahan ku,tanpa dia curiga apapun"
"Emang kenapa si,toh kalian sudah berdamai dengan keadaan,lalu kenapa kamu harus menghindari Raya?"
"Apa jangan-jangan kamu takut jatuh cinta lagi pada Raya"
"Hhmh ,aku sudah menikah Raka,tidak mungkin menjalin hubungan di saat semuanya sudah berbeda. Meskipun perasaanku pada raya masih sama,namun saat ini hal itu sangat terlarang,dan aku berusaha untuk tidak melanggar norma tersebut"
"Sial kau! aku membutuhkan bantuan dan kekuasaan mu bukan ejekan. Segera berikan kabar baik agar secepatnya aku bisa keluar dari sekolah ini"
"Haha santai lah,hidupmu terlalu serius. Jika aku berhasil memindahkan mu ,lalu bagaimana dengan istrimu, bukankah Dia masih kuliah?"
"Aku akan membawanya,soal kuliah bisa pindah"
"Apa dia mau ikut dengan mu?"
"Tentu saja,pada dasarnya anak itu sangat baik dan penurut,hanya saja aku yang belum bisa menerima pernikahan ini. Kamu tahu sendiri bahwa pernikahanku terjadi dalam waktu yang begitu cepat"
"Tapi apa kamu tidak berusaha untuk menerima pernikahan mu?"
"Entahlah. Sudah ya aku hanya ingin menyampaikan hal itu,aku harap kau segera memberikan kabar baik itu"
"Hmmh baiklah,"
__ADS_1
Putra pun meninggalkan ruangan Raka,dan segera kembali ke ruangannya. Saat sampai di depan pintu miliknya ternyata raya sudah menunggunya.
"Put,kamu darimana saja,aku menghubungi mu tapi tidak di angkat?"
"Maaf Ray, hapenya aku silent. Aku tadi ada urusan sebentar"
"Hmmhh baiklah,kita makan siang yuk,aku udah minta bibi masak makanan kesukaan kamu"
"Ray,apa tidak terlalu berlebihan,aku tidak enak sama yang lainnya, bagaimana pun aku sudah menikah Ray,"
Raya terdiam mendengar ucapan Putra,ia merasa telah mendapatkan penolakan dari laki-laki yang sangat dia cintai. Raya menundukkan kepalanya dan menangis,putra yang melihat hal itu pun segera menariknya ke dalam ruangannya karena tidak ingin menjadi bahan pembicaraan di kalangan Asrama.
"Masuklah ke dalam,jangan menangis seperti ini. Aku seperti orang jahat yang sudah menyakiti mu"
Raya pun menurut dan masuk sambil membawa kotak makan yang sudah ia siapkan sejak pagi bersama asisten rumah tangganya.
Setelah berada di ruangan Putra, akhirnya raya tidak bisa menahan laju airmatanya.
"Apakah aku salah jika aku bersikap egois dan ingin merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku,apa aku salah memperjuangkan cintaku,apa aku salah jika berharap kita kembali bersama. Bahkan aku rela menjadi istri kedua mu Put, asalkan aku masih bersamamu " ucap Raya dengan tangisnya
Putra terkejut mendengar ucapan Raya, bagaimana bisa wanita ini berpikiran sempit dan ingin menjadi orang ketiga di antara pernikahannya.
"Jangan ngaco kamu Ray, meskipun aku sangat mencintaimu tapi keadaan kita saat ini sangat berbeda. Aku tidak ingin menjadi laki-laki jahat yang menduakan pasangannya,aku menyadari pernikahan ku tidak di dasari oleh cinta,tapi aku tidak ingin menyakitinya dengan sebuah penghianatan"
"Tapi,Put. Bagaimana dengan aku? aku juga adalah korban dan aku sangat tersiksa karena tidak bisa memiliki kamu,sia-sia aku berkorban untuk hubungan kita,jika aku tetap tidak bisa memilikimu."
"Ini semua takdir yang harus kita jalani, sekuat apapun kita menginginkannya ,semua adalah kuasa yang di atas Ray"
"Apa sudah tidak ada kesempatan untuk ku lagi put?" tanya raya mengiba
Putra terdiam,Dia berada di posisi yang serba salah.
"Entahlah,kita serahkan semuanya pada yang maha kuasa"
"Jika kamu tidak bisa bersikap tegas,lalu mengabaikan aku dan kamu memilih istri mu,lebih baik aku mati saja, untuk apa aku hidup tidak ada gunanya lagi," ucap raya tertunduk dan menangis.
Putra terkejut mendengar ucapan Raya, bagaimana pun gadis dihadapannya ini adalah orang yang nekad,bahkan dia bisa melukai dirinya sendiri.
__ADS_1
**