
Dua bulan berlalu sejak kejadian malam itu Inka memberanikan diri untuk berpisah kamar dengan Putra,ia tak perduli bahwa hal itu akan menjadi pertanyaan Bu Darmi dan suaminya.
Inka berjuang sendiri untuk hidupnya,bahkan beberapa bulan ini putra seolah lupa diri untuk pulang tepat waktu dan menafkahi istrinya, meskipun demikian Inka masih menganggap Putra sebagai suaminya.
Inka mendapatkan pekerjaan sebagai designer pakaian,dia menjual gambarnya dengan harga yang lumayan. Hal itu berkat bantuan pak Arya yang memperkenalkan Inka pada sahabatnya, awalnya Arya melihat sketsa milik Inka gambar yang sudah di hasilkan Inka bukankah gambar receh melainkan layak untuk di kembangkan. Arya memberikan saran kepada Inka untuk membuka butik namun melihat kenyataan yang ada dia menyimpan dulu hal itu.
Kedekatan Arya bukan tanpa alasan melainkan rasa penasaran Arya yang seolah melihat seseorang dalam dirinya. Arya bahkan tau kalau Inka sudah menikah namun dari apa yang dia lihat sepertinya Inka tidak bahagia.
2 bulan belakangan ini kondisi Inka tidak baik-baik saja bahkan sudah beberapa hari Inka bolos kuliah,ketika Bu Darmi menyarankan Inka untuk memeriksakan diri ke dokter Inka selalu menolak,ia berpikir hanya masuk angin saja.
"Mba Inka apa sebaiknya ke dokter saja,wajah mba sangat pucat,selain itu belum ada makanan yang masuk ke tubuh mbak" ucap Bu Darmi membujuk Inka.
"Tidak apa-apa Bu,aku hanya kecapean saja karena banyak tugas kampus nanti juga sembuh,lagi pula aku sudah meminum obat "
"Tapi mbak,saya ko malah kepikiran mbak itu bukan kecapean tapi ..." ucap Bu Darmi terhenti
"Tapi apa Bu?" tanya Inka penasaran.
"Maaf ya mbak,apa saya boleh tau kapan terakhir mbak datang bulan?"
"Hah, memangnya kenapa?"
"Siapa tahu saja mbak terlambat datang bulan,jika itu sampai terjadi bisa di pastikan kalau mbak hamil"
Inka terkejut mendengar penuturan Bu Darmi,karena sejujurnya sudah 2 bulan dia tidak merasakan lagi yang namanya datang bulan,dia pikir itu hal yang biasa karena pernah beberapa kali kejadian itu ia alami karena stress atau kelelahan. Mungkin saja pemicu stres kali ini adalah nasib pernikahannya.
"Aku tidak tahu Bu,nanti aku cek deh."
"Iya mbak sebaiknya di cek saja, untuk awal mbak beli tespek aja di apotek"
"Baik Bu, terima kasih"
Permasalahan pernikahan pun belum menemukan solusi,dan kini Inka harus bersiap menerima kenyataan baru. Begitu banyak ujian yang harus dia terima,tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan menjalaninya.
**
Pukul 9 malam putra baru kembali kerumah dan hanya di sambut oleh Bu Darmi seperti biasa. Akhir-akhir ini putra tidak pernah melihat Inka. Putra sedang hidup dalam dilema antara dua wanita.
Putra lebih memilih menemani raya setiap hari dari pada raya datang menemui ibu dan istrinya untuk menjadi istri kedua. Putra lebih memilih untuk memutar waktu,yang justru mungkin saja akan membahayakan.
Saat Putra masuk kedalam rumah tak lama Inka pun keluar dari kamar tamu lantai bawah. Putra melihat iba pada sosok Inka yang sudah menjadi istrinya, beberapa hari tidak bertemu seolah melihat banyak perubahan,badan yang kurus ,wajah pucat dan lingkar mata yang menghitam.
__ADS_1
"Sudah pulang mas?" tanya Inka sopan
Putra hanya mengangguk .
"Apa kamu sakit?" tanya Putra penasaran
"Aku tidak apa-apa hanya kelelahan saja. Apa mas sudah makan?"
"Apa tidak sebaiknya kamu ke dokter saja. Aku sudah makan tadi sebelum pulang"
Inka menggeleng " Tidak perlu mas,aku baik-baik saja. " "Syukurlah kalau sudah makan,aku lihat mas jarang makan di rumah"
Putra sedikit bingung harus menjawab apa .
"Iya teman ku sering mentraktirku makan jadi sayang jika menolak ajakannya"
"Hhmmhhhh begitu,mas hubungi ibu atau adikmu sepertinya dia merindukan kamu"
"Iya nanti aku akan menghubungi mereka. Oiya boleh minta rekening bank milikmu,aku sampai lupa tidak memberikan mu uang jajan sementara uang kuliahmu sudah lunas untuk 1 semester kedepannya"
"Tidak perlu mas,di bayarkan kuliah saja sudah Alhamdulillah,lagi pula aku selalu di antar pak Diman dan masalah makanan aku selalu membawanya dari rumah. Simpan saja kalau perlu kirim pada ibumu mas"
"Tapi ini kewajiban ku menafkahimu"
Pertanyaan selanjutnya yang membuat Putra mati kutu.
"I__iya"
"Mmhm baiklah,jika tidak ada yang perlu di bantu aku akan melanjutkan tujuanku mengambil air minum"
"Silahkan"
Inka pun melenggangkan kakinya ke arah dapur sedangkan Putra naik kelantai atas untuk menempati kamar tamu disana.
***
Keesokan harinya Inka memberanikan diri untuk pergi ke apotek membeli tespek guna menjawab rasa penasarannya. Jikapun nanti Dia hamil ,Inka akan dengan senang hati merawatnya, meskipun tanpa campur tangan putra.
"Selamat siang ada yang bisa saya bantu" ucap salah satu petugas apotek
"Hmmnh .." Inka terdiam dia bingung harus bicara apa,apalagi penampilan dan usia seperti anak SMA, takut mereka berpikiran kalau Inka hamil di luar nikah.
__ADS_1
"Anu mbak,saya sudah menikah dan ini buku nikah saya dan KTP saya.."
Petugas apotek itu bingung dengan apa yang di lakukan Inka.
"Hhmh maksud saya,saya ingin membeli tespek " ucap Inka satu tarikan nafas
Si mbak apoteker itu tersenyum melihat tingkah Inka.
"Kenapa tidak bilang dari awal mbak,banyak ko wanita seusia mbak datang untuk membeli tespek tanpa menunjukkan surat nikah atau KTP"
"Berarti mereka belum menikah?" tanya Inka penasaran
"Saya tidak tahu,hal privasi itu bukan urusan kami,kami hanya menjual produk saja bukan menjadi Lambe turah hehe"
"Bisa saja si mbak ini"
Mbak itu pun kembali tersenyum.
"Tespeknya mau yang biasa atau yang berkualitas?"
"Hhmhh yang paling akurat aja mbak"
Mbak apoteker itu pun mengerti permintaan Inka,dia mengambilkan tespek dengan merek yang bagus dan sudah terjamin ke akuratannya.
"Ini mbak tespeknya"
"Terima kasih,berapa harganya?"
"Harganya Rp 45.000 "
Inka pun menyerahkan uang dan segera meninggalkan apotek tersebut. Dia pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk,dia ingin segera menuntaskan rasa penasarannya.
Sesampainya di kamar Inka langsung masuk ke dalam kamar mandi,tes kehamilan ini bisa di lakukan pada siang hari tanpa menunggu pagi datang dan keakuratannya sudah terjamin.
Inka sudah menaruh air seninya kedalam cup kecil dan dia pun melakukan instruksi sesuai yang ada di tespek itu. Menunggu beberapa menit,dan Inka masih berdoa dalam hati agar apapun hasilnya adalah yang terbaik.
3 menit sudah cukup bagi Inka untuk melihat hasilnya dan apa yang ia lihat saat ini membuatnya tak bisa membendung air matanya.
***
Dukung seikhlasnya aja.
__ADS_1
Kalo enggak jangan.
Perlu komentar,vote dan like yang jujur dan ikhlas .❤️💕