
Keesokan harinya Arumi melakukan aktivitas seperti biasanya,menyiapkan sarapan dan mengantarkan Aldi dan Rafa ke sekolah.
"Rafa ingat apa yang ibu katakan sebelumnya. Kamu boleh berteman dengan Arka namun kamu harus tau batasan. Kamu cukup memanggil ayah Arka seperti panggilan umumnya, 'Bapak,om,atau Tuan' jangan tidak sopan merubah panggilan khusus hanya karena di izinkan oleh Arka,belum tentu ayahnya suka dengan panggilan kamu" Arumi kembali menasehati Rafa saat akan berangkat ke sekolah.
"Iya Bu,Rafa mengerti" sahut Rafa patuh
Beberapa menit kemudian Arumi sampai di depan gerbang sekolah Rafa, setelah mencium tangan ibunya,Arumi kembali berpesan.
"Ingat ya pesan ibu"
*
Iya Bu"
Suasana sekolah pagi ini tidak seramai hari pertama,banyak orang tua yang menitipkan anaknya ke sekolah. Saat Rafa sudah masuk ke dalam gerbang Arka memanggilnya dari luar,mau tidak mau dia berhenti dan menyapa ayah Arka yang akan mengantarkan anaknya ke dalam kelas.
"Raf ,kamu sudah datang,di antar siapa?" tanya Arka sedikit berlari ke arah Rafa
"Aku di antar ibu" sahut Rafa singkat
Tak lama Putra menghampiri kedua anak tersebut dengan membawa tas milik Arka. Dengan canggung Rafa pun menyapa ayah Arka.
"Selamat pagi om" sapa Rafa yang membuat arka mengernyitkan keningnya
"Kenapa memanggil om,kan kita sudah sepakat kalau ayahku ayahmu juga" Ucap Arka mengingat Rafa kalau-kalau dia lupa.
"Om putra ayahmu,bukan ayahku. Kata ibuku aku tidak boleh berharap pada siapapun kecuali sama Pencipta ku,nanti aku kecewa" sahut Rafa bijaksana
"Tapi kan ayahku juga tidak masalah raf,"
Rafa menggelengkan kepalanya tanda kalau dia tidak mau lagi memanggil ayah Arka dengan sebutan yang sama.
"Sudah sayang tidak perlu di paksakan" ucap Putra menimpali
Putra merasa bersalah mendengar ucapan Rafa,karena memang sejujurnya ia tidak begitu suka saat Rafa memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'. Putra menyadari bahwa kedua anak malang itu sama-sama telah kehilangan orang-orang terkasih dalam hidupnya,dan seharusnya putra memahami situasi ini sedari awal.
"Yasudah Arka,aku masuk kelas lebih dulu ya, soalnya aku kebagian memimpin doa hari ini" ucap Rafa berpamitan
"Tunggu kita masuk kelas bareng"
"Bukannya kamu akan diantarkan oleh ayah kamu?"
Arka menggelengkan kepalanya.
"Ayah,sampai di sini saja. Aku ke kelas bareng Rafa."
__ADS_1
"Baiklah nak,nanti ayah jemput tepat waktu ya? Ada mbak ayu yang akan menunggu kamu di luar kelas,kalau ada apa apa minta tolong mbak ayu saja"
"Baik,ayah"
***
Kegiatan belajar sudah selesai tepat jam 12. Arka dan Rafa pun ke luar kelas secara bersamaan. Putra datang lebih awal untuk menjemput Arka.
"Arka ,ayahmu sudah datang menjemput mu" ucap Rafa yang melihat kedatangan mobil milik Putra.
"Wah cepat sekali. Apa jemputan mu sudah datang Raf?"
"Belum,ibuku sebentar lagi datang. Kamu pulang saja lebih dulu ,aku akan menunggu di pos satpam seperti kemarin"
"Bagaimana kalau kamu ikut dengan ku lagi,kita main ke rumahku" ajak Arka namun langsung mendapatkan gelengan kepala dari Rafa.
"Tidak usah,aku sudah berjanji pada ibu akan menunggu dia sampai datang,kalau ibu tidak bisa menjemput ,nanti tetangga ku yang Akan jemput"
Terlihat raut wajah kecewa Arka,baru saja menemukan teman yang membuatnya nyaman untuk di ajak bermain , namun Rafa kini seolah menjaga jarak dengan dirinya.
Rafa menyadari hal itu,dan langsung memberikan saran lain,toh ibunya sudah mengijinkan Arka untuk main ke rumahnya.
" Bagaimana kalau kamu saja yang main ke rumahku?" ajak Rafa pada Arka.
Wajah murung Arka seketika berubah,dan dia meminta izin pada ayahnya,dan dengan berat hati putra pun mengizinkan Arka bermain di rumah Rafa.
Setelah kembali menitip pesan pada satpam yang berjaga ,bahwa Rafa akan di antar pulang ke rumahnya langsung,mereka pun meninggalkan pelataran sekolah menuju rumah Rafa. Di dalam mobil mereka asik bercengkrama, tentang pelajaran bahkan tontonan kartun yang sedang mereka gemari.
"Apa rumah mu masih jauh Rafa?" tanya Arka
"Sebentar lagi sampai,dari jalan utama ini masuk ke gang sebelah kanan. Gang nya cukup besar kok bisa masuk dua mobil,jadi om putra tidak perlu khawatir mobilnya lecet karena bertabrakan dengan mobil lainnya" ucap Rafa menjelaskan situasi tempat tinggalnya
Putra hanya tersenyum,padahal tidak sedikitpun terlintas dipikirannya untuk mempermasalahkan jalan yang sempit atau mobil yang lecet.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai disebuah rumah sederhana, pelatarannya cukup luas,tidak ada gerbang seperti di rumah Arka namun suasana cukup asri karena banyak pohon rindang ,sungguh menyejukkan. Rafa mempersilahkan keduanya duduk di sebuah bangku kayu yang ada di depan rumahnya,sambil Rafa mengambil kunci di dalam tas miliknya. Semua anggota keluarga memilik kunci masing-masing,karena dalam keadaan darurat mereka bisa masuk ke dalam rumah tanpa harus mendobrak.
Setelah Rafa berhasil membuka pintu,dia 0un mempersilahkan ketiganya masuk.
"Arka,om putra dan mbak ayu silahkan masuk" ucap Rafa mempersilahkan ketiganya masuk ke dalam rumah.
Mereka pun masuk kedalam rumah sederhana itu,rumah yang hanya memiliki 3 kamar,1 ruangan tamu dan keluarga yang bercampur, dapur dan ruang makan yang menyatu tak jauh dari dapur terdapat 1 kamar mandi. Rafa datang dari dapur membawa nampan berisi 3 gelas air mineral dan 1 piring brownies buatan sang ibu.
"Silahkan di minum,dan ini kue buatan ibuku,kebetulan dia bekerja di toko kue. Kue buatan ibu sangat enak, pasti suka" ucap Rafa mempromosikan kue buatan sang ibu.
"Benarkah?" tanya Arka
__ADS_1
"Hmmh coba saja"
Ketiganya pun mencicipi kue yang di bilang Rafa enak,dan benar saja ketiganya pun setuju dengan apa yang di katakan Rafa.
"Wah benar enak kue buatan ibu den Rafa" ucap mbak ayu memuji
Rafa hanya tersenyum , sementara Arka dan Putra yang sama-sama pencinta brownies tampak menikmati suapan demi suapan brownies yang lumer di mulut keduanya. Rafa nampak bahagia melihat mereka menyukai kue buatan sang ibu.
"Arka,ayah harus kembali ke kantor asisten ayah menelpon,katanya ayah ada pertemuan penting sore ini. Mau langsung pulang atau bagaimana?" tanya putra pada Rafa
"Apa aku boleh di sini saja yah,nanti setelah pekerjaan ayah selesai ayah bisa menjemput aku dan Mbak ayu" ucap Arka berharap sang ayah mengizinkan.
"Hmmh baiklah kalau begitu,apa tidak merepotkan Rafa dan keluarganya?"
"Tentu tidak om,lagi pula Rafa hanya sendiri di rumah. Biasanya ibu pulang pukul 3 sore"
"Baiklah kalau seperti itu ayah pamit dulu ya,Yu kamu jaga anak-anak ya" ucap putra berpamitan sambil menitipkan anak-anak pada ayu.
"Baik pak"
Saat putra akan keluar dari rumah Rafa tiba-tiba Rafa menghentikan langkahnya.
"Om tunggu sebentar" ucap Rafa
Rafa pun langsung berlari ke dalam rumah,tak lama kemudian dia membawa sebuah kotak yang sudah di bungkus plastik.
"Ini om,pasti om belum makan siang" ucap Rafa sambil menyerahkan bungkusan plastik pada putra,putra bingung harus menerima atau menolaknya.
"Ini apa raf?" tanya putra penasaran
"Itu brownies buatan ibu om, sepertinya om sangat menyukai brownis"
"Kami memang sangat menyukai brownis" timpal Arka
Putra pun tersenyum.
"Apa ibu tidak marah kuenya di berikan pada om?" tanya putra memastikan
Rafa pun menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
"Ibuku tidak akan marah ,dia malah senang kalau makanan buatannya habis di makan"
"Baiklah kalau seperti itu, brownies nya om bawa ya, terima kasih"
Rafa pun mengangguk.
__ADS_1
Putra pun meninggalkan pelataran rumah Rafa. Tak lama tetangga yang ditugaskan menjemput Rafa datang untuk memastikan bahwa Rafa benar-benar sudah pulang.