
"Jika kamu tidak bisa bersikap tegas,lalu mengabaikan aku dan kamu memilih istri mu,lebih baik aku mati saja, untuk apa aku hidup tidak ada gunanya lagi," ucap raya tertunduk dan menangis.
Putra terkejut mendengar ucapan Raya, bagaimana pun gadis dihadapannya ini adalah orang yang nekad,bahkan dia bisa melukai dirinya sendiri.
"Jangan pernah mengancam ku dengan tindakan bodoh mu, bagaimana pun semua ini sudah terjadi. Bukan aku yang mengkhianati mu, bukan aku juga yang meninggalkan mu,tapi keadaan tidak berpihak pada kita"
"Tapi kesalahan mu adalah tidak memperjuangkan aku,aku merasa berjuang sendirian dan kamu malah memilih menikah dengan gadis itu!"
"Apa kamu lupa,bahwa kamu yang memutuskan hubungan kita, sedangkan kamu tahu bahwa ibuku menginginkan aku segera menikah, lucunya semesta seperti berpihak dan mempertemukan kami di rumah sakit,dari sanalah awalnya pernikahan itu terjadi"
"Tapi kamu kan bisa menolaknya!"
"Apa kamu pikir aku akan tega membuat kecewa orang yang melahirkan aku. Sama seperti kamu yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan orang tua mu,aku pun demikian"
Raya tertunduk mendengar ucapan Putra, bagaimana pun hancurnya hubungan mereka adalah karena restu dari orang tua raya yang terlambat diberikan pada keduanya. Raya tidak ingin menyerah begitu saja, sedangkan putra tidak ingin menjadi pengkhianat dengan terus bertemu raya,karena dirinya sadar bahwa ia menikahi wanita tanpa cinta dan tidak ingin menyakitinya untuk yang kedua kalinya.
Putra tetap menghargai Raya dan menyantap makan siang yang sudah dibawanya,anggap saja makanan perpisahan.
"Sudahlah jangan menyesali semua yang terjadi,lebih baik kita introspeksi diri dan menjalani kehidupan ini dengan baik,toh semuanya terjadi atas kehendak yang maha kuasa. Bukalah makanan yang kamu bawa,kita makan bersama."
Raya pun menghentikan laju airmatanya dan mulai menata makanan yang ia bawa, setidaknya Putra masih mau makan bersamanya,dan untuk urusan asmara keduanya raya akan memikirkan caranya nanti.
Setelah makan siang selesai dan mereka kembali pada aktivitas masing-masing. Putra membulatkan tekadnya untuk minta di pindahkan ke luar kota,karena Putra pun merasa takut kalau perasaannya akan goyah jika terus melihat raya dengan segala perhatiannya,lalu bagaimana dengan Inka.
***
Pukul 5 sore Putra kembali ke rumahnya dan melihat istrinya yang sudah lebih baik,Inka tidak sendirian ada Hesti sahabat Inka yang menemaninya.
"Mas,kamu sudah pulang?" tanya Inka ketika melihat suaminya datang.
"Hmmh,apa kamu sudah makan dan meminum obat mu?"
"Sudah mas,tadi Hesti membuatkan aku bubur."
"Syukurlah"
Saat suami istri itu sedang bercengkrama,Hesti memutuskan untuk pulang. Dia tidak enak berada di antara keduanya.
"Inka,aku pamit pulang ya. Ini sudah sore,ibuku pasti khawatir"
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih sudah menemani ku seharian, titip salam untuk ayah dan ibumu"
"Baiklah,lekas sembuh ya,biar kita bisa berkumpul kembali"
"Iya, terima kasih"
Keduanya pun berpamitan tak lupa Hesti pun pamit pulang pada Putra.
"Terima kasih sudah menemani Inka seharian,dan maaf sudah merepotkan kamu" ucap Putra pada sahabat istrinya.
"Iya pak, sama-sama"
**
Setelah hesti pamit pulang,Putra pun duduk di sofa yang sama dengan Inka.
"Mas mau minum apa ? biar ku buatkan"
"Tidak usah,saya tadi sudah minum air mineral. Oiya saya ingin membicarakan sesuatu sama kamu" ucap Putra terus terang.
Inka pun menatap ke arah suaminya, sepertinya apa yang akan di sampaikan Putra adalah hal yang serius.
"Apa jika nanti saya di pindahkan mengajar kamu akan keberatan?"
Inka sedikit terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Maksud mas apa?"
"Saya memutuskan untuk pindah keluar kota dan mengajar disana"
"Tapi kenapa tiba-tiba mas,apa mas juga akan meninggalkan aku di sini?" ucap Inka yang sudah merasa sedih.
"Jika kamu ingin ikut bersama saya,maka saya akan mengajak kamu, itupun kalau kamu mau"
Inka yang sudah menundukkan kepalanya, perlahan melihat ke arah suaminya.
"Bagaimana dengan kuliah ku mas?"
"Kalau kamu memutuskan untuk ikut dengan saya,kita urus kepindahan kuliah mu"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan orang tua kita?"
"Mereka pasti akan memahami, terlebih kita sudah menikah,toh kita pindah juga bukan untuk selamanya tapi untuk sementara."
"Hmmh baiklah karena sekarang aku sudah menjadi istri mu maka aku akan ikut kemana pun kamu pergi."
"Syukurlah,"
**
Putra sudah berhasil mengajak Inka untuk ikut bersamanya, selanjutnya Dia akan menunggu kabar dari Raka. Keduanya pun sudah berada di kamar masing-masing. Inka berharap keputusan yang Dia ambil adalah yang terbaik, terlebih mereka akan tinggal di tempat asing hanya berdua saja.
"Aku berharap keputusan ku ikut dengan Mas Putra adalah yang terbaik,dan semoga saja mas putra bisa mencintai aku sepenuhnya"
Pukul 8 malam Raka menelpon Putra,ia mengabari perihal keputusan pemindahan Putra. Sudah di putuskan bahwa Putra akan dipindahkan ke kota S,menurut Raka hanya sekolah itu yang cocok untuk Putra selain itu di sana memang sedang membutuhkan tenaga pengajar yang profesional, sekaligus untuk membantu melatih tenaga pendidik di sana.
"Halo Put,aku sudah dapat tempat yang cocok untuk kamu bersembunyi dari raya ,selain itu sekolah milik ayah ku itu membutuhkan tenaga pengajar yang profesional."
"Syukurlah,terima kasih Rak, aku berharap kamu menyembunyikan kabar ini dari orang-orang termasuk raya. Aku akan menghindarinya sebisa mungkin. Beri aku waktu 1 Minggu untuk mengurus kepindahan kuliah Inka,dan juga izin pada keluarga besar kami."
"Kenapa kisah cintamu serumit ini Put,harus berpisah dengan wanita yang di cintai,selain itu harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintai,dan sekarang harus main petak umpet untuk menyelamatkan kehidupan dan perasaan mu juga. Ahh aku ngomong apa si, omongan aku aja ribet banget" ucap Raka menjabarkan kehidupan miris sang sahabat.
"Entahlah aku pun tidak tahu, mungkin ada rencana yang indah di depan nanti"
"Aamiin,yasudah lanjutkan aktivitas mu,aku hanya ingin mengabari hal itu,jangan terlalu memikirkan tempat tinggal dan yang lainnya, kehidupan kalian di sana sudah disiapkan. Ada rumah dinas, sebenarnya itu rumah kami saat sedang berkunjung kesana,cuma sayang kalo selalu kosong,jadi kalian berdua tinggal mengisi saja,akan ada sepasang suami istri yang mengurus rumah itu."
"Apa kamu serius?" tanya Putra tidak percaya
"Memang sejak kapan aku suka bercanda masalah seperti ini."
"Hmmhh,baiklah. Yasudah terima kasih ya bro"
"Iya sama-sama,semoga kepindahan kalian membawa berkah dan ada kabar baik dari kalian. Segera beri aku keponakan."
Putra pun langsung menutup telpon sahabatnya,karena menurutnya apa yang di ucapkan Raka adalah hal yang tidak penting.
***
Aku baru saja melakukan pembersihan GC bukan so ngartis atau gimana, penghuninya lebih dari 200 tapi yg aktif orang-orang yang sama. Aku harap kalian yang gabung ke gc aku adalah para pembaca yang senantiasa mendukung dan memotivasi aku.
__ADS_1