
Hari hari yang aku jalani tidaklah mudah,aku lebih suka saat aku belum mengetahui kalau aku bukan bagian dari keluarga ini, meskipun aku tahu ayah adalah ayah biologis ku,namun tetap saja aku merasa menjadi orang asing dirumah ini.
Seminggu lagi ujian ku akan dilaksanakan,sejak awal bulan yang lalu aku libur melipat kertas untuk dijadikan tas produk kecantikan,aku fokus belajar agar mendapatkan nilai yang bagus dan bisa ikut program beasiswa. Aku bertekad ingin mandiri tanpa menyusahkan ayah ataupun yang lainnya.
Pukul 7 malam setelah shalat isya aku menyiapkan buku untuk belajar, tiba-tiba adikku Maudy memanggil ku untuk makan malam.
"Kak,sudah waktunya makan malam ayo ayah dan yang lainnya sudah menunggu" ucap Maudy
"Kalian makan lebih dulu saja,kakak masih kenyang tadi pas disekolah teman kakak ada yang ulang tahun ,kakak di traktir makan" ucap ku berbohong
"Itu kan tadi siang kak, sekarang sudah malam"
"Tadi sore dek,kan kakak pulang jam 5 sore. Kalian makan duluan saja ya,kakak mau belajar untuk persiapan ujian" ucapku seolah menyuruh Maudy pergi tanpa bertanya apapun lagi.
"Yasudah nanti aku sampaikan pada yang lainnya" sahut Maudy dan pergi meninggalkan kamar milikku
**
Tak berapa lama kemudian Ibu datang atas perintah ayah,dia memasang wajah masam dan tidak bersahabat, membuatku sedikit ketakutan ditambah lagi ucapannya yang sedikit menyakitkan.
"Hentikan aktivitas mu dan makanlah! jangan mencari perhatian dengan bersikap seperti ini,kamu bukan anak kecil lagi yang harus disuapi saat makan, merepotkan!" ucap ibu terus terang membuatku kehabisan kata-kata untuk menyahut ucapannya
"Inka masih kenyang Bu,tadi temanku ulang tahun dan mereka mengajakku makan" ucapku pelan sebisa mungkin tidak membuat ibu curiga.
"Terserah sudah makan atau belum,yang jelas hari ini kami harus makan bersama kami di meja makan,itu perintah ayah!" ucap ibu dan langsung meninggalkan kamarku.
__ADS_1
Mau tidak mau aku menghentikan aktivitas belajar ku dan mendatangi meja makan,mereka belum memulai makan malam sebelum semua anggota keluarga berkumpul.
Aku duduk dimeja makan bersama mereka, Ayah tidak mengatakan apapun dan acara makan berjalan seperti biasanya.
Aku mengambil lauk sederhana saja dengan nasi setengah centong,tempe goreng dan sayur bayam sudah itu saja. Tatapan mata ayah melihat kearah piringku,aku yang di tatap merasa canggung dan juga takut,seolah tak menyadari aku memilih memakan makanannya dengan lahap.
Selesai makan malam dan membereskan semuanya aku pun kembali ke kamar,saat aku membuka buku yang aku baca ayahku masuk ke dalam kamar.
"Kamu belum tidur?" tanya ayah yang duduk di atas tempat tidur ku
"Belum yah,aku sedang belajar seminggu lagi ujian sekolah akan dilakukan" sahutku yang masih fokus pada buku pelajaran
"Ka apa kamu sedang sakit? ayah perhatikan sudah 2 hari makan mu sedikit,radang mu belum sembuh?" tanya ayah bertubi-tubi sampai aku bingung harus menjawab yang mana
"Apa perlu kita kerumah sakit, supaya radangmu cepat sembuh. Ayah perhatikan semakin hari tubuhmu semakin kurus,apa ada persoalan yang ayah tidak tahu?" tanya kembali ayah seolah menjadi wartawan
"Tidak perlu yah, sebentar lagi juga sembuh. Masalah badanku yang menurut ayah mengecil mungkin karena aku sibuk belajar dan sebelumnya aku bimbel setiap hari jadi waktu istirahat ku sedikit berkurang" sahutku mencari alasan yang masuk akan
"Kamu harus jaga kesehatan ka,jangan terlalu kecapean,kalau kamu sakit siapa yang menjaga kedua adikmu" ucap ayah membuatku tersenyum miris ,aku pikir perhatian ternyata ayah mengkhawatirkan kedua anaknya
"Iya yah,aku tidak akan sakit" sahutku singkat dan tak ingin membalas ucapan ayahku panjang lebar
"Apa kamu sudah menentukan sekolah selanjutnya,katakan saja kamu ingin sekolah dimana ayah akan mengabulkannya" ucap ayahku selanjutnya menawarkan sekolah yang ingin aku masuki
Ayahku andai saja aku sepenuhnya bagian dari kalian aku akan dengan senang hati menerima setiap perlakuan kalian,namun aku ini hanya benalu,mana mungkin aku akan menerima begitu saja.
__ADS_1
"Yah apa aku boleh meminta sesuatu?" tanyaku ragu
Ayahku pun menganggukkan kepalanya.
"Ayah aku akan mengajukan permohonan beasiswa ke sekolah agar aku bisa masuk SMA tanpa biaya dan wali kelasku sudah membantu dan dia bilang in syaa Allah aku akan mendapatkannya,karena yang mengajukan tidak banyak. Dan aku ingin minta izin pada ayah untuk mandiri,aku ingin ngekos yah,apa boleh?" tanya ku mengeluarkan uneg-uneg
Ayah terdiam mematung ,ada wajah kemarahan yang tersirat namun hal itu masih dia sembunyikan,aku yakin ayah akan menentang ide gilaku ini.
"Jangan bertingkah macam-macam Inka,ayah masih mampu membiayai sekolahmu tanpa harus kamu mengajukan beasiswa sekolah,dan lagi untuk apa kamu mau mengekos rumah ini cukup besar untuk kamu tinggali,ayah tidak ingin mendengar hal ini lagi"
"Tapi yah ..."
"Kenapa anak yang belum dewasa seperti kamu bisa berpikiran untuk mengekos,apa kamu ingin bebas dan berkeliaran seperti anak nakal diluar sana,apa kamu merasa terkekang di rumah ini? Kamu ini masih tanggung jawab ayah jangan berpikir aneh-aneh sekolah saja yang benar!" ucap ayah dengan nada tinggi dan penuh kemarahan
Aku tak bisa lagi menahan air mata ku,tanpa izinku dia menetes begitu saja. Ayah masih dengan posisinya menyilangkan kedua kakinya sambil duduk dan sesekali membenarkan posisi kacamatanya.
"Ayah juga ingin menanyakan masalah pengeluaran Tabungan/ATM pendidikan yang ayah beri pada masing-masing anak ayah,kenapa hanya milikmu yang tidak berkurang banyak? ayah lihat hanya ada beberapa kali yang keluar dengan keterangan pembelian buku,apa sekolahmu tidak ada pembayaran dan kegiatan yang membutuhkan biaya?" tanya Ayah yang membuatku kebingungan menjawab
Aku tertunduk bingung harus menjawab apa, karena memang selama ini aku sekolah dengan beasiswa jadi hampir seluruh pembiayaan ditanggung oleh pihak sekolah,aku pun tidak memberi tahu ayah perihal ini,karena ayah pasti tidak suka.
"Jawab Inka! jangan cuma diam saja" ucap ayah dengan nada tingginya
Dengan rasa takut aku pun menjelaskan semuanya,ayah seolah terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Aku tahu dia pasti kecewa dengan tindakan ku,namun aku sudah siap menghadapi hal itu,karena aku merasa yang kulakukan adalah tindakan positif bukan hal yang memalukan.
Ayah meninggalkan kamarku tanpa sepatah kata pun,bahkan dia membanting pintu kamar ku dengan kencang.
__ADS_1