Surat Terakhir

Surat Terakhir
Ucapan Putra STS2


__ADS_3

" Nak, besok-besok ibu janji tidak akan terlambat lagi untuk menjemput mu,ibu tidak enak merepotkan orang lain baru pertama masuk sekolah pula" ucap Arumi sambil mengelus rambut Rafa.


"Mereka baik ko Bu,aku suka berada di sini apalagi ada ayah putra" sahut putra polos yang membuat Arumi mengernyitkan dahinya karena sebutan Rafa ,yang memanggil orang lain ayah.


"Rafa,manggil ayah sama siapa? Jangan sembarangan menyebut orang lain ayah, takutnya mereka tidak senang dipanggil seperti itu."


"Kata Arka,Rafa boleh manggil ayahnya dengan panggilan yang sama"


"Tapi tetap saja tidak boleh raf.."


"Boleh ko Tante tidak apa-apa,Rafa boleh manggil ayah aku ayah" sahut Arka menimpali ucapan Arumi.


Arumi terkejut dengan kedatangan seorang anak seumuran Rafa dan laki-laki dewasa yang bisa dipastikan adalah ayahnya. Sejak kapan mereka berada di sana? Arumi pun langsung berdiri dan sedikit menoleh ke arah Rafa untuk bertanya mengenai siapa mereka.


"Itu Arka teman Rafa Bu dan di sebelahnya adalah ayah Putra"


Arumi pun menganggukkan kepalanya.


"Selamat sore Tante, perkenalkan aku Arka dan ini ayah ku" sapa Arka memperkenalkan diri dan juga ayahnya


"Selamat sore Arka,Pak Putra. Perkenalkan saya adalah Arumi ibu dari Rafa"


Putra hanya mengangguk dan tetap berdiri di posisinya.


"Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih,karena bapak sudah mengajak anak saya untuk ikut bersama bapak,karena kelalaian saya yang terlambat menjemput Rafa" ucap Arumi penuh penyesalan.


"Sebenarnya tidak masalah bagi saya,karena saya pun sering terlambat untuk menjemput anak saya. Tapi setidaknya suruh seseorang untuk menjaganya selama di sekolah seperti pengasuh atau orang terdekat. Hari ini mungkin nasib anak anda sedikit beruntung karena anak saya menyarankannya untuk ikut,saya tidak bisa jamin besok-besok. Saya harap anda lebih memperhatikan anak anda lagi" ucap Putra sarkas membuat Arumi dan kedua anak itu sedikit terkejut terlebih Arumi dan Rafa.


Arumi merasa teriris mendengar ucapan dari Putra. Dia tidak tahu perjuangannya untuk bertahan hidup seperti apa,mudah baginya memperkerjakan orang lain,tapi bagi Arumi tentu saja tidak.


Sedangkan Arka merasa malu dengan ucapan sang ayah, bagaimana mungkin sang ayah bisa berkata tidak mengenakan dengan selancar itu tanpa menjaga perasaan orang lain.


"Maafkan saya pak. Saya berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi,dan saya akan memberi pengertian pada anak saya untuk tidak lagi merepotkan orang lain. Sekali lagi terima kasih pak,nak Arka. Kami pamit pulang" ucap Arumi meninggalkan keduanya.


Setelah kepergian keduanya,Arka pun kembali kesepian,dan menyesali kata-kata yang sudah di ucapkan ayahnya.


"Kenapa kata-kata ayah begitu bijaksana dalam menyakiti orang lain. Baru saja aku senang mendapatkan teman baru,tapi ayah sudah merusaknya" ucap Arka tanpa memandang lawan bicaranya.

__ADS_1


"Ayah tidak bermaksud begitu nak,ayah hanya tidak suka ketika melihat orang tua yang menelantarkan anaknya tanpa penjagaan.."


"Kenapa ayah bisa menyimpulkan seperti itu,bisa saja ibunya sedang sibuk atau ada kendala lain. Bagaimana kalau Rafa tidak mau lagi berteman dengan ku?" ucap Arka membuat putra serba salah


"Maafkan ayah sayang. Apa yang harus ayah lakukan untuk memperbaiki semuanya?" Putra berusaha membujuk anaknya,karena ia selalu berusaha membahagiakan anak semata wayangnya.


Arka nampak berpikir,dan tak lama dia menemukan ide untuk memperbaiki semuanya.


"Baiklah,aku akan memaafkan sikap ayah hari ini,tapi ada syaratnya"


Putra mengernyitkan keningnya.


"Syarat apa sayang?"


"Hmmhh,kita harus meminta maaf secara langsung kepada Rafa dan ibunya. Besok luangkan waktu ayah ,kita harus datang langsung ke rumah Rafa" ucap Arka membuat putra sedikit terkejut. Dia merasa tidak melakukan kesalahan,ia hanya mengatakan apa yang menurutnya benar.


"Tapi nak,apa harus seperti itu?" sahut putra ragu-ragu


"Iya ayah. Kalau ayah tidak mau juga tidak apa-apa,aku tidak masalah, tidak diantar jemput sekolah oleh ayah,toh masih ada supir dan mbak ayu yang menjaga ku" Ancaman Arka yang membuat putra tidak bisa berkutik,karena sejak awal dia memang berusaha untuk merawat anaknya sendiri meski tetap mengandalkan orang lain.


"Baiklah baiklah kita akan ke rumah teman mu itu,tapi Sekarang kamu janji sama ayah tidak marah lagi"


***


Di lain tempat Rafa dan Arumi sudah sampai di rumahnya, setelah membersihkan diri Arumi langsung menyiapkan makan untuk Rafa dan Aldi.


"Ibu tidak kembali lagi ke tempat kerja ibu?" tanya Rafa hati-hati,karena ia tahu ibunya sedang kesal.


Arumi hanya menggelengkan kepalanya,ia takut terlalu banyak bicara malah menyakiti Rafa. Bagaimana pun ini bukan salah Rafa,namun kata-kata laki-laki yang merupakan ayah dari teman Rafa begitu menyakitkan.


"Makanlah," ucap Arumi singkat


"Rafa sudah makan Bu di rumah Arka" ucap Rafa tak lama Arumi menghentikan gerakannya untuk menuangkan nasi ke piring milik Rafa dan meninggalkan meja makan.


Rafa terkejut mendapati sikap sang ibu,Dia akan berusaha meminta maaf agar semuanya kembali seperti semula.


Rafa mengetuk pintu Arumi berkali-kali,bahkan tangisnya yang tertahan tak bisa lagi di bendung. Saat Rafa sedang mengetuk pintu Arumi,Aldi baru kembali dari sekolahnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa boy?" tanya Aldi dengan panggilan kesayangannya


"Paman,ibu sepertinya marah sama Rafa" sahut Rafa mengadu


"Memangnya kamu melakukan kesalahan apa?" tanya Aldi


Rafa menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini bagaimana,tidak mungkin ibumu tiba-tiba marah hanya karena masalah sepele"


"Aku hanya ikut dengan teman sekolahku kerumahnya, soalnya ibu terlambat menjemput ku" Rafa menceritakan peristiwa yang menurutnya itulah yang menjadi penyebab Arumi marah.


Aldi merasa heran,apa mungkin sangkaka akan marah hanya karena hal seperti itu.


"Apa kamu yakin hanya karena itu?" tanya Aldi kembali


"Iya paman"


Sedangkan Arumi sedang menahan tangisnya mendengar percakapan antara Rafa dan Aldi.


"Maafkan ibu Rafa,kamu tidak salah. Ibu hanya terlalu letih dengan semuanya,bahkan kedua tangan ibu dan rasa percaya ibu untuk mengurus kamu sendiri nyatanya tidak mudah. "


"Ya sudah,biarkan ibumu sedikit lebih tenang,nanti kita bujuk bersama. Paman akan membersihkan diri terlebih dahulu,badan paman bau keringat. Kamu jangan duduk di lantai seperti ini, duduklah di sofa itu" ucap Aldi sambil menunjuk tepat duduk yang tidak jauh dari kamar sang kakak.


"Baik paman"


"Anak pintar"


**


Saat azan magrib berkumandang,Arumi pun keluar dari kamarnya,hal pertama yang ia lihat adalah Rafa tak lama Aldi ke luar dari kamarnya dengan pakaian lengkap seperti Koko dan celana bahan hitam di atas mata kaki.


Melihat wajah sang kakak yang sedikit sembab, akhirnya Aldi lebih memilih mengajak Rafa untuk pergi ke masjid.


"Boy,kita pergi berjamaah ke masjid yang ada di depan komplek kamu mau? pulangnya kita beli kebab kesukaan mu" ajak Aldi pada keponakannya untuk menghindari kecanggungan yang ada.


Rafa sempat menolak namun akhirnya dia bersedia.

__ADS_1


Keduanya kini sudah selesai menjalankan shalat Maghrib,saat Aldi dan Rafa sedang menggunakan sendalnya terdengar seseorang memanggil salah satunya.


"Kamu shalat di sini?" .


__ADS_2