
Setelah Arumi berhasil membujuk Arka, akhirnya keduanya pun keluar dari kamar Arka. Putra yang sudah khawatir dengan Arka langsung berhambur memeluk sang anak,ada rasa penyesalan dalam dirinya saat tidak bisa mengabulkan keinginannya,bukan tak penyayangi Arka,Putra hanya belum siap menjalani hubungan pernikahan dengan keadaan hatinya masih belum melepas Inka.
"Sayang,kamu sudah membuat ayah khawatir. Maafkan ayah ya nak,ayah janji akan berusaha memenuhi keinginan kamu." Putra memeluk Arka dengan sangat erat,tak bisa dipungkiri bahwa Arka adalah nyawa putra saat ini.
Arumi yang melihat pemandangan itu pun begitu terharu, ternyata laki-laki dingin yang ia lihat selama ini adalah seorang ayah yang manis. Setelah cukup lama melihat keduanya akhirnya Arumi berpamitan untuk menjemput Aldi dan juga Rafa.
"Maaf saya mengganggu pak Putra dan Arka,saya ingin pamit lebih dulu karena harus menjemput Aldi dan Rafa" ucapnya yang membuat ayah dan anak tersebut melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Arumi.
"Memangnya paman dan Rafa kemana ,Bu? Kok di jempu segala" tanya Arka penasaran
"Mereka sedang berada di bazar nak,setiap Minggu kami pergi kesana untuk menjajakan kue yang ibu buat, Alhamdulillah buat tambahan jajan sekolah " kata Arumi menjawab pertanyaan Arka
"Wah sepertinya seru ya Bu,apa Arka juga bisa pergi ke sana?" Wajah Arka berbinar ketika mendengar Arumi menjelaskan kegiatan weekend keluarga mereka,Arka begitu antusias untuk ikut.
Arumi ragu untuk menjawab dan melihat ke arah putra. Putra yang di tatap Arumi pun mengangguk seolah memberi jawaban bahwa dirinya mengizinkan Arka ikut bersama mereka.
"Tentu saja ,sayang. Kamu boleh ikut bersama kami,tapi sayang Jam segini bazarnya sudah tutup, bagaimana kalau Minggu besok saja?" Tawar Arumi yang langsung diangguki oleh Arka
"Janji ya Bu, Minggu besok Arka boleh ikut?" Ucap Arka memastikan ucapan Arumi
"Tentu saja sayang,nanti kamu bisa bermain dengan Rafa di sana. Untuk sekarang ibu pamit dulu ya,kamu harus makan dan jangan lupa makan brownies yang ibu bawa,kalau kurang Arka bisa main ke rumah ibu,nanti ibu kasih yang banyak buat Arka "
Arka pun mengangguk "Baik Bu,Arka pasti makan brownies yang ibu bawa. Ibu tahu tidak? Ayah juga suka brownies loh Bu"
"Wah kalian memang seperti kembar. Ibu senang mendengarnya kalau kue buatan ibu diminati oleh banyak orang termasuk kamu"
"Habis enak si,iyakan Ayah?" Tanya Arka meminta persetujuan ayahnya
Putra yang ditodong pertanyaan dadakan pun terkejut dan bingung harus menjawab apa,karena sejujurnya Putra memang menyukai brownis buatan Arumi.
__ADS_1
"I ...iya sayang, brownies nya enak" sahut putra gugup
"Yasudah kalau begitu saya permisi lebih dulu, assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam,hhmh Bu Arumi terima kasih atas bantuannya" ucap Putra berterima kasih
Arumi pun mengangguk dengan senyuman manis di bibirnya, pertanda Arumi menerima ucapan terima kasih dari Putra,ia senang bisa membantu.
**
Hampir azan ashar Arumi baru sampai di bazar,keadaan bazar sudah hampir sepi tinggal beberapa pedagang yang sedang merapikan dagangannya untuk di masukan ke dalam mobil. Sedangkan Aldi dan Rafa sedang duduk manis di warteg dekat tempat mereka jualan.
"Assalamualaikum,maaf ya kalian pasti menunggu, soalnya tadi ada misi penyelamatan dulu" ucap Arumi menjelaskan perihal keterlambatannya menjemput keduanya
Sedangkan Aldi dan Rafa menatap Arumi bingung,apa yang di maksud misi penyelamatan? Apa Arumi baru saja menjadi pahlawan yang menyelamatkan bangsa dan negara,hhmh entahlah.
"Wa'alaikumussalam,tidak apa apa kak,bazar hari ini rame,jadi banyak pedagang yang belum membereskan barang dagangannya"
"Lalu bagaimana penjualan hari ini Al?"
"Alhamdulillah kak,kue yang kakak buat terjual ludes,bahkan ada beberapa pesanan yang meminta di bawakan Minggu besok"
"Alhamdulillah,banyak pesanannya?"
"Ada sekitar tujuh orang kak yang memesan, masing-masing berbeda jumlah pesanan kuenya,aku sudah catat di buku pesanan"
"Baiklah,kakak senang bisa mengandalkan kamu .." belum selesai Arumi bicara Rafa sudah menyela.
"Bu,aku nanya kok nggak di jawab" protes Rafa yang mulai bosan menunggu jawaban dari pertanyaan yang dirinya berikan pada Arumi.
__ADS_1
"Eh,emang Rafa nanya apa nak?" Tanya Arumi linglung mengingat pertanyaan Rafa
"Ah.. sudahlah, sebaiknya kita pulang Bu,aku harus pergi mengaji"
"Hmmh baiklah,kita titip etalase dan meja dulu ya ke Bude Irma" ucap Arumi
***
Di kediaman Arka setelah kejadian 2 hari yang lalu,Arka kembali mencoba berbicara dengan ayahnya mengenai dirinya yang ingin memiliki seorang ibu. Keadaan hari ini cukup kondusif, setelah pulang dari masjid Arka meminta waktu sang ayah untuk berbicara empat mata.
"Yah,Arka boleh ngomong?" tanya Arka ragu-ragu takut ayahnya akan marah kembali.
Putra sudah memahami situasi saat ini,Putra bisa menebak kalau anaknya akan membicarakan hal yang sudah menjadi perdebatan mereka sebelumnya.
"Silahkan nak,"
"Yah,apa ayah sama sekali tidak bisa mengabulkan keinginan Arka untuk memiliki seorang ibu?" Arka menundukkan kepalanya ia sudah siap mendengarkan jawaban dari ayahnya, berharap itu bukan sebuah penolakan.
Putra menarik napasnya dalam-dalam,demi kebahagiaan anaknya apapun akan ia lakukan termasuk mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
"Hmmh baiklah ayah akan mengabulkan keinginan kamu,besok sore kita ke rumah Bu Arumi dan melamarnya. Ayah hanya ingin mengatakan sesuatu,jika besok Bu Arumi menolak atau tidak siap ayah harap kamu tidak kecewa. Bagaimana pun ini semua begitu mendadak nak,tidak ada persiapan atau pun pendekatan antara ayah dan ibunya Rafa"
"Aku akan memberi tahu Rafa besok, berharap Rafa bisa membujuk ibu Arumi untuk menerima lamaran Ayah. Kalau ayah dan ibu setuju maka kami akan punya keluarga yang utuh,ada ayah ada ibu dan juga kami " ucap Rafa polos membuat putra terenyuh.
"Ayah ingin bertanya sama kamu. Apa Arka sudah melupakan ibu Inka?" tanya putra ragu-ragu,karena ia merasa heran kenapa sang putra begitu antusias ingin memiliki ibu baru.
Arka yang mendapatkan pertanyaan pamungkas dari sang ayah pun sedikit kebingungan harus menjawab apa agar sang ayah tidak curiga.
"A..apa maksud ayah bertanya seperti itu, tentu saja ibu Inka ada di hati Arka selamanya. Arka hanya menjalankan pesan ibu,kalau Arka boleh memiliki ibu baru di saat Arka benar-benar membutuhkannya." sahut Arka mencoba setenang mungkin.
__ADS_1
"Sejujurnya aku belum rela menggantikan ibu di rumah kita,di hati kita yah. Namun Arka begitu sedih saat mendengar cerita Rafa yang tidak pernah mengenal sosok ayah. Sedangkan aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi ku ada ayah ,ibu,kakek, nenek,om dan aunty sedangkan Rafa hanya mengenal ibu dan pamannya saja,aku sedih yah,aku ingin berbagi kebahagiaan dengan Rafa lewat keluarga yang utuh." ucap Arka dalam batinnya
***