
Setelah mengerjakan shalat Zhuhur,Putra dan Arumi pun makan siang bersama. Putra membuat masakan enak untuk mereka seperti udang saus tiram,tumis bayam dan kerupuk udang, keduanya makan dengan tenang tanpa ada obrolan.
Setelah selesai makan keduanya pun mengobrol di kamar.
"Mas,apa pihak EO sudah datang?"
"Sudah,tadi mereka datang tapi tidak lama. Nanti sore pekerja EO akan datang untuk mendekorasi rumah ini,lebih tepatnya memasang sedikit tenda dan beberapa baris bangku untuk warga duduk. Tadi mas juga sudah izin pihak setempat untuk mengadakan acara."
"Kapan mas melakukannya?"
"Tadi pas selesai shalat Dzuhur mas bertemu pak Mujib dan meminta saran darinya,kebetulan pak RT dan pak RW juga ada di sana,tanpa perlu datang mereka sudah memberikan izin. Sore nanti juga pihak EO akan memberikan undangan acara kita,biar selepas magrib nanti mas kasih ke pak RT sebagiannya kasih ke warga yang kamu kenali,ya anggap saja terbuka untuk umum tanpa menyebutkan siapa yang di undang."
"Bisa secepat ini ya kalau uang berbicara."
"Kamu ini ada-ada saja,"
__ADS_1
"Sayang," panggil Putra pada Arumi
"Iya mas?,"
"Setelah acara perkenalan dengan warga,apa kamu bersedia untuk kembali ke Jakarta bersama mas?" tanya Putra harap-harap cemas
"Ma..maksud mas apa?"
"Mas tahu ini akan berat untuk mu,tapi bisakah kita kembali ke Jakarta,kita tidak mungkin terpisah seperti ini,mas tidak ingin berjauhan lagi dengan kamu."
"Mas paham sayang,tapi bisakah kita memulainya di Jakarta saja? mas akan membuatkan sebuah toko kue yang kamu inginkan kalau perlu kita buat kafenya sekalian. Mas tidak ingin lagi berjauhan dengan kamu,dan lagi mas punya tanggung jawab terhadap Arka dan juga perusahaan."
Arumi nampak dilema,ia baru merintis usahanya dalam hitungan bulan dan Arumi bersyukur semuanya berjalan dengan lancar,namun ia juga sadar akan statusnya sebagai seorang istri,lalu bagaimana dengan Aldi?
"Tapi mas,aku terlalu nyaman di sini,selain itu bagaimana dengan Aldi?"
__ADS_1
Putra nampak terdiam menunggu jawaban dari Arumi.
"Yasudah kalau kamu masih ingin tetap di sini,mas tidak bisa memaksa lagi. Mungkin nanti mas akan mengusahakan menemui kamu seminggu sekali atau dua Minggu," sahut Putra tidak bersemangat
Setelah pembicaraan itu Putra tidak lagi bicara,karena harapannya sudah pupus. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar alasannya ingin mencari udara segar. Sedangkan Arumi masih diam mematung ia merasa bersalah seharusnya ia mengikuti keinginan suaminya bukan menolaknya.
Arumi pun menyusul Putra keluar ruangan,ia menyadari kesalahannya,Arumi pun memeluk Putra dari belakang.
"Mas,maafkan aku. Aku tidak bermaksud menolak ikut,tapi aku belum siap meninggalkan Aldi sendirian di sini." ucap Arumi sendu
Putra pun membalikan tubuhnya dan membalas pelukan Arumi.
"Mas tidak apa-apa sayang,hanya saja mas juga tidak ingin kembali jika tidak dengan kamu,tapi kewajiban mas terhadap perusahaan tidak bisa ditinggalkan belum lagi Arka yang tidak terlalu betah tinggal di rumah nenek maupun Oma opanya."
Setelah mendengarkan penjelasan Putra,Arumi semakin merasa bersalah ,akan sangat egois jika ia tidak mengalah, terlebih posisinya adalah seorang istri yang harus siap mengikuti kemanapun suaminya pergi.
__ADS_1