Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST 48


__ADS_3

Rahmi menuntun keduanya menuju ruangan seorang perempuan yang selama ini mereka cari,perasaan mereka campur aduk,senang dan juga sedih.


Tibalah ketiganya di sebuah kamar yang cukup luas dengan beberapa alat kesehatan dan keperluan Inka di kamar itu. Inka sedang duduk di sebuah kursi roda menghadap jendela,penampilan yang memprihatinkan,kepala yang plontos tanpa sehelai rambut ,badan yang kurus kering ,membuat Erwin dan putra terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Suara langkah kaki itu memutar pandangan Inka,hal itu membuat dia terkejut karena Inka melihat dua laki-laki yang sangat dirindukan. Dengan senyum ramah Inka menyambut keduanya,seolah semuanya baik-baik saja. Erwin dan putra meluruhkan airmatanya,penyesalan demi penyesalan yang mereka rasakan begitu mendalam.


Inka menghampiri keduanya yang sedang terdiam,menyapa layaknya tuan rumah menyambut tamunya.


"Ayah,mas putra. Apa kabar?" tanya Inka


Keduanya masih terdiam namun dalam waktu yang sama Erwin menjatuhkan dirinya bersujud di kaki anaknya untuk meminta ampunan, begitu juga dengan putra yang ikut bersimpuh. Inka mendorong mundur kursi rodanya karena merasa tidak nyaman.


"Apa yang kalian lakukan?" ucap Inka


"Maafkan ayah mu yang buruk ini nak,maafkan ayah karena sudah menyia-nyiakan kamu selama ini,maafkan ayah" ucap Erwin dengan derai air matanya

__ADS_1


"Begitu pun dengan aku Inka,maafkan mas karena selama ini menelantarkan kamu dan banyak menyakiti mu,maafkan mas sayang,mas menyesal" ucap putra penuh penyesalan


Inka tersenyum.


"Aku sudah memaafkan kalian semua,aku tidak bisa menyimpan dendam dengan baik,aku percaya semua yang terjadi dalam kehidupan ku adalah kehendak yang maha kuasa."


Apa semudah itu Inka memaafkan kedua laki-laki yang sudah menyakitnya, bertahun-tahun lamanya Inka hidup dalam penderitaan namun dengan mudahnya Dia memaafkan ,terbuat dari apa hati Inka sebenarnya.


Erwin memeluk putri sulungnya dan di ikuti dengan Putra.


"Terima kasih,sayang" ucap keduanya


"Oma,tolong ambilkan pasmina di lemari milikku,aku malu dengan kepala botakku" ucap Inka meminta tolong pada Rahmi


"Kenapa harus di tutup ,kamu seperti ini pun sudah cantik sayang" ucap Erwin

__ADS_1


"Benar apa yang di katakan ayah,kamu masih tetap cantik"


Inka lagi-lagi tersenyum.


"Mana ada orang penyakitan seperti ku cantik hehe,kalian ini ada-ada saja. Oiya apa kalian hanya datang berdua saja?"


" Iya kami hanya berdua saja,dan secepatnya kita akan bertemu dengan keluarga besar kita,kamu maukan?" ucap putra


"Iya mas"


"Kita pulang ya,mas akan menebus semua kesalahan mas kepada mu dan anak kita" ucap putra


"Tidak perlu seperti itu mas,aku lebih nyaman tinggal dengan Oma dan om Arya. Aku tidak mau menjadi beban kamu,hiduplah dengan nyaman mas,tanpa penyesalan apapun,aku sudah memaafkan mu dan jangan merasa bersalah lagi ,aku dan Arka baik-baik saja" ucap Inka membuat putra perih mendengarnya.


"Begitupun dengan ayah,tidak perlu hawatir dengan ku lagi,sekarang aku bukan anak kecil lagi yah,aku sudah menjadi ibu. Aku bersyukur berkat ayah akan bisa merasakan menjadi seorang ibu."

__ADS_1


Rahmi berjalan ke arah Inka dan memakaikan pasmina nya di atas kepala plontos Inka,.


Ditengah-tengah obrolan mereka putra meminta izin untuk berbicara empat mata dan akhirnya mereka pun keluar dari kamar. Sebelum terjadi pembicaraan, keheningan meliputi keduanya.


__ADS_2