
Bakery House adalah sumber mata pencaharian Arumi. Kesibukan hari ini membuatnya kesulitan untuk sekedar mencuri waktu istirahatnya,apalagi Dia harus menjemput Rafa di sekolah.
Sudah hampir 1 jam kegelisahan menghinggapi Arumi,di satu sisi Rafa yang belum dia jemput,dan disisi lainnya ia harus profesional menyelesaikan pesanan pelanggan yang akan diambil kurang dari setengah jam.
"Apa tidak ada yang mau menggantikan ku sebentar saja? Aku harus menjemput Rafa di sekolah" tutur Arini meminta bantuan pada salah satu rekan kerjanya.
"Maafkan kami Rumi,kamu tahu sendiri pekerjaan hari ini cukup padat. Kami pun harus menyelesaikan pesanan kue pelanggan secepatnya,andai sudah selesai aku pasti membantu mu,maaf ya?" sahut rekannya merasa tidak enak karena tidak bisa membantu Arumi.
Arumi hanya mengangguk.
Ia kembali kemeja tempat ia menyelesaikan semua pesanan kue,meja yang sudah berantakan oleh kue siap packing dan aneka kue yang dalam proses finishing.
"Ya Allah, mudah-mudahan Aldi pulang cepat hari ini,atau Rani mengajaknya pulang bersama" harap Arumi pada adik dan tetangganya yang seorang TU di sekolah tempat rafa belajar.
"Rum,belum ada yang menggantikan mu?" tanya salah satu temannya
"Belum Mbak,aku juga jadi khawatir"
"Telpon saja untuk minta bantuan tetangga atau tukang ojek dekat rumah mu?" saran salah satu rekan kerja bernama Iis
"Kita kan ga boleh main hp,Mbak dengar sendiri tadi dari Bu bos,kalau hari ini jam istirahat maju 2 jam itu artinya kita tidak bisa pegang hape"
"Iya kamu benar juga,berdoa saja semoga ada orang yang berbaik hati mengantar Rafa pulang atau menemaninya sampai kamu menjemput" ucap Mbak Iis menenangkan Arumi
"Mudah-mudahan saja ya Mbak"
"Aamiin sudah sebaiknya selesaikan tugas mu agar cepat selesai dan kamu bisa segera menjemput Rafa"
"Iya Mbak,makasih"
Di tengah kekalutan dan konsentrasi yang pecah Arumi mencoba menyelesaikan pekerjaannya, berharap dia bisa beristirahat lebih cepat dan segera menjemput Rafa di sekolah.
**
"Kamu setuju kan?" tanya Arka meminta pendapat Rafa
Rafa bingung harus menjawab apa,ia tidak enak untuk mengiyakan karena dia orang yang baru mengenal mereka,tapi di sisi lain Rafa pun menginginkan keluarga yang utuh. Rafa melirik kearah Putra yang sedang memijat pelipisnya,Rafa sadar kalau ayah Arka tidak menyukai usulan teman barunya itu.
"Aku harus meminta pendapat ibuku dulu, begitu pun kamu. Aku tidak mau nantinya ibu bersedih"ucap Rafa bijak
"Sedih kenapa memangnya?" tanya Arka penasaran
__ADS_1
Rafa pun membisikkan sesuatu pada Arka,dan akhirnya Arka mengerti.
"Yah,ayah tidak keberatan kan kalau ayah menjadi ayahnya Rafa juga?" tanya Arka membuyarkan fokus putra yang sedang melihat ke arah jalanan.
"Hah ... kenapa sayang?"sahut putra yang merasa gugup mendengar pertanyaan Arka.
"Ih ayah kenapa ga fokus si?bikin kesel deh!" Arka merajuk karena merasa ucapannya tidak di dengar oleh sang ayah.
"Iya maafkan ayah ya,sekarang ulangi apa yang tadi kamu ucapkan"
"Ayah mau kan jadi ayah buat Rafa?" ulang Arka bertanya pada sang ayah
"Tentu saja nak,setiap anak yang berteman dengan anak kesayangan ayah berarti dia juga anak Ayah" ucap Putra membuat keduanya tersenyum bahagia
"Terima kasih ayah,berarti mulai saat ini Rafa boleh dong manggil Ayah sama ayah Putra? tanya Arka meminta kejelasan pada sang ayah
Putra hanya mengangguk dan melihat senyum bahagia di wajah anaknya,ia sudah berjanji apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan anaknya,termasuk menjadi ayah bagi temannya.
**
40 menit kemudian mereka sampai di kediaman Putra. Rafa tampak takjub melihat rumah bertingkat dua dengan halaman yang cukup luas, ternganga dan tak bisa berkata-kata, karena bertolak belakang dengan tempat tinggal yang menjadi rumahnya selama ini.
"Rafa ayo masuk" ajak Arka membuyarkan lamunan Rafa
"Sayang,kalian makan siang dulu yah, setelah itu kalian membersihkan diri untuk tidur siang. Ayah harus kembali ke kantor pokonya ayah akan usahakan pulang cepat. Dan buat kamu Rafa,kalau nanti ibu mu atau saudara mu menjemput ucapkan salam om ya, takutnya tidak ketemu" ucap putra membuat Arka kesal.
"Ayah ini bagaimana si! katanya Rafa boleh manggil ayah,tapi kenapa om lagi?" Arka merajuk dengan kedua tangannya di lipat di atas perutnya
Putra melupakan hal sensitif untuk sang anak, akhirnya dia meminta maaf dan membetulkan panggilan yang sebelumnya'om' menjadi 'ayah'.
"Baik,ayah minta maaf sekali lagi. Ayah perlu beradaptasi nak,kalau sekarang ayah punya dua putra yang tampan."
"Maafkan ayah ya,janji deh nggak akan lupa lagi"
"Awas ya,ayah bohong sama Arka dan Rafa"
"Iya,sayang. Sekarang kalian makan dulu ya,nanti kalau perlu apa-apa panggil mbak ayu atau bi Hannas.
"Baik ayah" sahut keduanya kompak.
"Oh ya,anak tampan ayah. Kalau besok-besok ayah belum jemput dari waktu biasa kamu pulang,lebih baik kamu pulang dengan mbak ayu dan supir rumah saja ya. Untuk hari ini ayah minta maaf,ayah terlambat jemput kamu di hari pertama pulang sekolah.
__ADS_1
"Iya ayah aku paham kok"
"Pintar,Yasudah lanjutkan makannya, setelah ini ayah harus kembali ke kantor "
Mereka pun menikmati makan siangnya dengan hikmat,dan Rafa merasa makanan yang ia makan enak semua,karena selama ini makanan enak yang mampir ke lidahnya adalah kue yang di bawa ibunya sepulang kerja. Setelah selesai makan keduanya mencium tangan Putra,dan putra pun meninggalkan kediamannya setelah menemani anaknya makan siang.
***
Pukul setengah 3 sore Arumi baru menyelesaikan pekerjaannya,dia sudah tidak memikirkan perut laparnya yang terpenting saat ini ,ia mengetahui keberadaan Rafa titik!.
Dengan terburu-buru dan memacu kendaraan dengan cepat akhirnya ia sudah sampai di depan gerbang sekolah Rafa. Dengan napas tersengal-sengal Arini langsung bertanya soal putranya.
"Permisi pak,apa semua anak sudah pulang semua?" tanya Arumi dengan bulir-bulir keringat di wajahnya.
Satpam itu nampak heran,tentu saja sudah pulang karena jam belajar anak TK hanya sampai dam 12 saja.
"Sudah Bu,dari beberapa jam yang lalu sekolah ini sudah sepi,bahkan staf guru dan para petugas kebersihan pun sudah tidak ada di sini."
Arumi cemas mendengarnya,lalu bagaimana nasib Rafa?
"Pak,apa bapak melihat ada seorang anak kecil yang usianya 5 tahun berkulit putih dan tinggi kira-kira 100 cm menunggu jemputan di sini?" tanya Arumi untuk memastikan bahwa Rafa sudah pulang
Pak satpam itu mengingat ingat bahwa ada seseorang yang menitipkan kartu nama,saat orang tua datang mencari anaknya.
"Oh iya Bu,tadi juga ada anak yang menunggu jemputan, sepertinya ciri-cirinya hampir sama mungkin saja dia,kalo tidak salah dia menggunakan tas berwarna biru dengan motif kartun tayo.."
"Iya pak,itu anak saya" ucap Arumi antusias
"Syukurlah,dia di ajak naik mobil .." ucap pak satpam membuat Arumi panik,karena pikirannya Rafa sedang di culik.
"Maksud bapak apa naik mobil? kami tidak memiliki keluarga yang mempunyai kendaraan mobil"
"Bukan Bu,maksud saya anak ibu ikut bersama temannya,tadi juga orang tua anak tersebut memberikan kartu nama,beliau mengatakan kalau ibu bisa menjemput anak ibu di alamat kartu ini" penjelasan pak satpam membuat Arumi lega.
"Baiklah pak,saya akan langsung menjemput anak saya saja. Boleh saya ambil kartu namanya?"
"Oh silahkan Bu,ini kartu namanya" Arumi pun menerima kartu nama yang diberikan oleh pak satpam."
"Terima kasih ya pak"
"Sama-sama Bu,lain kali utus keluarga yang lain untuk menjemput anak ibu,agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali"
__ADS_1
"Baik pak,sekali lagi terima kasih"
Arumi pun langsung melajukan motornya menuju alamat yang di berikan pak satpam. Hari ini cukup melelahkan bagi Arumi.