
Putra dan Arumi begitu bahagia setelah mendapatkan kepastian tentang kehamilan Arumi. Ini adalah kebahagiaan yang begitu besar untuk keluarganya, lengkap sudah apa yang menjadi harapan dan doa keduanya, Arumi bahkan tak henti-hentinya menatap foto USG yang diberikan oleh dokter Anita. Setelah melakukan pemeriksaan, mereka memutuskan untuk pulang.
"Sayang, sudah dong nanti fotonya luntur," ucap Putra yang memperhatikan istrinya sedang menatap foto USG calon anak mereka.
"Aku masih belum percaya, Mas. Kalau di dalam sini ada calon anak kita," sahut Arumi sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Kamu harus percaya, karena memang begitulah kenyataannya. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu, aku berharap kamu istirahat yang cukup dan jangan sampai kelelahan, ok."
"Iya, Mas. Aku janji akan menjaga anak kita sebaik mungkin, ini pengalaman pertama aku, jadi tolong kerjasama ya, Mas."
"Tentu, Sayang. Aku akan menjadi suami siaga untuk kamu, dan juga ayah siaga untuk anak-anak kita. Aku akan melakukan yang terbaik untuk keluargaku, aku tidak ingin menyesal untuk yang kesekian kalinya." ucap Putra dengan mata berkaca-kaca, jika mengingat perlakuannya di masa lalu,"
"Sudahlah, Mas. Yang penting sekarang kamu sudah berubah. Kamu sudah menjadi suami dan ayah yang baik juga bertanggung jawab,"
"Terima kasih, sudah mau kembali kepadaku dan sekarang bersedia mengandung anakku,"
__ADS_1
"Ini juga anakku, Mas. Kamu tidak boleh mengakuinya sendirian, selama sembilan bulan ke depan dia akan satu tubuh denganku, rasanya tidak sabar menyaksikan perkembangan dia setiap bulannya,"
"Sabar, Sayang. Nanti juga ada waktunya, yang terpenting kamu dan Calok anak kita sehat selalu,"
"Iya, Mas." Arumi Kembali menatap foto USG nya dengan perasaan bahagia.
Setelah beberapa menit akhirnya keduanya sampai di rumah. Putra langsung memperlakukan Arumi bagaikan seorang ratu, ia segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Arumi, bahkan pak supir pun baru saja mematikan mesin mobilnya.
"Mas, kamu tidak perlu berlebihan, aku masih bisa jalan sendiri,"
"Tidak, pokoknya kamu harus, Mas gendong sampai ke dalam kamar kita,"
"Sudah kamu tidak perlu malu, aku kan suami kamu jadi sudah sewajarnya aku memperlakukan kamu dengan spesial,"
"Kalau kamu tetap ngotot buat gendong aku, aku nggak mau turun dari mobil ini, biar saja aku tidur di sini," ucap Arumi mengancam, dan mau tidak mau Putra menurut dari pada istrinya ngambek dan tidur di mobil."
__ADS_1
"Yasudah, tapi kalau memapah bolehkan?,"
Arumi mengangguk dan tidak menolak.
Dengan hati-hati keduanya jalan beriringan, tak lama kemudian Bi Hannas menghampiri keduanya.
"Bagaimana keadaan, Mbak Arumi?,"
"Kabar saya baik, Bi."
"Syukurlah..."
"Bibi harus membantu saya menjaga istri saya mulai sekarang," ucap Putra, namun berbeda dengan Bi Hannas, ia berpikiran kalau istri tuannya itu sedang sakit parah,"
"Baik, Pak. Tapi ibu beneran baik-baik saja kan?,"
__ADS_1
"Tentu saja, namun sekarang istri saya sedang mengandung jadi mulai saat ini jangan biarkan dia ikut membantu Bibi di dapur, kalau dia tetap ngeyel Bibi saya pecat, karena istri saya akan menggantikan Bibi," ucap Putra menyindir dengan sedikit ancaman. Bi Hannas mengerti apa yang di maksud tuannya, sebelum itu dia begitu bahagia mendengar kehamilan Arumi.
"Selamat ya, Pak, Mbak. Saya turut bahagia mendengarnya,"