
Di malam pertama yang seharusnya di isi oleh hal-hal yang romantis,namun tidak dengan Inka dan Putra. Keduanya tidur terpisah di kamar yang berbeda,inka tak kunjung berhenti menangis, airmatanya seolah tak terbendung.
Saat putra tengah membaringkan tubuhnya di tempat tidur,tak lama Dia menerima telepon dari sahabatnya Raka. Raka mengabari Putra kalau Raya masuk rumah sakit karena berusaha bunuh diri.
"Bro ,maaf mengganggu malam pengantin mu,tapi kamu harus tahu kalau raya sedang masuk Rumah Sakit karena berusaha bunuh diri" ucap Raka di telpon
"Apa maksud kamu?"
"Raya sekarang tidak sadarkan diri,dia mencoba menelan obat tidur, untungnya hal itu di ketahui oleh asisten rumah tangganya. Aku rasa hal ini ada kaitannya dengan pernikahan mu"
Mendengar hal itu Putra merasa bersalah,karena Dia memutuskan untuk menikah dan tidak berjuang sampai akhir dengan wanita yang begitu Dia cintai.
"Baiklah aku akan datang ke Rumah Sakit, sebaiknya kamu kirim alamatnya"
"Apa tidak masalah? ini kan malam pengantin kalian,lalu bagaimana dengan istrimu?"
"Tidak,aku sudah berkata jujur tentang pernikahan ini. Sepertinya Dia mengerti bahwa aku terpaksa menikahinya karena ibuku terus memaksa"
"Apa kau tidak akan berusaha mencintai istrimu? aku merasa bersalah telah menghubungi mu"
"Sejak awal kau tau siapa yang aku cintai,jadi sampai kapanpun perasaanku tidak akan berubah"
"Terserah kau saja. Baiklah nanti ku kirim alamatnya"
"Ya,aku tunggu"
Percakapan telepon pun di tutup ,Putra segera mengganti pakaiannya dan segera keluar kamarnya setelah mendapatkan pesan dari Raka.
Saat Putra meninggalkan kamar dan menutup pintu hal itu tidak luput dari pendengaran Inka,Dia membuka kamarnya dan melihat Putra keluar Rumah dan mengendarai mobilnya.
"Mau kemana Dia malam-malam?" gumam Inka
Setelah Putra pergi Inka turun ke lantai bawah,Dia tidak bisa memejamkan matanya,matanya sembab karena menangis sejak tadi. Inka pun memutuskan untuk menunggu Putra pulang,sambil menonton televisi dan membaringkan tubuhnya di sofa ruangan tersebut.
**
__ADS_1
Di lain tempat Putra sedang memarkirkan mobilnya,lalu segera menuju ruangan yang sudah di sebutkan oleh Raka. Saat sudah berada di ruangan tersebut, terdapat Raka dan kedua orang tua Raya.
"Put,kamu sudah datang?" tanya raka
"Iya,bagaimana mana keadaannya?" tanya Putra
"Raya belum sadarkan diri"
Kedua orang tua raya menatap Putra penuh rasa bersalah,mereka tidak menyangka kalau Raya akan bertindak nekat seperti ini. Seharusnya sejak awal mereka merestui hubungan Raya dan Putra. Entahlah mereka terlalu memikirkan kebahagiaan sendiri dari pada kebahagiaan sang anak.
"Pak,Bu saya turut prihatin dengan keadaan Raya. Raya wanita yang kuat Dia pasti akan cepat pulih"
"Terima kasih put. Maafkan kami sebagai orang tua yang sudah memisahkan hubungan kalian. Harusnya kami memikirkan kebahagiaan anak kami juga" ucap ayah raya penuh penyesalan
"Sekali lagi tolong maafkan kami"
"Saya sudah memaafkan kalian,Saya pun menyadari kekurangan saya yang mencintai anak kalian. Tapi semuanya sudah terjadi" sahut putra
"Apa kamu masih mencintai anak saya?" tanya ayah Raya
Putra sempat terdiam mendengar pertanyaan Ayah raya,Dia merasa cobaan datang dalam waktu yang bersamaan.
"Sekali lagi maafkan saya, seandainya saja saya tidak egois,hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Saya berharap kamu masih bisa bersama dengan anak saya, mulai saat ini saya tidak akan memaksakan kehendak saya lagi" ucap ayah raya penuh penyesalan
Putra terdiam kaku,disaat pernikahannya dengan Inka sudah terjadi,kenapa restu itu baru di berikan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan takdir Putra. Tidak lucu jika putra harus menikah untuk yang kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan pula. Apa Putra bisa setega itu menyakiti perasaan Inka,gadis belia yang merelakan masa mudanya untuk menikah dengan dirinya.
Setelah cukup lama menunggu Raya terbangun dari pingsannya, akhirnya raya sadar,dan saat pertama kali terbangun dari Putra lah orang pertama yang Dia lihat.
"Putra ..." ucap raya yang langsung meminta pelukan dari Putra
"Iya ini Aku,kamu sudah sadar Ray?"
Raya pun menganggukkan kepalanya.
"Aku pikir kamu tidak akan datang,karena ini adalah ..."
__ADS_1
"Sudahlah,yang penting aku ada di sini. Jangan pernah melakukan hal ini lagi Ray,semua orang akan sedih termasuk orangtua mu"
"Aku hanya kecewa pada keadaan,kenapa kita di pisahkan. Aku selalu menuruti keinginan mereka bahkan aku rela sekolah di luar negeri demi memuaskan keinginan orang tua ku,tapi kali ini aku ingin memutuskan kebahagiaan ku sendiri tanpa campur tangan kedua orang tua ku"
"Iya aku mengerti, sebaiknya kamu istirahat kembali. Kamu baru sadarkan diri dan jangan terlalu banyak berpikir dulu"
"Apa kamu masih mencintai ku put?
Lagi lagi pertanyaan itu. Sejujurnya putra merasa berdosa pada inka , seharusnya hal ini tidak pernah terjadi sekalipun Putra tidak mencintai Inka. Perasaannya saat ini tidak senyaman saat Putra belum menikah.
Putra pun mengangguk.
"Sebaiknya kamu tidak lagi,tubuh mu perlu istirahat"
"Dimana orang tuaku?"
"Mereka pulang bersama Raka,dan malam ini aku yang akan menjaga kamu."
Raya pun menganggukan kepalanya dan kembali beristirahat.
Saat Raya sudah kembali tertidur,Dia teringat Inka yang sendirian di rumah. Putra merasa tidak tenang, meskipun Putra tidak mencintai istrinya,tetap saja Inka adalah istri yang perasaannya harus Dia jaga, terlebih mengenai Raya.
Sedangkan di rumah ,Inka tidak bisa memejamkan matanya. Berkali-kali ia melihat kearah pintu namun Putra tak kunjung datang, sampai menjelang Pukul 3 pagi Inka tertidur dengan sendirinya.
**
Azan subuh berkumandang, namun tanda-tanda kepulangan Putra belum juga terlihat. Inka pergi menuju kamarnya dan menjalankan kewajibannya seperti biasa. Pukul 6 pagi,Inka menyiapkan sarapan untuk Inka dan juga Putra, barangkali Dia pulang dan belum sarapan.
Pukul 7 pagi Putra baru kembali dari Rumah Sakit,hal itu bertepatan dengan Inka yang akan pergi ke kampus.
"Mas,dari mana saja semalaman tidak pulang?" tanya Inka saat melihat suaminya.
"Maafkan saya,semalam ada hal yang terjadi dan saya tidak bisa meninggalkannya. Saya juga lupa menghubungi kamu. Apa kamu menunggu saya?"
Inka menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Lain kali jika hal ini terjadi lagi sebaiknya kamu tidak perlu menunggu saya. Saya tidak ingin membuat kamu repot,"
"Kenapa seperti itu, bukankah aku istri mas? aku berhak tau kemana suamiku pergi. Aku tahu mas tidak mencintai ku bahkan mungkin tidak akan pernah. Tapi izinkan aku menjadi istri yang baik,jangan biarkan keputusan ku menikah sia-sia begitu saja. Aku tidak masalah mencintai kamu tanpa balasan,aku akan melakukannya sendiri,mas hanya perlu menerima." ucap Inka membuat Putra tidak bisa berkata-kata.