Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST 42


__ADS_3

Kehidupan memang sudah terkonsep sebagaimana mestinya, begitupun dengan cerita pilu yang di alami oleh Inka. Gadis malang itu telah menemukan kepingan kepingin cerita hidupnya, bagaimana Dia lahir dan kenapa dia berbeda.


Selain menulis surat untuk Putra ,Inka pun menulis surat untuk ayahnya. Laki-laki yang menurutnya tidak tegas dalam mengambil keputusan, seandainya dulu Erwin tidak mengambil Inka dari tangan ibunya mungkin luka hatinya tidak sesakit ini. Inka tidak memiliki memori indah bersama ibunya,anak 2 tahun bisa ingat apa? dan kehidupan bersama ayahnya pun begitu pilu,hanya kecupan saat malam hari yang ia tunggu ketika ayahnya pulang kerja, selebihnya tidak ada.


...Assalamualaikum ,Ayah....


Semoga kabar ayah dan keluarga selalu baik-baik saja. Saat ayah membaca surat ini mungkin Inka sudah pergi dari kota yang aku tinggali,aku hanya ingin berpamitan saja pada ayah dan keluarga.


Yah,begitu banyak hal yang baru Inka ketahui, tentang siapa Inka, dan juga ibu kandung ku yang tak pernah ayah beri tahukan. Kenapa ayah dulu tega memisahkan aku dan ibu,apa ayah tahu aku begitu menyedihkan sebagai seorang anak yang berpisah dengan ibunya. Namun semuanya sudah terjadi,dan aku tidak bisa mengembalikan waktu.


Yah, terlepas bagaimana pun ayah yang sudah meninggalkan ibuku dan mengambil ku dari ibu,aku akan memaafkan ayah sama seperti apa yang ibu lakukan yaitu memaafkan ayah. Maafkan aku sudah menjadi beban untuk ayah dan tidak bisa membanggakan ayah.


Oiya yah,aku sedang mengandung cucu ayah,kini usianya baru 10 Minggu,aku sangat bahagia bisa memilikinya meskipun suamiku belum tentu menerimanya. Yah,aku memutuskan untuk melepaskan mas putra dari ikatan pernikahan ini, Kebahagiaannya bukan bersamaku,ada wanita lain yang ia cintai sebelum aku datang.


Ayah jangan memarahinya,sama seperti ibu dulu yang rela melepaskan ayah demi kebahagiaan orang lain,aku tidak bisa berjuang sendiri yah,maka hormati keputusan ku.


Titip salam untuk ibu dan kedua adikku,katakan aku menyayangi mereka,ucapan terima kasih ku untuk ibu yang sudah merawat ku sampai aku dewasa, untuk Maudy dan Dhika aku pasti merindukan mereka.


Jaga kesehatan Ayah,aku akan selalu mendoakan ayah.


...Inka Amira...


***


Begitulah isi surat yang Inka buat,dan tepat beberapa hari sebelum ia berangkat keluar negeri Inka berkesempatan mengunjungi makam ibunya. Sebuah makam yang sangat terawat ,di penuhi rumput hijau dan batu nisan yang bertengger di atasnya. Batu nisan bertuliskan nama cantik Airin Kamila Binti Kamil Arif membuat Inka menumpahkan air matanya,air mata kerinduan yang tidak akan mungkin terbalaskan,karena yang di rindukan sudah berbaring dalam keabadian.


"Ibu aku datang. Maafkan aku yang baru menemui ibu,keadaan begitu tidak berpihak pada kita bu,. Aku merindukan ibu, rasanya aku ingin memelukmu dan mencurahkan semua kesedihan yang aku alami. Kini aku hanya bisa berdoa untuk ibu,semoga di sana ibu mendapatkan kebahagiaan, tunggu aku Bu,aku ingin menemui ibu di sana nanti" ucap Inka dalam hati setelah mendoakannya

__ADS_1


Setelah berhasil melihat makam sang ibu, akhirnya Inka dan Rahmi pun kembali pulang. Di perjalanan pulang Inka berceloteh seolah Dia akan benar-benar pergi.


"Oma," ucap Inka memanggil Rahmi


"Iya ,sayang"


"Oma,kalau semisal pengobatan ku gagal dan aku bernasib sama seperti ibu, bolehkah aku membuat permintaan" ucap Inka membuat Rahmi terkejut


"Kamu ini ngomong apa si,kamu pasti sembuh sayang"


"Kan seandainya ,Oma"


"Jangan berandai-andai yang seperti itu,kamu harus sehat dan merawat anakmu sendiri"


"Tapi Oma, ijinkan aku mengatakan permohonan ku"


"Katakanlah"


"Oma,aku akan berusaha berjuang untuk anak yang ada dalam kandungan ku ini,aku ingin memberikannya kehidupan. Tapi aku tidak bisa berjanji akan menemaninya sampai dewasa,aku takut Oma,jika sampai hal itu terjadi,tolong kebumikan aku di liang lahat yang sama dengan ibu,aku ingin berada di tempat yang sama dengan ibu. Dan jika Allah berkehendak anakku lahir dan sehat,Oma tolong rawat dia ya,bilang pada anakku kalau aku menyayangi Dia"


Rahmi mengalihkan wajahnya ke arah jalanan dengan airmatanya yang membanjiri wajahnya,rasa sesak begitu terasa, bagaimana mungkin anak semuda itu sudah membuat kata-kata perpisahan,begitu berat beban yang Dia tanggung,Rahmi bertekad untuk mendukung kesembuhan Inka,dan melihat gadis itu tersenyum tanpa beban.


"Sampaikan sendiri apa yang ingin kamu katakan pada anakmu nanti,Oma akan merawat kalian berdua dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian,ingat itu." ucap Rahmi yang masih mengalihkan pandangan.


Inka hanya tersenyum, ternyata masih ada yang menyayanginya dengan tulus. Semoga saja ada keajaiban untuk hidupnya nanti,karena menurut apa yang ia baca kanker adalah salah satu penyakit mematikan.


***

__ADS_1


Kembali ke tempat Putra berada, setelah ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya,putra pun turun ke bawah untuk menyantap makan malamnya. Badannya sangat kurus,beban pekerjaan dan juga kehidupan pribadi yang rumit,Putra benar-benar melupakan pernikahannya dan juga keluarganya yang lain.


Inka selalu berbohong saat ibu dan yang lainnya menanyakan keberadaan Putra,entah lembur,sudah tidur atau hapenya hilang. Untung saja keluarganya hanya seminggu sekali menelpon mereka, termasuk Erwin dan yang lainnya. Inka pandai bersandiwara agar semua terlihat baik-baik saja.


Makanan sudah di sediakan Bu Darmi,Putra melahap semua makanan yang ada,dia bahkan belum menyadari ketiadaan istrinya.


Sedangkan Bu Darmi dan pak Diman memperhatikan keadaan putra yang begitu tak terurus.


"Apa pak Putra tahu ya kalau mbak Inka sudah pergi?" tanya Bu Darmi pada suaminya


"Entahlah Bu,mungkin tidak mungkin saja tahu, bukankah mbak Inka pergi bersama Oma nya,mas putra pasti mengenalnya,katakan saja yang sebenarnya kalau pak putra bertanya,dia pasti akan menjemput mbak Inka" ucap pak Diman membuat kesimpulan


"Bapak benar juga,masa iya pak putra tidak kenal dengan keluarga mbak Inka"


Setelah makan putra kembali ke kamarnya,Dia memutuskan untuk berbicara dengan Inka ke esokan paginya,rasanya badan putra begitu lelah karena selama 3 Minggu ini ia main petak umpat,Putra berpikir kalau Inka sedang tidur nyenyak di kamarnya.


***


Pukul 10 pagi Putra baru turun dari kamarnya, mungkin putra tidur nyenyak malam ini,entah setelah ini bagaimana. Setelah menggunakan pakaian santainya dia duduk di meja makan dan menyantap sarapan yang di buatkan bu Darmi tak lupa secangkir kopi panas mendampingi.


"Bu, apakah Inka sudah bangun dan pergi kuliah?" tanya Putra


Bu Darmi yang di tanya seperti itu mendadak lidahnya kaku.


***


Masih ada Yo ..

__ADS_1


__ADS_2