
Bibir yang tanpa lawan kini menyatu tanpa jarak, l*matan demi l*matan menjadi bukti sebuah hasrat yang tertunda,tangan kekar itu tak tinggal diam menjelajah mencari sesuatu yang dituntun oleh hasrat, hingga menemukan pahatan surgawi ,lembut dan menggoda membuat Arumi mengerang ditengah oksigen yang menipis karena penyatuan bibir yang tak kunjung dilepaskan.
Beberapa saat kemudian Arumi langsung tersadar bahwa ia belum siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang utuh. Arumi belum siap melakukan hubungan suami istri dengan Putra, katakanlah jika ia belum 100 persen yakin dengan putra, bagaimana jika suaminya hanya merasa bersalah, bagaimana jika Putra tidak serius, bagaimana jika semuanya hanya ilusi semata dan Arumi kembali tersakiti. Begitulah pertanyaan demi pertanyaan yang bersarang di kepalanya.
Putra yang awalnya bernafsu pun mencoba menekan hasratnya agar tidak melakukan hal-hal diluar persetujuan Arumi, meskipun ia berhak.
"Ma ..as maaf,aku belum siap melakukannya." Arumi menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
Putra mengerti kenapa istrinya bersikap seperti ini,ya semuanya karena perlakuan tidak ramah dirinya sejak awal.
__ADS_1
Putra memeluk tubuh Arumi yang masih menunduk. "Jangan minta maaf sayang, harusnya mas yang meminta maaf karena terburu-buru dan membuat kamu tidak nyaman." ucap Putra
Arumi menggelengkan kepalanya "Tidak mas, seharusnya memang kewajiban istri memberikan apa yang suaminya inginkan,namun aku belum siap mas. Tolong berikan aku kesempatan untuk terbiasa menerima semuanya, perlakuan mu, perhatian mu dan sentuhan-sentuhan mu, semuanya terasa baru untuk ku,jadi kumohon bersabarlah." ucap Arumi berterus terang karena tidak ingin membuat suaminya kecewa.
"Aku mengerti apa yang kamu lakukan adalah sebuah bentuk kewaspadaan kamu terhadap aku yang pernah mengecewakan,aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap dan kita melakukannya karena sebuah kerelaan dan cinta yang cukup. Aku berjanji akan merubah semua hal yang membuatmu tidak nyaman,aku mohon berikanlah kepercayaan itu."
Arumi sudah menangis karena ucapan sang suami,apakah harus ia berikan hak itu saat ini juga? tapi ia tidak seberani itu,aku takut ya aku sangat takut.
Putra mengangguk dan memeluk Arumi erat. "Mas ,akan bersabar dan menunggu sampai kamu benar-benar siap. Jadi,jangan merasa bersalah dan nikmati waktu mu untuk menerima mas sebagai suami mu."
__ADS_1
Malam itu menjadi awal keduanya menumpahkan rasa. Hingga berakhir pada kesepakatan bahwa keduanya akan saling menunggu dan menerima dengan keyakinan hati. Wajar saja Arumi membutuhkan waktu,namun bagaimana pun ia sudah mau memulai lebih cepat dengan penerimaan lebih awal,yang tidak membuat Putra harus berjuang keras.
"Sebaiknya kita tidur,kita akan kembali ke Jakarta besok pagi. Mas berharap kamu tidak setengah hati untuk ikut bersama mas,."
"Tidak mas,anggap saja ini langkah awal aku berperan sebagai seorang istri. Mengikuti kemanapun suaminya pergi."
Putra terharu dan mengecup kening Arumi. " Terima kasih sudah memaafkan mas, sekarang kita tidur."
Kini mereka mengarungi malam panjang bersama,saling mendekap dan memberikan kehangatan. Tidak ada kegiatan malam pertama atau apalah yang biasa dilakukan oleh suami istri,mereka hanya tidur untuk melepas kantuk meskipun tidak bisa dipungkiri kalau Putra sedang menahan hasratnya.
__ADS_1
Malam terakhir di Jogja menjadi awal cerita yang baik,semoga takdir selalu mengiringi.