Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST²


__ADS_3

Subuh berkumandang. Putra dan Aldi seperti biasanya pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, sedangkan Arumi shalat sendiri di rumah. Selepas shalat dan mengaji sebentar,ia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan terbaik pagi ini,ia ingin memasak makanan enak untuk adik dan suaminya.


Bau wangi dari dapur membuat Putra memutuskan untuk menghampiri tempat di mana sang istri, Arumi sedang berkutat membuat nasi goreng seafood dan acar timun kesukaan Aldi,jangan lupa ada kerupuk udang sebagai pelengkap.


Putra memeluk tubuh Arumi dari belakang tanpa sepengetahuan istrinya,tentu saja hal itu membuat Arumi terkejut dan hampir melempar spatula di tangannya.


"Maaasssss,ngagetin aja deh,kamu seneng ya kalau aku jantungan ?" ucap Arumi mencebikkan bibirnya


"Maaf sayang,mas hanya bahagia bisa melihat pemandangan ini di pagi hari, semuanya seperti mimpi." Putra masih memeluk erat tubuh istrinya, ucapan yang Arumi dengar membuat dirinya pasrah saat tubuhnya dipeluk oleh Putra.


"Sarapannya sudah siap mas, sebaiknya kita makan sekarang. Nanti setelah sarapan kita berpamitan pada tetangga dan warga terdekat, setelah itu baru kita bersiap-siap untuk kepulangan kita ke Jakarta.


"Iya sayang,mas ikut saja . "


Ketiganya sudah duduk di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar,ya sebut saja ruangan serbaguna. Jadi ruang tamu? bisa,jadi meja makan? bisa,jadi ruang keluarga? bisa. Pokoknya bisa deh ruangan multi fungsi.

__ADS_1


Makan dengan nikmatnya tanpa ada obrolan yang akan menggangu kenikmatan dalam setiap kunyahan. Pujian putra lontarkan hanya melalui bahasa mata penuh cinta,bukan lisan yang akan membuat Arumi bersemu merah.


"Kenapa mas Putra jadi genit seperti ini." ucap Arumi dalam hatinya,saat melihat putra mengedipkan sebelah matanya. Aksi putra terekam oleh mata kepala Aldi,ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apa mas Putra se receh ini saat jatuh cinta. Matanya kenapa itu? seperti kelilipan debu saja." ucap Aldi tentu saja dalam hatinya


**


Sarapan pagi pun telah selesai,kini saatnya Arumi dan Putra berpamitan pada orang-orang disekitar tempat tinggalnya. Arumi ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada warga sekitar yang sudah berbaik menerima keberadaan Arumi dan keluarganya.


"Sudah kak,mereka akan datang sebentar lagi."


"Baiklah, terima kasih. Kakak mau izin berpamitan dengan tetangga sekitar rumah kita Al."


"Yasudah gih, mumpung masih pagi dan belum ada yang pergi bekerja atau berladang di sawah."

__ADS_1


Arumi memulai dengan tetangga terdekat,ia memeluk erat Mbok Nah,wanita yang pertama ia kenali saat kepindahannya ke Jogja.


"Mbok,makasih ya untuk semuanya. Arumi tidak bisa membalas kebaikan mbok. Mulai hari ini Arumi akan ikut bersama suami ke Jakarta,tolong doakan kami agar menjadi suami istri yang sakinah, mawadah,dan warahmah."


"Hoalahhh nduk,mbok pikir kamu akan lebih lama tinggal di sini, taunya sudah mau pulang. Apa mas nya tidak betah di sini?" tanya mbok nah pada putra


Putra yang di ajak bicara pun hanya tersenyum dan bersalaman.


"Iya mbok,mulai saat ini istri saya harus ikut kemana pun saya pergi . " sahut Putra dengan lirikan mata pada Arumi,Arumi yang mendapatkan hal seperti itu nampak merona.


"Ya ampun,Kok mbok merasa menjadi nyamuk ya di sini. Mbok doakan kehidupan kalian akan selalu bahagia dan segera di kasih momongan oleh Gusti Allah." sahut Mbok Nah sambil mendoakan keduanya.


"Aamiin." sahut keduanya.


***

__ADS_1


__ADS_2