Surat Terakhir

Surat Terakhir
Menikah STS2


__ADS_3

Sejak kejadian makan bersama di rumah Arumi,seolah menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi kedua anak tersebut,mereka ingin mengulang dan mengulang setiap harinya.


Arka merengek setiap hari menginginkan Arumi tinggal bersama mereka,namun hal itu tentu saja tidak mungkin karena keduanya belum terikat dengan pernikahan.


"Yah,aku ingin ibu Arumi tinggal bersama kita,aku juga butuh teman bermain ,yah. Kalau ibu Arumi dan Rafa tinggal bersama kita rumah ini pasti rame,Yah." ucap Rafa yang terus merengek membuat Putra bingung harus menyikapinya seperti apa.


"Nak,hal itu tidak mungkin,ibu Arumi dan ayah tidak boleh tinggal dalam satu rumah,karena kita tidak memiliki hubungan keluarga atau hubungan darah" sahut putra sebijak mungkin agar Arka mengerti apa yang putra maksud.


"Lalu bagaimana caranya agar ayah dan Bu Arumi bisa tinggal satu rumah?" tanya Arka membuat Putra merasa terpojok dengan jawaban sebelumnya.


"Yah,kok diam si,aku kan tanya gimana caranya agar ayah dan Bu Arumi bisa tinggal satu rumah?" tanya Arka lagi yang membuat putra sadar dari lamunannya


"I....itu ayah juga bingung" jawab putra sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal


"Ayah gimana si,yasudah nanti aku tanya opa dan Oma saja" sahutnya dengan wajah yang tidak puas karena jawaban sang ayah.


Sejujurnya putra tahu harus menjawab pertanyaan anaknya dengan jawaban seperti apa, tentunya kalau keduanya ingin tinggal satu rumah maka putra dan Arumi harus terikat dengan ikatan pernikahan. Putra belum siap memulai hubungan baru, kepergian istrinya masih meninggalkan pilu di hatinya,di hadapan Arka dan keluarga yang lain putra nampak tegar dan baik-baik saja,namun saat ia sendiri semuanya berbeda,putra bisa berjam-jam memandangi foto mendiang istrinya dan tak jarang ia pun menangis.


Bukan hal yang sederhana ketika ditinggalkan orang yang berharga dalam hidup kita,termasuk Putra. Selain karena waktu singkatnya bersama Inka,Putra pun dilingkupi rasa bersalah yang tidak berkesudahan, meskipun nyatanya itu adalah sebuah takdir yang tidak bisa di rubah.


6 bulan lebih ia berjuang menata hatinya,dan kini ujian baru datang manakala sang anak menginginkan orang lain menjadi bagian dari hidup keduanya,apakah putra sanggup mengabulkan keinginan Arka? entahlah

__ADS_1


***


1 bulan kemudian. Hari ini adalah hari kesekian kalinya Arka membujuk sang ayah untuk menikahi Arumi.


Ketika hari itu Arka tidak mendapatkan jawaban dari sang ayah,ia berusaha bertanya kepada orang rumah termasuk Ayu pengasuhnya. Dengan antusias dan senang hati ayu menjawab pertanyaan anak asuhnya. Dan jawaban yang Arka terima saat itu adalah menikah ya menikah. Seseorang yang tidak terikat hubungan darah jika ingin tinggal satu rumah maka keduanya harus menikah, begitulah jawaban yang di terima Arka.


Sejak saat itu Arka terus merengek pada sang ayah untuk menikahi Arumi, meskipun Arka sendiri belum mengerti tentang apa itu pernikahan,namun baginya yang terpenting adalah menginginkan keberadaan Arumi dan Rafa di rumahnya.


"Ayah,Arka mohon .yah, menikah lah dengan ibu Arumi. Jika ayah tidak mau mengabulkan keinginan Arka,lebih baik Arka tinggal bersama ayah Arya dan bunda saja. Arka ingin punya ibu seperti yang lainnya" ucap Arka kembali memohon untuk kesekian kalinya,dan saat ini nampaknya kesabaran putra menemui batas.


"Arka! kenapa kamu jadi nakal seperti ini,ayah tidak suka punya anak pembangkang dan tidak nurut. Apa kamu akan semudah itu melepas ibu Inka dari hidup kamu dan mencari pengganti ibu baru,apa kamu tega Arka?!" ucapan Putra yang penuh kemarahan dan rasa sesak di dadanya hingga mengeluarkan kata-kata yang sedikit keras membuat Arka ketakutan dan menangis.


Arka ketakutan dan seketika airmatanya lirih dan menangis dengan kencang hingga membuat orang rumah menghampiri keduanya.


Putra yang menyadari kesalahannya pun segera mengejar Arka dan meminta maaf atas sikapnya yang sedikit keras.


"Nak,ayah tidak bermaksud seperti ini,ayah hanya tidak suka dengan permintaan kamu. Maafkan ayah yang belum bisa mengabulkan keinginan kamu,keluar sayang,ayah mohon" Putra terus mengetuk pintu kamar Arka dan berusaha membujuk agar Arka memaafkan perlakuan Putra.


Menjelang makan siang Arka belum juga mau membuka kamarnya, sedangkan Putra dengan setia menunggui anaknya keluar dari dalam kamar.


"Sayang,sudah waktunya makan siang,keluar nak nanti kamu sakit. Ayah mohon keluar dari dalam kamar,kita bicarakan ini baik-baik,jika kamu terus marah dan mengunci diri bagaimana kita akan menemukan solusi,ayolah sayang keluar sekarang" ucap Putra yang sudah hampir menyerah karena tidak tahu harus membujuk seperti apa lagi.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 14:00 namun putra masih kesulitan membujuk Arka untuk keluar dari kamarnya,hingga akhirnya ayu datang memberikan solusi.


"Pak, bagaimana kalau kita hubungi Mbak Arumi saja,kasihan den Arka kalau terus mengurung diri di kamar,siapa tahu saja den Arka mau keluar jika mbak Arumi yang membujuk." ucap ayu berharap sang majikan menyetujui sarannya,karena bagaimanapun ayu sangat setuju jika yang menjadi ibu untuk Arka adalah Arumi.


Putra nampak terdiam, meskipun dia sudah melihat keadaan anaknya dari cctv tetap saja Putra masih khawatir terlebih Arka hanya meringkuk di atas tempat tidurnya, sesekali dia bangun untuk ke kamar mandi setelah itu ia kembali berbaring.


"Apa dia akan datang ? saya tidak enak karena takutnya mengganggu"


"Bapak tenang saja,mbak Arumi pasti mau datang kesini apalagi menyangkut den Arka. Bapak mau menelpon langsung mbak Arumi? kebetulan saya punya nomor telepon nya" tawar ayu yang sengaja membuat keduanya lebih dekat,padahal bisa saja ayu yang menelpon Arumi.


Putra nampak menimbang tawaran ayu hingga akhirnya ia menerima.


"Boleh deh"


Ayu pun tersenyum puas dan memberikan nomor telepon Arumi pada majikan tersebut. Setelah Nomor telepon di berikan Putra langsung menghubungi Arumi dengan perasaan gugup,putra bingung harus memulai pembicaraan seperti apa.


"Tut....Tut... Tut " suara panggilan yang belum di angkat oleh pemilik nomor di seberang sana, setelah menunggu dan menelpon beberapa kali akhirnya dijawab oleh pemilik nomor.


"Halo" suara Arumi seolah menunggu jawaban dari sang penelepon.


Baru saja Arumi akan mematikan telpon nya karena Marasa tidak ada yang berbicara,namun tiba-tiba suara maskulin itu menghentikan laju tangan Arumi yang akan menekan tombol merah di hapenya.

__ADS_1


"Halo ,apa saya sedang berbicara dengan ibu Arumi?" ucap putra bertanya,namun orang diseberang telpon seolah sedang memikirkan sesuatu, tentang suara yang tidak asing diperdengarkannya ini.


__ADS_2