
Arumi tidak langsung menjawab dan memilih untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada Putra. Meskipun hubungan yang kelak akan terjalin adalah tanpa cinta,namun bagi Arumi komitmen tetaplah komitmen yang harus dijalankan termasuk pernikahan.
"Aldi kamu bawa anak-anak bermain kakak ingin bicara dengan pak Putra" Arumi menyuruh Aldi membawa keduanya agar tidak mendengar percakapan orang dewasa
"Baik,kak." Aldi berdiri dan membawa keduanya masuk ke dalam kamar milik Rafa.
Arumi pun memulai pembicaraan.
"Apakah ,pak Putra melakukan ini semua karena sebuah keterpaksaan?" Tanya Arumi membuat putra bingung harus menjawab apa,karena sejujurnya menikah dalam waktu dekat tidak ada dalam rencananya.
Dari diamnya putra ,Arumi sudah bisa menyimpulkan bahwa menikah bukankah keinginan dirinya. Arumi pun menyadari bahwa anak-anak lah yang menginginkan keduanya bersatu.
"Saya tahu hal ini tidak mudah untuk bapak ,begitu juga dengan saya. Tapi jika alasannya untuk kebahagiaan anak-anak,kita bisa mencobanya."
"Maksud ibu,ibu bersedia menerima lamaran saya?"tanya putra memastikan
Arumi pun mengangguk.
"Alhamdulillah. Ibu benar, sejujurnya saya belum kepikiran untuk mencari pengganti mendiang istri saya,apalagi kepergian istri saya belum genap 1 tahun. Saya melakukan ini untuk Arka,saya pernah melakukan sebuah kesalahan yang begitu besar,dan saya akan berusaha menebusnya salah satunya dengan memastikan kebahagiaan anak saya. Saat ini kebahagiaan anak saya adalah anda,jadi saya akan berusaha untuk mengabulkannya, seperti yang ibu katakan, ini tidak mudah."
"Saya pikir kita saling menguntungkan dalam hubungan ini,ibu bisa memberikan status ayah untuk Rafa begitu juga dengan Arka. Namun saya tidak yakin bisa memberikan status suami seutuhnya untuk ibu,karena saya belum bisa melupakan istri saya" ucap Putra terus terang.
Mendengar ucapan Putra yang terus terang membuat Arumi sedikit meringis mendengarnya, bagaimana tidak, kata-kata yang terdengar santai namun menusuk ke ulu hati,apakah ini yang dinamakan berkorban.
__ADS_1
"Tidak masalah pak,yang terpenting untuk saat ini adalah kebahagiaan anak-anak, terlepas kita nanti bahagia atau tidak sebagai orang tua kita masih bisa menyembunyikan nya. Lalu apa rencana bapak selanjutnya? "
"Saya ingin menemui keluarga besar ibu,dan menyampaikan maksud dan tujuan saya sebenarnya. Kapan saya bisa bertemu dengan mereka?" Tanya Putra
"Hhmhh,keluarga saya hanya Aldi dan Rafa saja pak. Ayah dan ibu saya sudah meninggal diwaktu yang berbeda, meskipun ada beberapa kerabat,tapi mereka tidak tinggal di sini" ucap Arumi terus terang.
Putra cukup terenyuh mendengarnya,ternyata Arumi benar-benar wanita tangguh yang berjuang membesarkan anak dan adiknya.
"Maaf saya benar-benar tidak tahu," ucap putra merasa tidak enak.
"Tidak apa apa pak, setelah bapak mengetahui hal ini apa bapak akan membatalkannya?"
"Tentu tidak, sejujurnya saya ingin mempercepat acara pernikahan ini. Saya harus mengurus projek saya di luar kota,dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sementara saya tidak ingin meninggalkan anak saya bersama keluarga yang lain,apa bisa pernikahan kita dipercepat?"
"Saya tidak ingin menunda pernikahan ini dan mengecewakan Arka. Besok sore saya harus pergi ke luar kota. Jika ibu berkenan apa kita bisa menikah secara siri besok pagi? Setelah urusan saya beres kita akan mengurus dan mendaftarkan pernikahan kita secara legal."
Arumi lagi-lagi terkejut mendengar ajakan putra yang serba tiba-tiba,lamaran ,ajakan menikah dan setelah ini apalagi? Ingin rasanya Arumi menolak namun ia harus memikirkan perasaan kedua anak yang begitu mengharapkan ibu dan ayah.
"Apa harus secepat ini pak,kenapa tidak dilakukan saat bapak kembali dari pekerjaan bapak saja?" Arumi mencoba bernegosiasi dengan putra berharap bapak satu anak itu mengiyakan.
"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya,bahwa saya tidak ingin mengecewakan anak saya. Dan saya harus pergi keluar kota dalam beberapa waktu,saya ingin Arka tetap di rumah meskipun tidak ada saya,jika ibu bersedia menikah dengan saya maka saya akan mempercayakan ibu untuk menjaga anak saya "
"Apa tidak ada cara lain,saya masih bisa menjaga anak bapak tanpa adanya ikatan pernikahan"
__ADS_1
"Maaf Bu, bagaimana pun saya masih mempunyai etika , seseorang yang belum memiliki hubungan namun sudah diberikan tanggung jawab untuk menjaga anak, rasanya itu tidak pantas,toh untuk sekedar menjaga saya sudah memiliki ayu sebagai pengasuh arka."
"Hmmhh bagaimana ya pak,apa semuanya akan baik-baik saja,lalu bagaimana dengan keluarga bapak?"
"Semuanya akan baik-baik saja. Saya akan menghubungi keluarga besar saya dan juga keluarga mendiang istri saya malam ini juga. Bahkan cincin pernikahan pun sudah di siapkan oleh mendiang istri saya jika kelak saya akan menikah kembali. Dan mungkin ini waktunya,saya harap ibu bersedia menikah besok dengan saya"
"Baiklah kalau begitu,saya percayakan semuanya pada bapak. "
"Kalau begitu saya akan meminta secara langsung pada adik ibu untuk menjadi wali di pernikahan besok,saya rasa dia sudah bisa menjadi wali Bu Arumi"
"Iya pak"
Tak lama Aldi Rafa dan arka pun sudah bergabung bersama keduanya. Putra meminta izin pada Aldi untuk menjadi wali di pernikahan besok. Awalnya Aldi ragu dan merasa tidak percaya bahwa kakaknya menerima lamaran Putra,namun setelah sang kakak meyakinkan akhirnya putra pun menyetujuinya.
Arka dan Rafa begitu bahagia saat mereka mengetahui bahwa Arumi dan Putra akan menikah besok. Meskipun mereka tidak mengerti apa itu pernikahan,namun yang jelas dengan keduanya menikah berarti memberikan mereka seorang ibu dan ayah.
**
Sepulang dari rumah Arumi Arka langsung pergi ke rumah Erwin dan juga rumah orangtuanya,tak lupa ia pun meminta izin pada keluarga Arya dan Bu Rahmi. Putra membicarakan perihal alasannya menikah besok,dan siapa wanita yang akan menjadi pengganti Inka. Sejujurnya Erwin ingin melihat secara langsung dan menilai seperti apa sosok wanita yang akan menjadi ibu dari cucunya,ia tidak ingin kalau putra salam memilih istri.
Putra meyakinkan keluarga besarnya dan juga keluarga Inka,bahwa wanita yang akan menjadi istrinya adalah wanita baik dan juga Putra menceritakan status Arumi yang seorang single parents. Saat keluarga bertanya lebih jauh Putra pun menyudahi pembicaraan.
Setelah urusan dengan keluarga besar selesai,Putra pun langsung menghubungi sahabatnya yaitu Raka. Raka masih menjadi orang yang berpengaruh dalam dunia pendidikan dan juga pemerintahan,Putra meminta tolong untuk disiapkan penghulu untuk menikahkan dirinya besok pagi. Hal itu bukan perkara yang sulit untuk Raka,namun acara pernikahan yang mendadak ini membuat Raka berpikiran buruk,apa putra sudah merusak seorang wanita yang mengharuskannya bertanggungjawab apalagi hanya menikah siri? entahlah.
__ADS_1