
"Apa maksud kamu Al?" tanya Arumi
"Tadi warga bertanya tentang mas Putra,karena biasanya Aldi pergi ke masjid bareng Rafa,yasudah sekalian saja aku perkenalkan mas putra pada mereka,agar warga tidak menduga-duga. Oiya kami juga mengundang mereka untuk datang ke acara syukuran kalian."
"Maksud kamu apa Al ,kakak masih belum paham?"
"Ah kakak ini menyebalkan. Kakak harus membuat acara untuk mengundang warga sekitar,pak Mujib mengusulkan untuk menghindari fitnah, bagaimana pun kalian sudah lama berpisah,oiya kalau warga tanya perihal mas Putra yang baru kelihatan jawab saja tugas ke luar kota."
Arumi menarik napas panjang.
"Kenapa kalian selalu membuat keputusan tanpa melibatkan aku. Kalau sudah begini semuanya repot."
"Hhmhh gini rum,kamu tidak perlu repot-repot memasak atau membuat kue,aku akan memesan katering saja kebetulan Raka punya kenalan yang mengelolanya,jadi kita terima beres saja."
"Baiklah,kalau seperti itu,lagi pula aku masih lelah jika harus mempersiapkan acara. Aku serahkan semuanya pada bapak, sekarang kalian sarapan saja."
"Kenapa hanya kami berdua,lalu kamu?" tanya Arumi
"Aku nanti saja pak,kalian saja yang sarapan."
__ADS_1
"Jangan rum,kita makan bersama saja." paksa Putra
Aldi tersenyum melihat pemandangan keduanya.
"Iya kak,kita sarapan saja,kamu jangan menunda-nunda sarapan lambung mu kan tidak bersahabat."
"Hmmh baiklah."
Menikmati sarapan dengan suasana yang berbeda,tidak ada celotehan Rafa namun digantikan dengan sosok Putra. Arumi sedikit canggung namun mencoba setenang mungkin. Hingga acara sarapan selesai tidak ada yang membuka suara.
Pukul 10 pagi Aldi Pamit untuk pergi ke kampus,kini tinggal Arumi dan Putra di rumah. Sebelumnya Arumi sudah meminta Aldi untuk meliburkan sari dan Alif karena merasa badannya belum cukup sehat.
"Kenapa kamu malah memegang pekerjaan rumah, bukannya kamu libur membuka toko karena akan beristirahat? istirahat lah rum jangan sampai badanmu tanpa ngedrop." ucap Putra khawatir pada Arumi
"Tidak apa-apa pak,kalau menunda lagi pasti akan menumpuk ."
"Tapi kamu masih sakit,apa kamu mencuci dengan tangan,tanpa mesin cuci?" tanya Putra
"Aku sudah biasa pak,lagian untuk saat ini kami sedang berhemat yang penting kami bisa membuka toko kue untuk bertahan hidup." ucap Arumi membuat putra tercubit, bagaimana mungkin ia membiarkan wanita yang kini menjadi istrinya harus berjuang untuk bertahan hidup, sedangkan Putra menikmati hidupnya dengan segala kemewahan yang ada.
__ADS_1
"Bangunlah aku akan membantu mu."
"Tidak pak,ini pekerjaan saya."
"Bangun atau saya tarik paksa kamu ke dalam."
"Tapi pak."
"Tidak ada tapi tapi, bangunlah rum. Aku memaksa mu demi kebaikan mu."
"Hmmh yasudah saya tidak akan mengerjakannya,tapi bapak juga jangan melakukannya. Saya akan mengerjakannya saat badan saya sudah lebih baik."
"Baiklah saya setuju, sekarang istirahat lah."
"Baik," saat Arumi akan bangun dari bangku kecil yang ia duduki di kamar mandi tiba-tiba kepalanya pusing dan ia hampir saja terjatuh, untung saja Putra masih berada di sana dan menangkap tubuh Arumi.
"Ya ampun rum. Aku bilang juga apa,biar ku gendong ke kamar."
"Saya tidak apa-apa pak,cuma sedikit pusing mungkin karena darah saya rendah."
__ADS_1
Putra tidak mendengar ucapan Arumi,ia tetap membopong tubuh Arumi menuju kamarnya. Mau tidak mau Arumi pun pasrah dan membelitkan tangannya ke leher Putra agar tidak jatuh, hal itu membuat jantung keduanya kembali berolahraga.