
"Bu, apakah Inka sudah bangun dan pergi kuliah?" tanya Putra
Bu Darmi yang di tanya seperti itu mendadak lidahnya kaku.
"Bapak sarapan dulu saja,Mbak Inka titip pesan kalau dia menaruh sesuatu di laci kamarnya,"
"Baiklah,sarapan saya pun hampir selesai,nanti saya akan langsung ke kamarnya. Bu apa saat saya tidak ada Inka baik baik saja,dan bagaimana kehamilannya?" tanya putra.
Ingin rasanya Bu Darmi menggelengkan kepalanya dan bersumpah serapan atas sikap putra, bagaimana bisa laki-laki yang tak lain adalah seorang suami,bertanya keadaan istrinya pada seorang asisten rumah tangga, bukankah teknologi sudah baik,ada hp untuk menghubungi.
"Keadaan mbak Inka tidak baik-baik saja pak,badannya semakin kurus bahkan tidak ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya, sekalipun ada akan terbuang kembali. Bahkan mbak Inka memutuskan untuk tidak pergi ke kampus karena keadaannya begitu parah,kami bingung harus menghubungi siapa, sementara no telepon bapak tidak aktif"
"Maafkan saya Bu,ada hal yang harus saya urus dan saya salah karena menonaktifkan hape saya,karena semakin banyak orang mengetahui dan menghubungi saya,saya rasa semuanya akan baik-baik saja. Bersyukur saat ini semuanya sudah teratasi,dan saya akan menebus dosa saya pada istri dan anak yang masih dalam kandungan istri saya"
"Semoga saja pak" ucap Bu Darmi melemah
"Apa maksud ibu?"
"Mbak Inka sudah meninggalkan rumah ini beberapa hari yang lalu bahkan sudah semingguan,ada seorang perempuan paruh baya yang mengantarnya kesini dan membantu mbak Inka mengemasi barang-barangnya,mbak Inka bilang itu Oma nya" ucap Bu Darmi
Deg deg deg
Putra merasakan jantungnya berdetak tidak pada ritmenya,seolah kehabisan nafas begitu sesak,Dia pikir semuanya akan baik-baik saja,bahkan semalaman dia masih bisa tidur nyenyak dan makan lahap, begitu pun pagi ini. Tapi mendapati kenyataan bahwa Inka tidak ada di rumah membuat Dia merutuki kebodohannya.
"Kenapa Bu Darmi tidak mengatakannya sejak semalam Hah!" ucap putra marah
"Sa__saya melihat kondisi pak putra seperti kelelahan dan butuh istirahat,saya pikir walaupun diberi tahu hari ini bapak pasti akan menyusul mbak Inka dan membawanya kembali"
__ADS_1
Putra menarik paksa rambutnya,menyesali kebodohannya selama ini,Dia tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi,Inka gadis itu cukup penurut dan tidak pernah menuntut banyak hal,akan sangat mudah meluluhkan nya,namun putra salah besar,gadis penurut itu punya hati ,yang mungkin akan menyerah saat dirinya tidak dipedulikan.
Putra langsung berlari ke arah kamar yang sempat di tinggali Inka, setelah memasuki ruangan itu begitu hening,tidak ada barang-barang Inka yang tertinggal,hanya tempat tidur dan lemari yang kosong.
Putra duduk di sisi tempat tidur,aroma parfum inka masih ada di atas bantalnya,Putra mencium aroma itu dalam-dalam dan ia baru menyadari bahwa dirinya sangat merindukan Inka. Teringat pesan Bu Darmi bahwa Inka menyuruhnya untuk membuka laci nakas,Putra pun membuka laci tersebut,ada sebuah kotak cincin, selembar surat dan amplop coklat besar dan foto USG yang Inka tinggalkan untuk putra.
^^^Foto USG itu terdapat sebuah tulisan "Ayah aku akan tumbuh dengan baik di rahim ibu,jangan khawatir, berbahagialah ayah,aku dan ibu akan melakukan hal yang sama"^^^
Putra meneteskan air matanya, bagaimana mungkin Dia bisa melakukan kebodohan ini,membiarkan istrinya menderita sendiri saat sedang mengandung anaknya. Tak sampai di situ putra membaca tulisan yang tertera di atas amplop coklat besar.
^^^Mas,ini perlengkapan berkas ku untuk syarat-syarat perceraian kita,aku juga sudah meminta sahabat ku Lala untuk mengirimkan formulir perceraian, kebetulan ayahnya seorang pengacara,aku sudah menandatanganinya sebagai penggugat,jika sudah selesai mas kirim ke alamat ini,biar papah Lala yang melakukannya,aku sudah meminta tolong untuk mengurusnya.^^^
Lagi-lagi putra tidak bisa menahan laju airmatanya, penyesalan hanyalah penyesalan,ia tidak menyangka hal seperti ini akan dia alami,semua karena kebodohannya.
Yang terakhir putra membaca selembar surat yang Inka tulis.
...Assalamualaikum Mas....
"Maafkan mas Inka" ucapnya disela membaca dengan linangan air mata
Mas, sepertinya aku menyerah dengan pernikahan kita,aku tidak bisa membuatmu mencintai ku,dan aku semakin merasa bersalah karena menjadi orang ketiga di antara mas putra dan Bu Raya.
"Tolong berikan mas kesempatan,sayang"
Mulai saat ini mas tidak perlu khawatir lagi dengan ku dan anak dalam kandungan ku,aku berjanji akan menjaganya dengan baik bahkan aku rela mempertaruhkan hidup ku untuk anak dalam kandungan ku ini.
"Bagaimana mungkin mas tidak mengkhawatirkan kalian,saat ini tujuan hidup mas hanya kalian,tolong maafkan mas"
__ADS_1
Aku pamit mas,jaga dirimu baik-baik,aku berdoa untuk kebahagiaan mas dan Bu raya. Aku mengembalikan cincin pernikahan dan semua yang pernah kamu berikan,aku merasa tidak layak menerima. Berbahagialah mas,semoga kita masih memiliki kesempatan untuk saling bertemu.
"Jangan pernah lakukan ini sayang,mas dan Raya sudah menyelesaikan semuanya,dia sudah mengikhlaskan hubungan kita sayang,mas datang untuk meminta maaf dan mas mau memulai semuanya dari awal, tolong maafkan mas yang bodoh ini"
Putra menangis tersedu-sedu, airmatanya seolah tidak mau berhenti, penyesalan semakin besar. Setelah dirasa cukup menangis Putra mengaktifkan hapenya,dan setelah aktif begitu banyak pesan dan telpon yang masuk,termasuk dari Inka yang beberapa kali mengunjunginya.
Putra berlari keluar dan kembali bertanya pada Bu Darmi.
"Bu... Bu Bu Darmi" ucap putra berteriak
Bu Darmi yang sedang mencuci pakaian lari tergopoh-gopoh kerena mendengar putra memanggil namanya.
"I__ iya pak,ada apa?"
"Apa ibu tau kemana istri saya pergi?" tanya putra
"Tidak pak,yang saya tau Inka pergi bersama Omanya"
Putra pun memutuskan untuk ke kamarnya dengan membawa cincin dan surat-surat yang Inka tinggalkan. Pernikahan karena perjodohan membuat putra tidak terlalu mengenal keluarga besar Inka,termasuk Oma nya,putra akan mendatangi rumah mertuanya dan meminta informasi tentang Oma yang di maksud Bu Darmi, dan kalau perlu putra akan meminta ampunan karena sudah menyia-nyiakan Inka.
**
Berbeda dengan Erwin sama terpuruknya seperti putra, setelah membaca surat yang di kirim Inka hatinya begitu hancur,bahkan Dia merasa bersalah pada putrinya itu. Erwin mengakui dirinya seorang pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cintanya. Erwin pun tidak menyadari bahwa selama ini Inka begitu menderita, alih-alih akan merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang justru sebaliknya.
"Maafkan ayah sayang, tolong kembali pada ayah,ayah berjanji akan menebus semua kesalahan ayah. Maafkan ayah yang terkesan menghindari mu,karena wajahmu mengingatkan ayah pada ibumu. Tapi sekarang akan melawan itu,dimana kamu sekarang" ucap Erwin menangisi surat yang di berikan Inka.
Maya wanita itu pun merasa terkejut setelah membaca surat yang Inka kirim untuk ayahnya,rasa bersalah dan penyesalan pun ikut ia rasakan,karena Maya sendiri yang mengurus semuanya, meskipun ia melakukannya setengah hati pada inka. Ucapan terima kasih yang Inka berikan dan ucapan sayang yang tertulis untuk dirinya dan kedua anaknya, justru membuat penyesalan Maya bertambah besar.
__ADS_1
Erwin mengurung diri beberapa hari ini,yang ia lakukan hanya menangis dan memeluk foto Inka. Memanglah sebuah penyesalan adalah cara terbaik untuk menyadarkan sebuah keputusan yang dihasilkan dari kebodohan.
***