
Kehidupan rumah tangga Arumi dan Putra semakin hari semakin membaik bahkan kebahagiaan selalu meliputi keluarga kecil mereka. hari ini tepat 1 bulan Arumi berada di rumah Putra jadi istri sekaligus Ibu sambung bagi Arka, banyak hal yang sudah terjadi entah itu hal baik ataupun hal buruk yang pernah dilalui oleh Arumi dan kini Arumi memetik hasil dari kesabarannya, keluarga yang harmonis dan bahagia.
Sejak kemarin Arumi tidak pernah keluar dari kamarnya entah kenapa wanita itu lebih suka berbaring di kamar sambil bermalas-malasan, bahkan sudah hampir beberapa hari ini ia tidak menyentuh wilayah dapur untuk memasak seperti biasanya. belum lagi situasi kamar yang harus gelap dan jauh dari kebisingan, Arumi tidak mengijinkan pendar memasuki kamarnya aneh memang, namun hal itu tidak menjadi permasalahan untuk putra mungkin karena Arumi sedang tidak enak badan dan dia berusaha memenuhi keinginan istrinya.
"Sayang aku pergi ke kantor dulu ya, kalau ada apa-apa nanti kamu hubungi aku saja, jangan terus mengurung diri di kamar nanti badanmu sakit semua, kalau kamu butuh apa-apa segera kasih tahu Bik hanas kalau tidak kamu hubungi Mas aja ya, jangan lupa sarapannya dimakan mas tidak ingin kamu sakit. Arka juga pamit ke ke sekolah, oh iya katanya dia izin menginap di rumah Rafa hari ini. Tadinya dia mau minta izin langsung ke kamu tapi aku melarangnya, takut ganggu kamu, "
"Ya sudah kalau seperti itu mas hati-hati ya dijalan, bilang juga sama Arka jangan nakal-nakal dan jangan merepotkan bunda Rafa di sana. maaf aku tidak bisa mengantarkan dia menginap di rumah Rafa, entah kenapa badanku begitu lemas dan tidak bertenaga rasanya tiduran seperti ini menjadi hal yang menyenangkan bagiku ketimbang harus wara-wiri seperti biasanya."
"Bagaimana kalau setelah Mas pulang dari kantor kita pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaanmu? Mas tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu. Apa yang kamu keluhkan?"
"Tudak usah Mas, aku tidak sakit kok cuman kepalaku pusing dan perutku sedikit mual belum lagi tubuhku yang lemas seperti tidak bertenaga, istirahat juga sudah cukup nanti baikan Mas. Sebaiknya kamu pergi saja ke kantor nanti kesiangan, jangan mengkhawatirkan aku, nanti kalau ada apa-apa aku hubungi mas,"
"Baiklah, kamu baik-baik ya di rumah. Pokonya kalau ada apa-apa segera hubungi Mas,"
"Iya Mas bawel, aku akan langsung menghubungi kamu."
Dengan berat hati Putra meninggalkan istrinya sendiri, sebelumnya ia sudah menitipkan pada asisten rumah tangga mengenai kondisi Arumi.
"Bi, titip istriku ya, dia sedang tidak enak badan kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi saya,"
__ADS_1
"Baik pak,"
"Makasih ya Bi,"
Siang hari suara Arumi terdengar sedang memuntahkan isi perutnya di kamar mandi, hal itu menjadi perhatian Bi Hannas yang sedang mengepel lantai atas, dengan sedikit kepanikan dia membanting kain pel yang sedang digunakan untuk membersihkan lantai. Bi Hannas langsung berlari menuju kamar milik majikannya.
"Mbak Arumi kenapa? " tanya bi Hannas yang melihat Arumi terduduk di lantai kamar mandi setelah memuntahkan isi perutnya
"Bi perutku mual sekali, kepalaku pusing Bi. Aku tidak kuat lagi, rasanya badanku tak memiliki tulang,"
"Ya ampun Mbak, mari bibi bantu untuk ke tempat tidur. Sebaiknya saya hubungi bapak saja ya , soalnya tadi bapak berpesan untuk menghubunginya kalau terjadi sesuatu sama mbak Arumi,"
"Jangan Bik, bantu saya ke tempat tidur saja. Tolong buatkan saya teh manis hangat dan ingat jangan hubungi mas Putra, pasti dia sedang sibuk dengan pekerjaannya."
"Tidak apa-apa bi suami saya tidak akan marah sama bibi soalnya kan saya yang minta, saya mungkin hanya masuk angin saja nanti setelah beristirahat dan minum teh hangat yang dibuatkan insyaallah akan membaik,"
"Ya sudah kalau seperti itu saya bantu ya Mbak untuk pindah ke tempat tidur setelah itu saya akan segera membuatkan teh hangat agar perut Mbak lmenjadi lebih baik,"
"Makasih ya Bi,"
__ADS_1
Dengan hati-hati Bi hanas memindahkan Arumi menuju tempat tidur, setelah berhasil membantu Arumi untuk berbaring pandangan Bi Hanas mengarah ke arah nakas yang terdapat sarapan pagi yang masih utuh.
"Mbak kau ini sarapannya masih utuh sih kenapa belum dimakan? nanti bapak marah kalau mbak nggak makan sarapannya, saya buatkan yang baru ya Mbak agar ada asupan yang masuk nanti kalau Mbak tambah sakit bagaimana ,"
"Saya tidak berselera untuk makan Bik perut saya terasa mual, jangankan untuk memakannya melihatnya saja saya sudah ingin muntah. Saya juga bingung kenapa perut saya jadi seperti ini, padahal saya sudah meminum obat maag tapi belum ada juga perubahan. Bibi tidak perlu khawatir nanti biar saya yang menjelaskan ke suami saya ya, sekarang Bibi tolong buatkan saya teh hangat dulu saja,"
"Baik mbak sarapan yang pagi saya bawa ya? nanti saya buatkan bubur saja mungkin Mbak tidak berselera makan yang berminyak atau yang lainnya atau saya buatkan bubur kacang saja yang penting ada makanan yang masuk ke tubuh Mbak Arumi,"
"Tidak usah Bi saya minta teh hangatnya saja ya, tolong buatkan secepatnya pokoknya saya tidak berselera untuk makan hari ini, saya tunggu ya Bi teh hangatnya,"
"Baik mbak tunggu sebentar ya saya buatkan dulu,"
Arumi pun kembali berbaring di tempat tidurnya merasa kan perutnya yang mual dan kepalanya yang pusing dia pun memikirkan apa yang sebelumnya dia makan namun tidak ada yang aneh apa yang ia konsumsi adalah apa yang dia makan sehari-hari. Sedangkan Bi Hannas segera membuatkan teh hangat untuk Arumi setidaknya ada asupan yang masuk agar Arumi tidak terlalu lemas.
Pukul 5 sore adalah waktunya Putra kembali dari kantornya, biasanya Arumi akan menunggu di depan pintu untuk menyambut kedatangannya namun selama beberapa hari ini hal itu tidak dilakukan Arumi. Saat Putra memasuki kamar, ia tidak mendapati keberadaan Arumi, akhirnya putra memutuskan untuk mencari Arumi di kamar mandi. Dia melihat istrinya tergeletak di kamar mandi, Putra langsung panik dan berteriak-teriak memanggil orang rumah untuk menyiapkan mobil.
"Sayang bangun,kenapa kamu bisa jatuh di kamar mandi? Baik Hannas ..." Putra membopong tubuh Arumi sambil berteriak memanggil orang rumah, alhasil hal itu membuat di hanas berlari tergopoh-gopoh ke arah Putra.
"Ya Allah, Mbak Arumi kenapa Pak?"
__ADS_1
"Tolong beritahu pak supir untuk menyiapkan mobil, saya akan membawa istri saya ke rumah sakit,"
Tanpa menjawab bi Hannas pun langsung berlari ke arah pos satpam untuk menyuruh Pak supir mempersiapkan mobil yang belum lama diparkiran.