
Hari demi hari Inka lalui seperti biasanya,menjadi istri tapi seperti kehilangan fungsinya. Selama beberapa hari ini Putra harus kembali saat malam,dan Dia jarang sekali ada di rumah. Pulang hanya untuk mengganti pakaian dan tidur,tidak ada obrolan singkat antara suami istri.
Inka menjadi pendiam dan seperti hidup dalam dilema yang tak berkesudahan, selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari kepalanya. Setiap pulang dari kampus Dia langsung pulang ke rumah dan membersihkan diri,tak jarang makan malam ia lewatkan. Putra hanya memberikan nafkah lahir saja sedangkan yang lainnya tidak ada.
***
2 bulan usia pernikahan Inka dan Putra namun kehidupan pernikahan mereka seperti dunia asing,Putra terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan Inka memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kehidupannya sendiri,karena prinsipnya ketika Dia tidak melakukan tugas istri dengan baik maka Dia tidak ingin menikmati begitu saja nafkah yang diberikan oleh suaminya. Hal seperti ini seperti Dejavu baginya,Inka pernah melakukan hal ini saat SMP dulu.
Putra tidak mengetahui perihal Inka bekerja,bahkan dia tidak tahu bahwa nafkah yang dia berikan sama sekali tak tersentuh. Apa sebegitu cueknya kehidupan rumah tangga mereka.
Inka selalu mencoba mengurus suaminya,bahkan gaji pertamanya dia belikan bahan untuk memasak,namun sayangnya Putra tidak tertarik untuk bisa menikmati makanan yang dihidangkan oleh Inka .
"Mas,aku sudah memasak,apa kamu mau menemaniku makan malam?" tanya Inka menghampiri Putra yang baru saja pulang.
"Maaf,tadi teman-teman di kantor mentraktirku makan,jadi kamu makan saja sendiri,aku lelah dan ingin langsung beristirahat" ucap Putra dan langsung meninggalkan Inka.
Inka terdiam dan tidak terasa buliran bening jatuh dari pelupuk matanya. Inka tidak punya selera untuk melanjutkan makan malamnya,masakan yang Dia buat pun Inka bungkus dan di berikan pada satpam yang berjaga malam itu.
Inka memilih untuk masuk ke dalam kamarnya,dan membaringkan tubuhnya yang lelah jiwa dan raga. Air matanya seolah memahami perasaan terdalam Inka,jatuh dan mengalir begitu saja.
"Mengapa nasibku selalu seperti ini, untuk menikmati kasih sayang keluarga yang utuh aku harus merasakan kepahitan lebih dulu,dan sekarang apa aku harus merasakan hal yang sama?"
"Aku lelah,rasanya aku tidak sanggup lagi bolehkah aku egois untuk bisa menikmati kehidupan yang seperti kebanyakan?"
Inka terlelap tanpa Dia sadari.
Keesokan harinya badan Inka demam dan perutnya mual luar biasa,dia memuntahkan isi perutnya yang tidak mengeluarkan apa-apa karena memang tidak ada asupan yang mengisi lambungnya.
Di luar kamar saat Putra baru saja akan berangkat bekerja mendengar suara Inka muntah-muntah,dan Ia pun memutuskan untuk melihat keadaan istrinya tersebut. Benar saja Inka sedang terduduk di lantai kamar mandi dengan wajah pucat dan badan yang panas.
"Inka,kamu kenapa?" ucap Putra yang langsung berlari ke arah istrinya.
__ADS_1
Inka hanya menggeleng seolah menjawab bahwa dia baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak. Putra menghampiri Inka dan betapa terkejutnya Dia saat memegang tangan Inka.
"Inka kamu demam" ucap putra sedikit panik.
"Tidak apa apa mas,nanti minum obat juga sembuh. Kamu berangkat saja aku akan mengurus diriku sendiri" sahut Inka lemah.
"Sejujurnya saat ini memang akan ada ujian di sekolah,namun keadaan kamu tidak memungkinkan untuk aku tinggalkan"
"Mas,aku merasa aneh mendapatkan perhatian dari kamu,sudah aku tidak apa apa aku akan menelpon sahabat ku, kebetulan hari ini tidak ada jadwal kuliah"
Putra terdiam mendapatkan ucapan menohok dari Inka,memang benar selama 2 bulan usia pernikahan mereka Putra sama sekali tidak memperhatikan istrinya dengan baik,bahkan cenderung tidak peduli.
Putra membantu Inka berbaring di ranjangnya,dan memanggil dokter yang kebetulan rumahnya sangat dekat dari kediaman Putra.
"Aku panggil dokter dulu untuk memeriksa keadaan kamu"
"Tidak perlu mas,aku selalu menyediakan obat untuk pertolongan pertama. Jadi tidak usah memanggil dokter"
"Rasa bersalah?" gumam Inka dalam hatinya
Inka pun tidak bisa menolak. Beberapa waktu kemudian dokter yang di minta datang pun sudah berada di samping Inka, dokter laki-laki yang sudah tidak muda lagi. berdasarkan ciri-ciri yang putra sebutkan dokter tersebut bisa menduga apa yang sedang Inka alami.
Dengan telaten dokter memeriksa keadaan Inka,benar sesuai dugaannya kalau Inka mengalami radang dan asam lambung,belum lagi berkurangnya cairan dalam tubuhnya.
Dokter memutuskan untuk menginfus Inka dan memberikan vitamin melaluinya infusan,dan dokter meresepkan obat yang harus di tebus.
"Bagaimana keadaannya dok? tanya Putra
"Istri bapak mengalami radang dan asam lambungnya naik. Saya harap istri bapak bisa beristirahat dengan cukup juga perhatikan asupan makanannya. Saya sudah menginfus dan memberikan vitamin melalui infusan dan ini resep obat yang harus di tebus" ucap dokter bernama Ardi
"Baik dok, saya akan ingat semua pesan dokter"
__ADS_1
Inka yang langsung memejamkan matanya pun tidak mengetahui kepergian dokter yang memeriksa keadaannya. Putra menelpon seseorang untuk meminta bantuan,dia meminta seseorang di telpon tersebut untuk menggantikannya sementara.
Tut....tuttt..tuuuu
"Halo,put kamu dimana,kok belum sampai ke sekolah?" ucap seseorang di telpon
"Iya, sepertinya aku sedikit terlambat. Inka sedang sakit dan tidak ada yang merawatnya di rumah" sahutnya
Terdengar gerutuan dan rasa tidak suka dari sebrang sana,ya yang di telpon oleh putra adalah Raya. Semenjak kepulangan dari rumah sakit hubungan keduanya seolah kembali, meskipun sejujurnya putra tidak merasakan kenyamanan,karena bagaimanapun Dia adalah seseorang yang sudah memiliki istri.
"Aku ingin minta tolong padamu,tolong gantikan aku sementara sampai aku datang dan selesai mengurus Inka, setelah itu aku akan langsung berangkat ke sekolah" ucap putra terlihat buru-buru.
Sempat terdiam akhirnya raya menyetujui permintaan Putra.
"Baiklah,tapi cepat kembali ke sekolah aku tidak mungkin memegang 2 kelas dalam waktu yang bersamaan"
"Baiklah, terima kasih ya"
"Hmmh"
"Yasudah aku tutup telponnya,aku harus segera membeli obat ke apotek"
"Yasudah"
Tuttttt
Suara telpon dimatikan oleh Raya,seolah tidak terima bahwa laki-laki yang Dia cintai sedang mengurus istrinya padahal dari segi manapun itu adalah hal yang tidak salah,hanya saja Raya ingin egois dan memiliki putra sendirian. Kebersamaannya dengan Putra memang tidak sedekat dulu,karena putra seolah menjaga jarak,namun hal itu seringkali diruntuhkan oleh raya, bagaimana pun perasaan mereka tidak bisa di abaikan meskipun itu adalah kesalahan.
***
Maafkan aku yang baru kembali. In syaa Allah akan ada bab selanjutnya.
__ADS_1
Aku tidak akan menjelaskan banyak hal kenapa tidak up,tapi akan aku usahakan. Terima kasih pada kalian yang sudah jujur membaca cerita ini dan menyukainya.