Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST 49


__ADS_3

Ditengah-tengah obrolan mereka putra meminta izin untuk berbicara empat mata dan akhirnya mereka pun keluar dari kamar. Sebelum terjadi pembicaraan, keheningan meliputi keduanya.


"Apa yang ingin mas bicarakan?" tanya Inka


Putra pun menatap wajah istrinya. Lagi-lagi putra kembali bersujud dan menangis di kaki Inka,kali ini Inka tidak memundurkan kursi rodanya,ia masih menyimak apa yang sebenarnya di lakukan oleh putra.


"Inka maafkan suami mu yang bodoh ini,tolong beri kesempatan pada mas untuk memperbaiki semuanya, ijinkan mas memulai semuanya dari awal dan menjadi suami juga ayah yang baik untuk keluarga mas," ucap putra memohon di atas kaki Inka.


"Mas aku mohon jangan seperti ini. Bangunlah ini tidak pantas, bagaimana pun kamu adalah pemimpin keluarga"


"Mas,tidak akan bangun sebelum kamu memberikan kesempatan pada ku untuk memperbaiki semuanya"


Dengan perasaan tidak nyaman atas tindakan putra, Inka pun mengiyakan keinginan putra.


"Baiklah tapi mas bangun dari kaki ku"


"Kamu tidak sedang membohongi ku kan?" ucap putra meyakinkan


"Iya mas,aku tidak membohongi mu" sahut Inka

__ADS_1


Putra pun langsung berhambur memeluk Inka dan mencium hampir seluruh bagian wajahnya.


"Mas,ih geli,kenapa kamu seperti ini. Apa kamu tidak jijik mencium wajah layuku?"


"Kau ini bicara apa,mana mungkin aku jijik dengan wanita yang ternyata aku cintai ini,maafkan aku karena baru menyadari perasaanku,maafkan aku yang bodoh ini" ucap putra kembali menyesal


"Mas sudah berapa banyak mengucapkan kata maaf,aku sudah mengikhlaskan semuanya dan juga memaafkan mu"


"Terima kasih sayang" ucap putra kembali memeluk inka.


"Sayang,aku ingin meminta sebuah permohonan,ijinkan aku merawat mu selamanya dan menjalankan tugasku sebagai suami dan Ayah. Aku ingin mengajak mu pulang ke rumah kita,aku mohon ikutlah dengan ku dan kita akan membuat cerita yang baru"


"Mas,"


Inka luluh mendengar putra yang mencoba meyakinkan dirinya.


"Sebaiknya kita bicarakan ini dengan Oma dan om Arya"


Putra pun mengangguk.

__ADS_1


Semuanya telah berkumpul di ruang keluarga seolah melupakan kejadian pahit yang terjadi, meskipun sikap Arya yang sedikit cuek dan memilih berbicara dengan Arka . Putra mengutarakan keinginannya pada Arya dan Bu Rahmi namun keinginan itu di tolak mentah-mentah oleh Arya.


"Tidak ada yang boleh membawa Inka keluar dari pantauan kami. Aku tidak bisa menjamin kalau kalian tidak akan menyakiti Inka lagi."


"Mas,aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,aku tahu aku salah. Tapi aku janji tidak akan bersikap bodoh lagu,tolong mas,ijinkan aku membawa Inka dan putra ku untuk tinggal di rumah kami" ucap putra penuh permohonan.


"Sekali aku bilang tidak ya tidak !" ucap Arya meninggikan suaranya


Sedangkan Erwin tidak tahu harus berbuat apa,namun. di satu sisi dia kasihan melihat putra. Akhirnya Rahmi yang berbicara dengan putranya.


"Nak,berikan kepercayaan itu pada suaminya,kamu tahu bukan yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Inka,semoga ada keajaiban yang bisa membuat Inka sembuh total,dan mungkin saja berkumpulnya inka dengan suami dan anaknya akan membantu proses penyembuhan itu" ucap Bu Rahmi meyakinkan.


"Tapi Bu,mereka sudah menyakiti Inka kita. Apa kita akan ikut bodoh dengan membiarkan Inka masuk ke lubang yang sama?"


"Berikan kepercayaan itu pada mereka,jika suatu saat nanti kejadian menimpa Inka terulang kembali maka ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk bisa melihat Inka dan Arka,tolong nak ini demi kebahagiaan Inka" ucap Rahmi kembali memohon.


Dengan menimbang banyak hal, akhirnya Arya menyetujuinya,dan benar hal itu menghadirkan senyum yang ceria dari wajah Inka,senyum yang selama ini tidak terlihat tulus akhirnya Arya melihatnya.


"Baiklah,tapi ingat ini kesempatan terakhir mu"

__ADS_1


"Iya mas,aku janji"


**


__ADS_2