Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST2


__ADS_3

Tanpa mereka sadari Arka mendengar semua cerita Arumi bersama neneknya. Awalnya Arka akan langsung menemui kedua orangtuanya, tentunya untuk menanyakan perihal keberadaan Rafa, namun pertanyaan ayahnya membuat Arka menghentikan langkahnya, sampai jawaban demi jawaban yang diberikan Arumi membuat Rafa terkejut, ia pun ikut merasa bersalah, ternyata kehidupan Rafa tidak lebih baik darinya.


Arka masih mematung rasa bersalah itu semakin besar, seandainya dia tidak egois mungkin saat ini Rafa masih bersamanya. Arka pun menangis sehingga mengambil alih perhatian kedua orangtuanya, Arumi yang melihat hal itu langsung berdiri dan memeluk Arka.


"Nak, sejak kapan kamu di sini?" tanya Arumi, sejujurnya ia meyakini kalau Arka mendengar semua percakapan antara dia dan suaminya.


Arka terus menangis hingga sesegukan, pelukan Arumi tidak menghentikan tangis Arka, hingga Putra mengambil alih untuk menenangkan anaknya. Sedangkan Arumi bertanya kepada ibu mertuanya, belum sempat bertanya ibu mertuanya pun memeluk Arumi dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan anak ibu ya, dia pasti sudah banyak menyakiti mu," ucap ibu Putra


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu, semua terjadi memang sudah kehendak Allah. Aku sudah mengikhlaskan semuanya yang penting adalah hari ini, doakan rumah tangga aku dan mas Putra agar tetap langgeng dan selalu diliputi oleh kebahagiaan," ucap Arumi


"Pasti Nak, ibu pasti selalu mendoakan untuk kebaikan rumah tangga kalian. Jadikan semua ini sebagai pembelajaran, meskipun kalian memiliki masa lalu yang tidak mudah ibu harap kedepannya akan lebih baik."


"Aamiin, terima kasih bu,"


Putra masih kesulitan menengah Arka, anak itu masih terus menangis, sampai akhirnya Arumi menawarkan untuk mengajak Arka menemui Rafa.


" Boy, sudah dong menangisnya masa laki-laki cengeng seperti ini. Sudah ya, Ayah janji akan mengabulkan apapun keinginan kamu, asalkan kamu berhenti menangis," Putra berusaha merayu anaknya namun Arka tetap tidak bergeming.


"Hhmmhh bagaimana kalau kita temui Rafa di rumahnya?" ucapan Arumi mengalihkan pandangan Arka yang sedang memeluk erat Putra, dan berhasil membuat tangisnya mereda.


"Be..be.. benarkah? i..ibu akan mengajakku bertemu Rafa?," tanya Rafa sesegukan


"Tentu sayang, tapi kamu harus benar-benar berhenti menangis. Kalau Rafa melihat kamu menangis pasti dia akan mentertawakan kamu, "


Ucapan Arumi begitu ampuh dan dalam beberapa menit Arka terdiam, hal itu sukses membuat Putra tersenyum dan bersyukur karena telah membawa kembali istrinya. Pemandangan itu pun tak luput dari perhatian ibunya, akhirnya kebahagiaan itu datang.


Ibu mertua Arumi sudah pulang setelah makan siang, ia sengaja pulang karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan keluarga anaknya, lagi pula jarak rumah keduanya dekat, untuk saat ini biarkan mereka menikmati kebersamaan yang sempat hilang.


"Ayah, kapan kita menemui Rafa?" tanya Arka

__ADS_1


"Sabar Boy, ibu sedang menyiapkan makanan kesukaan Rafa. Kita akan memberikan kejutan untuk dia, kamu sudah menyiapkan hadiah mu?" tanya Putra


"Sudah Ayah, hadiah terbaik yang sudah aku siapkan sejak lama. Aku tidak sabar ingin memberikannya. Ayah, apa dia akan menerima hadiahku? sedangkan aku sudah membuat Rafa pergi." ucap Arka menunduk


"Jangan sedih lagi, Rafa pasti memaafkan kamu dan dia juga merindukanmu. "


"Benarkah? Yah, apa Rafa masih mau berteman dengan ku?"


"Tentu saja, sudahlah jangan terlalu banyak hal yang dipikirkan, lebih baik kamu persiapkan diri untuk menemuinya nanti, "


"Baiklah."


Setelah menyiapkan makanan kesukaan Rafa, mereka pun segera bersiap. Kediaman Rafa cukup jauh dari kediaman Putra, mudah-mudahan keluarga Rafa berada di rumah .


Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman milik Reyhan, rumah yang tidak besar tapi tidak kecil juga, yang terpenting rumah itu nyaman untuk di tinggali.


"Yuk turun, kita sudah sampai," ucap Arumi pada suami dan anaknya


"Mas, kok kamu ikut bengong si?"


"Aku deg-degan sayang. Rafa pasti maafin aku dan Arka kan?"


"Ya ampun jadi itu yang membuat kalian terdiam sejak tadi. Mas, dengar ya aku tidak pernah mendidik Rafa untuk menjadi seorang pendendam, mungkin hanya sedikit kecewa tapi kalian tidak perlu khawatir karena saat ini Rafa sudah memiliki penawarannya,"


"Kamu yakin?"


"Apa kita akan melanjutkan untuk menemui Rafa atau kembali saja ke rumah?" tanya Arumi


"Yah, kenapa tidak turun? cepatlah aku ingin segera meminta maaf pada Rafa,"


"Jadi sejak tadi kamu menunggu ayah untuk turun lebih dulu?" tanya Putra

__ADS_1


Arka pun mengangguk.


"Yasudah yuk, bismillah,"


Ketiganya pun segera berjalan kearah pintu rumah Rafa. Arka menggenggam erat tangan sang ayah dan Arumi bertugas untuk mengetuk pintu. Setelah beberapa saat mengetuk pintu akhirnya seseorang membukakan pintu.


"Assalamua'alaikum Mbak." ucap Arumi pada kakak sepupunya


"Wa'alaikumsallam,Rum. Mbak pikir siapa, " saat keduanya asik bicara, Intan baru menyadari kalau ada orang lain di belakang Arumi.


"Rum, kamu datang dengan siapa?" tanya intan penasaran


"Hmmhh, ini Mbak perkenalkan suami dan anakku," Arumi memperkenalkan keduanya malu-malu


Intan sedikit terkejut, bukankah yang ia dengar kalau Arumi sudah bercerai dengan suaminya, lalu apa ini ? meskipun penuh pertanyaan Intan tetap menyalami kedua laki-laki di belakang Arumi.


"Mbak pasti banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan sama aku kan? pertanyaannya disimpan dulu, sekarang ajak kami masuk dulu dan kemana 2 laki-laki tampan mu?"


"Wah kamu sudah jago baca pikiran mbak, oh iya mbak jadi lupa nawarin kalian masuk. Yuk masuk, mereka ada di dalam sedang bermain."


Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan Intan yang memimpin jalan ketiganya. Dan tibalah mereka di sebuah ruangan keluarga, ada pemandangan yang mengharukan untuk Putra dan juga Arka, mereka melihat kedekatan anak dan ayah yang begitu romantis. Rafa sedang dipangku oleh Reyhan dan keduanya sedang asyik merakit robot-robotan yang belum lama datang diantar kurir.


Mata Putra berkaca-kaca rasa bersalah itu semakin besar, begitu juga dengan Arka. Iya ingat bahwa robot-robotan yang saat ini di mainkan Rafa dan ayahnya adalah mainan yang dulu ia ambil kembali setelah sempat diberikan pada Rafa. Rafa memang menyukai mainan itu, namun karena saat itu Arka sedikit egois jadi dia tega mengambil mainan yang dibelikan oleh ayahnya.


Reyhan dan Rafa belum menyadari kedatangan ketiganya, posisinya saat ini mereka sedang membelakangi pintu masuk, sampai akhirnya Intan bersuara untuk menyadarkan keduanya.


"Ekhemmm, kalian asik banget si mainnya, ada tamu nih, apa kalian tidak akan menyambutnya?"ucap Intan pada anak dan suaminya


Alhasil keduanya pun menoleh ke arah belakang dan melihat siapa tamu yang di maksud oleh Intan. Setelah menoleh keduanya pun terkejut.


**

__ADS_1


Mudah-mudahan ga males buat bikin cerita ini udahan. Untuk yang Sudi membaca terima kasih πŸ’•πŸ’•


__ADS_2