
Seolah tidak ingin kehilangan jejak Inka,Putra dan kedua mertuanya pun ikut serta untuk memastikan keberadaan Inka. Erwin tidak ingin mengulang kesalahan untuk yang kesekian kalinya, berharap sesuai dugaannya bahwa Inka berada disana dan akan menyambut mereka.
Beberapa jam kemudian ketiganya sudah berada di kota S , sesampainya di tempat tujuan Erwin melihat tempat yang begitu banyak kenangan antara dirinya dan Airin ,wanita pertama yang ia cintai ,wanita sederhana yang membuat Erwin nekat menikahinya meski tanpa restu orang tuanya, meskipun pada akhirnya Erwin menyakiti Airin sampai maut menjemput.
Tidak ada satu kata pun yang Erwin katakan melainkan bulir air matanya yang jatuh,begitu banyak kesalahan yang dirinya perbuat,lalu apa pantas dia meminta ampunan pada sang Putri,gadis yang selama ini terlihat kuat dan tegar namun nyatanya dia terluka.
"Mas," ucap Maya menepuk bahu suaminya
"Apa Inka akan memaafkan ayah seperti ku?" tanya Erwin sendu
"Inka anak yang baik mas,pasti dia akan memaafkan sebanyak apapun kesalahan orang tuanya" sahut Maya menenangkan
"Tapi aku malu,pada anakku sendiri"
"Sudah mas,kita tidak tahu kalau belum pernah mencobanya" ucap Maya
Sementara putra melihat keadaan sekitar,sebuah perkampungan yang asri dengan rumah-rumah yang sederhana namun terawat dan bersih menciptakan sebuah kenyamanan dan ketenangan. Putra pun sudah tidak sabar untuk menemui Inka dan meminta maaf pada istrinya itu.
Erwin mengetuk salah satu rumah yang ia yakini adalah tempat tinggal Airin dulu,rumah itu sudah direnovasi dan lebih besar dari sebelumnya. Beberapa kali mengetuk pintu namun tidak ada jawaban sampai akhirnya seorang tetangga memberitahu.
"Permisi pak,cari pemilik rumah ya?" ucap salah satu warga
" Iya pak,benar. Apa mereka ada di dalam?"
"Sepertinya belum pak, orangnya sedang ada acara di rumah kerabatnya, kebetulan acaranya di adakan nanti malam, kemungkinan mereka juga kembali malam nanti"
"Ohh seperti itu,apa pemilik rumah ini masih berkerabat dengan Airin Kamila? ucap Erwin memastikan
Bapak itu sempat memperhatikan wajah Erwin ,seolah pernah mengenal laki-laki tersebut,apalagi yang ia tanyakan adalah Airin.
"Bapak mengenal almarhumah?"
"Iya pak,saya mantan suaminya" ucap Erwin terus terang.
Bapak itu terkejut ternyata dugaannya benar,kalau laki-laki yang ada di hadapannya adalah laki-laki yang pernah tinggal di desanya meskipun hanya beberapa tahun namun ia mengenal Erwin.
"Wah,dalam rangka apa bapak kemari? mungkin bapak tidak mengenali saya,tapi saya tau bapak. Apa ada sesuatu yang penting pak, kebetulan saya akan ke acara yang di adakan keluarga almarhumah Airin,biar saya sampaikan pada keluarganya kalau bapak ada di sini" ucap bapak tersebut
"Apa saya boleh ikut bersama bapak? ucap Erwin
Karena bapak tersebut mengenali Erwin makan ia pun bersedia.
__ADS_1
"Tentu saja pak,"
"Apa tempatnya jauh?"
"Tidak pak,kalau menggunakan motor atau mobil paling kurang dari 15 menit sudah sampai"
"Yasudah kalau begitu,bapak naik mobil bersama kami saja."
"Tidak usah pak,saya bawa motor saja, sekalian saya tunjukkan arah jalannya"
"Baiklah kalau begitu, terima kasih pak,mohon maaf sudah merepotkan"
Waktu menunjukkan pukul 17.00 Putra sudah merasakan kelelahan karena pulang pergi antar kota, beruntung Erwin membawa supir pribadi, setidaknya ada yang menggantikan menyetir.
Beberapa menit kemudian sesuai dugaan dari bapak itu,mereka sudah sampai di sebuah bangunan megah ,rumah bertingkat dua dengan halaman yang luas dan beberapa kendaraan mobil dan motor berada di tempatnya. Ketiganya masih terdiam di dalam mobil karena setahu Erwin Airin tidak memiliki keluarga yang ekonomi nya menengah atas,bukan bermaksud menyepelekan tapi kenyataannya begitu.
Sampai di halaman rumah itu ,bapak yang mengendarai motornya mengetuk kaca mobil Erwin,tak lama ia membukanya.
"Pak,kita sudah sampai"
"Eh . . Iya pak"
Erwin dan ketiganya pun langsung turun dari mobil dan melihat sekeliling, orang-orang sedang merapikan bangku,ada juga yang menggelar karpet,semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Iya pak,"
Erwin dan ketiganya pun menunggu,sampai akhirnya keluarlah salah seorang laki-laki di iringi dengan bapak yang tidak Erwin ketahui namanya.
"Itu mas, orangnya" ucap bapak Wawan ternyata beliau salah satu pegawai di tempat Arya
Arya melihat kearah ketiga,dan Dia langsung mengenali Erwin juga Putra,Arya pernah menyuruh orangnya untuk menyelidiki Putra yang menjadi suami dari anak Kaka sepupunya.
Arya menghampiri ketiganya.
"Silahkan masuk,kita bicara di dalam saja" ucap Erwin terus terang,karena sejujurnya dia tidak terlalu respect dengan mereka.
Memasuki rumah megah itu terpampang foto Airin yang sedang menggendong Inka waktu bayi dan tangan sebelah kirinya sedang memegang tangan anak laki-laki mungkin saja itu Arya, ketiganya sedang tersenyum bahagia di foto tersebut. Erwin merasakan perasaan yang bercampur aduk.
Mereka duduk di sebuah ruang tamu yang terpisah dengan ruang utama dan tidak tercampur dengan acara yang sedang berlangsung di dalam.
"Ada perlu apa tuan tuan dan nyonya datang ke rumah kami?" tanya Arya tanpa basa-basi.
__ADS_1
Ketiganya sedang larut dalam pikiran masing-masing,sampai akhirnya Erwin membuka suara.
"Bagaimana kabar mu nak,apa kamu dari bibi Rahmi?" ucap Erwin basa-basi
Arya tersenyum tipis.
"Saya yakin kedatangan tuan kemari bukan untuk basa-basi,katakan saja apa tujuan kalian sebenarnya,saya masih punya urusan untuk menyambut tamu-tamu yang datang"
Akhirnya Erwin pun mengatakan tujuan sebenarnya dia datang.
"Baiklah, kedatangan kami kemari ingin menanyakan keberadaan Inka,kami harap Inka putriku memang ada di sini" ucap Erwin.
Lagi-lagi Arya hanya tersenyum.
"Bukankah Inka sejak dulu bersama kalian,lalu kenapa kalian tiba-tiba datang dan mencari keberadaannya di sini?"
"Kami tidak tahu harus mencari inka kemana lagi,menurut asisten rumah tangga keduanya,Inka pergi dengan wanita paruh baya yang ia sebut Oma, mungkin saja itu bibi Rahmi"
"Saya mohon mas, pertemukan kami dengan Inka,saya ingin meminta maaf dengan istri dan juga anak yang sedang di kandung istri saya" ucap putra menimpali
"Sekalipun Inka ada bersama kami,kalian tidak bisa menemuinya,karena Inka memang tidak ada di sini" ucap Arya
"Lalu dimana kami bisa menemui Inka" ucap Erwin
"Saya tidak ingin menutupi apapun dari kalian, sejujurnya memang Inka ada bersama kami, setelah bertahun-tahun ibu saya mencari keberadaannya dan tidak di temukan ,dan akhirnya kami menemukannya, meskipun dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Kami berjanji akan merawatnya dengan baik,jadi kalian tidak perlu khawatir lagi"
"Apa maksud anda kalau istri saya tidak baik-baik saja?"
"Haha kenapa anda seolah perduli dengan keadaan Inka, bukankah Anda menelantarkan dia selama ini?" ucap Arya membuat putra tidak berkutik
"Saya mohon Ar, beritahu dimana keberadaan Inka"
"Inka tidak ada di negara ini,jadi percuma kalian kemari"
"Apa maksud kamu?"
"Saya mengirim Inka dan ibu saya keluar negeri,saya ingin membiarkan mereka menikmati kebersamaan mereka yang sudah berpisah selama ini,jadi jangan memohon kepada saya untuk memberitahu di negara mana mereka berada,karena saya tidak akan pernah memberitahukannya" ucap Arya yang tidak memberi tahu perihal penyakit yang di derita Inka dan tujuan mereka keluar negeri.
Ketiganya begitu terkejut sekaligus sedih karena Inka tidak bisa mereka temui, sedangkan putra masih berupaya untuk memohon tentang dimana Inka berada,namun Arya tidak membuka mulutnya dan mempersilahkan mereka pergi dari rumahnya.
***
__ADS_1
Atas dukungan dan permintaan kalian yang meminta untuk tidak end ceritanya,maka akan saya lanjutkan beberapa bab kedepan. Jika yang berharap cerita ini segera berakhir dan menemukan titik terang,tidak masalah jika tidak meneruskan membaca.
Terima kasih semuanya ❤️💕