Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST31


__ADS_3

Malam ini keduanya tidur di ruangan yang sama,Putra sudah membaringkan diri lebih dulu setelah makan malam dan merapikan keperluan besok untuk mengajar. Sedangkan Inka membantu Bu Darmi untuk membersihkan peralatan makan.


"Mbak, sebaiknya mbak istirahat saja biarkan ini saya yang mengerjakan" ucap Bu Darmi melarang Inka membantu.


"Tidak apa-apa Bu,saya sudah biasa melakukan ini di rumah"


"Tapi tetap saja ini pekerjaan saya,dan mbak tuan rumahnya"


"Saya hanya menumpang di sini,jadi saya harus membantu pekerjaan Bu Darmi"


"Tapi ... mbak"


"Sudah ya nggak ada tapi tapian"


Setelah semuanya selesai Inka kembali ke kamar tamu yang di tempati keduanya,Putra sudah terlelap di tempat tidur, sekarang Inka akan merapikan baju keduanya dan persiapan masuk kuliah nanti.


Pukul 10 malam Inka selesai merapikan semuanya, sedangkan putra sudah melanglang buana bersama mimpinya. Sejenak Inka memandang wajah suaminya,wajah tampan yang begitu indah. Andai saja ada cinta putra untuk dirinya ingin rasanya memeluk tubuh kekar itu,sesekali mengecup wajahnya yang terpahat sempurna,namun sayang itu hanya halusinasi yang mungkin tidak akan pernah menjadi nyata.


Setelah kembali kesadarannya Inka mengambil selimut di dalam lemari,lalu mengambil bantal dan guling,Inka memutuskan untuk tidak di bawah lantai yang sudah digelar karpet bulu yang cukup hangat.


Inka memutuskan untuk tidur dan menjalani hari esok apapun yang terjadi. Keduanya tertidur dengan lelap, menikmati mimpi yang mungkin saja jadi penawar sebelum kenyataan menarik paksa mereka untuk berperan.


**


Pukul 5 pagi Inka bangun lebih awal dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba, setelah itu membangunkan Putra dan menyiapkan semua keperluannya. Setelah tugasnya selesai Inka menghampiri Bu Darmi yang sudah berjibaku dengan peralatan dapur,ia sedang membuat sarapan pagi untuk Inka dan Putra.


Hari ini putra memutuskan untuk langsung mengajar dan memulai program yang sudah ia susun,Putra ingin membalas Budi atas kebaikan sahabatnya,ia menyadari bahwa mengajar hanya hobi yang sewaktu-waktu akan ia tinggalkan,dan ia harus kembali pada tugasnya sebagai pemimpin dari perusahaan keluarga.

__ADS_1


Meskipun Putra tidak sekaya Raka ,namun kekayaan yang di tinggalkan ayahnya suatu saat akan menjadi besar jika putra mengelola dengan baik,dan itu sudah ia lakukan sejak di bangku kuliah.


"Mas, sarapannya sudah siap sebaiknya mas mengisi perut dulu sebelum melakukan aktivitas"


Putra pun mengangguk dan duduk di meja yang sama dengan Inka,nasi goreng telur dadar dan kopi yang menjadi menu pertama hari ini.


"Apa mas ingin aku siapkan bekal juga?"


"Tidak perlu,di sana ada kantin sekolah yang besar jadi nanti saya makan di sana saja"


"Baiklah kalau seperti itu"


Keduanya kembali sarapan dengan hikmat, tidak ada obrolan atau sekedar suara sendok dan garpu pun tidak terdengar seolah tahu bahwa keduanya harus hening.


Jarak sekolah yang tidak terlalu jauh dan juga tidak dekat membuat Putra harus segera berangkat, apalagi Dia guru baru, meskipun sebelumnya pernah mampir dan membagi ilmu tapi itu hanya singgah saja. Meskipun hobi putra dan komunitasnya melakukan yang terbaik dalam mengajar,dan lucunya sasaran mereka bukan sekolah bertaraf internasional, melainkan sekolah biasa yang jauh dari dunia modern.


***


Keadaan sekolah harapan bangsa sedikit gaduh karena raya sedang mencari sosok Raka ,ia ingin meminta penjelasan mengenai putra yang tidak datang ke sekolah, beberapa hari ini Raka selalu beralasan bahwa putra sedang cuti,putra sedang mengurus perusahaan keluarga atau putra izin tidak masuk karena ada urusan keluarga,hanya saja Raka tidak membuat alasan bahwa putra sakit, bisa-bisa dia nekad mendatangi putra di rumahnya.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Raka dan putra,kenapa hanya aku yang tidak tahu soal putra. Aku sudah menghubungi putra berkali-kali tapi tetap nomornya tidak aktif,setiap aku bertanya pada Raka pasti dia membuat alasan yang berbeda. Kali ini alasan apalagi yang akan dia berikan.


Raya berjalan menuju ruangan Raka, kebetulan hari ini dia datang untuk mengecek laporan penting yang ada di sekolah,maklum saja bukan hanya SHB yang dia urus,tetapi masih banyak lagi. Raka memutuskan menghentikan hobinya mengajar dengan yang lainnya karena permintaan sang Ayah,terlebih Raka yang bisa di andalkan karena sang adik masih fokus berkuliah.


Tanpa mengetuk pintu raya masuk begitu saja,dan tentu saja Raka sangat terkejut.


"Rak, sebaiknya kamu jujur padaku,di mana Putra saat ini?"

__ADS_1


Raka yang di todong pertanyaan itu sedikit bingung harus membuat alasan apalagi.


"Jawab rak, jangan membodohi ku lagi dengan alasan alasan mu itu,aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu"


"Aku tidak membohongi mu Ray,aku hanya membantu sahabat ku untuk lepas dari keadaan yang menyulitkan nya,karena bagaimanapun kalian berdua tidak baik jika berada di lingkungan yang sama"


"Apa maksud kamu Rak?"


"Aku tahu kalian berdua masih saling mencintai,tapi keadaan kalian sudah berbeda,Putra sudah menikah dan kamu tidak harus menjadi orang ketiga diantara mereka" ucap Raka tegas


Raya yang mendengar ucapan Raka sedikit terkejut,apapun yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran,namun sikap egoisnya menolak itu, bagaimana pun dia ingin tetap memperjuangkan cintanya. Raya menganggap orang ketiga diantara dia dan putra adalah Inka.


"Tapi putra tidak menginginkan pernikahan itu rak,Dia hanya menuruti keinginan ibunya. Aku ingin membebaskan putra dari pernikahan yang tidak bahagia itu,hanya aku yang bisa membahagiakan Putra." sahut raya egois


"Sadar Ray,kenapa kamu jadi ambisius seperti ini, meskipun putra tidak mencintai istrinya tapi perasaan itu bisa datang setelah mereka bersama,ini semua hanya masalah waktu. Dan aku mohon ikhlaskan Putra mulai saat ini,dan jalani hidup kamu dengan baik,kamu juga perlu bahagia Ray"


Raya sudah menangis ia tidak bisa lagi membendung air matanya,sesak memang namun ia masih kekeuh ingin merebut Putra dari istrinya,dia merasa bahwa putra adalah miliknya.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin memberi tahu aku,aku akan mencarinya sendiri kalau perlu aku gunakan kekuasaan ayahku untuk menemukan Putra. Aku tidak akan menyerah begitu saja sebelum Putra sendiri yang memintaku benar-benar pergi. Aku yakin saat ini dia hanya ingin menjaga perasaan istrinya demi ibunya" ucap Raya yang masih bersikap egois.


"Terserah apa pun yang ingin kamu lakukan tapi aku mohon Raya jangan ganggu kehidupan Putra, jika memang Tuhan mentakdirkan kalian bersama semua itu bukan hal yang mustahil,kamu dan dia bisa bersama tapi dengan cara yang benar bukan karena keegoisan mu yang malah akan menyakiti hati orang lain." ucap Raka menasehati Raya


Raya berlalu meninggalkan Raka yang sedang berbicara,semua yang di ucapkan Raka seolah sia-sia karena keegoisan sudah mendarah daging untuk raya.


***


Terima kasih yang sudah menunggu dan mendukung.

__ADS_1


Yang mau bergabung dengan GC pastikan kalian yang memang ingin menjadi bagian dari tulisan-tulisan amatir ku.


Mari saling mengenal,siapa tahu kita cocok untuk berteman. Di pastikan GC hanya berisi perempuan saja, menghindari fitnah hehe.


__ADS_2