Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST30


__ADS_3

Bismillah,baca bab sebelumnya ya separuhnya.


Tadinya aku mau pindah aplikasi buat lanjutin tulisan ini,tapi aku terlanjur nyaman di sini, walaupun penghasilan tidak ada. Dan ngerasain sendiri pas lagi seru2 baca harus bayar, punya kuota buat buka aplikasinya aja udah Alhamdulillah.😂


Jangan lupa dukung Yo,jangan pelit like,komen dan juga vote hehe.


***


Pukul 8 malam Raka menelpon Putra,ia mengabari perihal keputusan pemindahan Putra. Sudah di putuskan bahwa Putra akan dipindahkan ke kota S,menurut Raka hanya sekolah itu yang cocok untuk Putra selain itu di sana memang sedang membutuhkan tenaga pengajar yang profesional, sekaligus untuk membantu melatih tenaga pendidik di sana.


"Halo Put,aku sudah dapat tempat yang cocok untuk kamu bersembunyi dari raya ,selain itu sekolah milik ayah ku itu membutuhkan tenaga pengajar yang profesional."


"Syukurlah,terima kasih Rak, aku berharap kamu menyembunyikan kabar ini dari orang-orang termasuk raya. Aku akan menghindarinya sebisa mungkin. Beri aku waktu 1 Minggu untuk mengurus kepindahan kuliah Inka,dan juga izin pada keluarga besar kami."


"Kenapa kisah cintamu serumit ini Put,harus berpisah dengan wanita yang di cintai,selain itu harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintai,dan sekarang harus main petak umpet untuk menyelamatkan kehidupan dan perasaan mu juga. Ahh aku ngomong apa si, omongan aku aja ribet banget" ucap Raka menjabarkan kehidupan miris sang sahabat.


"Entahlah aku pun tidak tahu, mungkin ada rencana yang indah di depan nanti"


"Aamiin,yasudah lanjutkan aktivitas mu,aku hanya ingin mengabari hal itu,jangan terlalu memikirkan tempat tinggal dan yang lainnya, kehidupan kalian di sana sudah disiapkan. Ada rumah dinas, sebenarnya itu rumah kami saat sedang berkunjung kesana,cuma sayang kalo selalu kosong,jadi kalian berdua tinggal mengisi saja,akan ada sepasang suami istri yang mengurus rumah itu."


"Apa kamu serius?" tanya Putra tidak percaya


"Memang sejak kapan aku suka bercanda masalah seperti ini."


"Hmmhh,baiklah. Yasudah terima kasih ya bro"


"Iya sama-sama,semoga kepindahan kalian membawa berkah dan ada kabar baik dari kalian. Segera beri aku keponakan."


Putra pun langsung menutup telpon sahabatnya,karena menurutnya apa yang di ucapkan Raka adalah hal yang tidak penting.


Mengenai tawaran tentang tempat tinggal, untuk saat ini putra akan menerimanya,namun setelah Di sana putra akan mencari tempat tinggal sendiri,ia tidak ingin terlalu merepotkan sahabatnya,putra merasa tidak enak karena Raka sudah terlalu banyak membantu.


**


Rencana kepindahan Putra sudah di urus tanpa sepengetahuan Raya, semuanya di lakukan sehati-hati mungkin,karena jika Raya tahu maka bisa di pastikan kalau Dia akan marah yang lebih parahnya minta ikut di pindahkan.


Hari ini adalah hari libur Putra mengajar,ia menggunakan kesempatan kali ini untuk pindah bersama Inka, Sebelumnya Putra dan Inka sudah meminta izin kepada keluarga masing-masing,pada awalnya mereka menentang namun Putra meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk Inka, terlebih Putra mengatakan kalau mereka ingin mandiri.


Putra merasa lega saat harus meninggalkan ibunya,karena adiknya sudah kembali,selain itu banyak saudara sepupu yang ikut menjaganya. Sedangkan di pihak inka,Dhika lah yang merasa kehilangan,karena anak itu begitu menyayangi kakaknya,sama halnya Maudy namun tak semelankolis Dhika.


Kepergian mereka tidak diantar siapapun,karena Putra tidak ingin merepotkan banyak orang, keluarga keduanya merestui pun sudah lebih dari cukup.


"Mas,masalah kuliahku bagaimana?"


"Kita kan sudah mengurusnya kemarin"

__ADS_1


"Kapan? mas hanya menyuruhku menandatangani lembar formulir saja selebihnya tidak ada"


"Ya itu untuk mengurus kepindahan mu"


"Siapa yang mengurusnya, bukankah cukup rumit"


"Raka yang akan mengurus,Dia salah satu pemilik kampus tempat menimba ilmu"


Inka pun mengangguk karena tidak heran kalau sahabat suaminya itu bisa membantu perihal ini.


"Apa kita sudah menemukan tempat untuk tinggal di sana,lalu pekerjaan mas di sini siapa yang urus?


"Ternyata kamu bawel juga ya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tempat tinggal,dan masalah pekerjaan aku sudah memberikan kepercayaan kepada orangku,dan setiap Minggu aku akan memeriksanya"


"Aku hanya penasaran saja,jika Mas sudah mempersiapkan semuanya itu lebih baik,"


"Hmhh"


"Aku masih penasaran mas,kenapa kita harus pindah, bukankah kamu sudah nyaman di tempat lama mu?"


"Aku hanya ingin suasana baru saja"


Jawaban singkat yang Putra berikan membuat Inka berhenti bertanya,dan memilih untuk fokus menikmati perjalanan mereka,sampai akhirnya Inka tertidur dengan sendirinya.


Waktu yang seharusnya ditempuh beberapa jam,karena menggunakan pesawat kurang dari 2 jam mereka sudah sampai. Sudah ada supir yang menjemput keduanya,dan mereka pun menuju ke tempat tinggal Putra dan Inka sementara.


"Selamat siang pak,saya Diman supir yang di suruh pak Raka untuk menjemput bapak dan istri"


"Wah seharusnya tidak perlu repot-repot, kebetulan Raka juga sudah menghubungi saya"


"Iya pak,mohon maaf saya langsung mengirimi pesan pada bapak soalnya takutnya bapak main pergi saja"


"Tidak apa-apa pak Diman,saya yang berterima kasih karena sudah merepotkan bapak"


"Sudah jadi tugas saya pak"


"Baiklah, terima kasih kalau begitu. Oiya pak, perkenalkan ini istri saya namanya Inka"


"Oh iya pak,saya Diman Bu,supir di rumah pak Raka" ucap Diman memperkenalkan diri


"Salam kenal pak, panggil saya Inka saja"


"Tidak sopan Bu, bagaimana pun kalian majikan saya juga"


"Tidak pak,saya tidak nyaman panggil Inka saja"

__ADS_1


"Hhmh bagaimana kalau Mbak Inka saja?"


"Yasudah itu lebih baik hehe"


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah milik Raka, setelah sampai sudah ada yang menunggu seorang wanita paruh baya sepertinya istri dari Pak Diman.


Wanita paruh baya itu bernama Bu Darmi, iya dan pak Diman yang mengurus rumah Raka, keduanya sudah memiliki 2 anak tapi usianya sudah besar-besar,malah yang paling besar sudah menjadi pengajar di sekolah milik Raka.


"Selamat siang Bapak dan ibu, perkenalkan saya Darmi yang akan mengurus semua keperluan bapak dan ibu"


"Wah aku pikir aku wanita sendirian, ternyata ada Bu Darmi juga, perkenalkan Bu saya Inka" ucap Inka antusias


"Baik Bu Inka,saya pun turut senang"


"Jangan panggil ibu, panggil Inka saja"


Drama soal panggilan selalu terjadi,hal itu membuat Putra jengah.


"Panggil mbak Inka aja Bu,biar dia senang"ucap putra menjawab.


Pak Diman yang ada di depan memberikan isyarat untuk mengatakan iya,dan Bu Darmi pun paham dan mengikuti keinginan majikan barunya.


Keduanya di antara masuk ke dalam rumah,Bu Darmi di perintahkan Raka untuk membawa mereka ke kamar utama namun putra menolaknya.


"Bu kita mau kemana?" tanya putra yang mengikuti langkah Bu Darmi


"Kita akan ke kamar utama pak,kalian pasti perlu istirahat"


Kamar utama?" tanya Putra kembali


"Iya pak,pak Raka menyuruh bapak dan ibu menempati kamar utama di rumah ini"


"Tidak .. tidak,itu sangat tidak sopan,antarkan saya ke kamar tamu saja"


"Tapi pak,saya hanya mengikuti perintah pak Raka saja"


"Tidak usah ,antar saya ke kamar tamu saja" sahut putra tetap menolak.


Akhirnya Bu Darmi pun mengikuti keinginan putra,namun ada hal yang mengganjal pikiran Inka perihal Dia yang akan tidur dimana. Sambil berjalan Inka bertanya pada Putra dengan perlahan.


"Mas,lalu aku harus tidur di kamar mana? tanya Inka yang membuat Putra menghentikan langkahnya,Dia sampai melupakan bahwa mereka datang sebagai suami istri,padahal sebelumnya mereka tidak berbagi kamar.


"Untuk saat ini kita tidur satu kamar dulu,toh kita tidak akan menetap selamanya di rumah ini" ucap putra memberikan Jawaban


Inka hanya mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Semuanya memang tidak mudah dan Inka harus menjalaninya.

__ADS_1


__ADS_2