
Hari demi hari aku lewati dengan penuh keceriaan. Tidak terasa sudah satu Minggu aku tinggal di asrama,dan aku bersyukur memiliki Lala dan gigi yang menjadi sahabat ku, sedangkan ketiga teman lainnya lebih memilih untuk masing-masing, mungkin mereka belum terbiasa berbaur dengan orang lain.
Sejujurnya aku sangat merindukan kedua adikku Dhika dan Maudy,apa kabar mereka hari ini,apa mereka merindukan aku juga dan setahuku hari ini ayah pulang dari dinasnya di luar negeri. Aku berharap keputusan yang aku ambil sedikit mengurangi beban ayah,aku janji tidak akan merepotkan ayah lebih banyak.
Setelah lulus nanti aku bercita-cita untuk bekerja dan mencari uang yang banyak,aku ingin pulang mencari ibuku,selama ini aku masih berharap bahwa dia masih ada dan akan menyambut kedatangan ku.
**
Di rumah.
Hari ini Erwin pulang dari luar negeri,ia sudah menyelesaikan pekerjaannya sampai berminggu-minggu. Erwin selalu menanyakan kabar anak-anaknya melalui Maya,dan istrinya selalu menjawab semuanya baik-baik saja. Maya tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,dia akan menceritakan perihal Inka setelah suaminya tiba dari pekerjaannya.
Erwin nampak lelah dan tidak sempat memeriksa keadaan anak-anaknya satu persatu,dia lebih memilih membersihkan diri dan akan menemui anak-anaknya besok pagi.
"Mas,apa kamu sudah makan?" tanya Maya pada suaminya yang baru selesai membersihkan diri
"Aku sudah makan tadi di pesawat,aku lelah dan akan istirahat saja.
"Baiklah mas, selamat beristirahat"
Maya pun mematikan lampu dan memilih menyalahkan lampu tidur. Saat suaminya sudah tertidur pulas, sedangkan Maya masih terjaga dan dia bingung bagaimana caranya menyampaikan perihal Inka yang tinggal di asrama, apalagi ia mengetahui kalau Erwin menentang keinginan anaknya itu.
**
Keesokan paginya semua orang sudah berkumpul di meja makan,namun Erwin belum memulai sarapannya karena menunggu satu anaknya yang belum datang, sedangkan Dhika dan Maudy sudah harus berangkat ke sekolah.
"Mas,yu sarapan nanti keburu dingin " ucap Maya pada suaminya
"Tunggu sebentar, Inka belum datang"
Maya terdiam, sedangkan Dhika dengan polosnya berucap.
__ADS_1
"Kakak tidak ada di rumah yah,sudah seminggu kita sarapan tanpa kakak" ucap Dhika
Erwin mendengar celotehan anaknya pun mengkerutkan alisnya, sedangkan Maya menundukkan kepalanya,Erwin menyadari ada yang tidak beres setelah kepergiannya.
"Yasudah Sekarang kita sarapan" sahut Erwin yang masih menyimpan rasa penasarannya
Mereka pun sarapan seperti biasanya,tidak ada obrolan dan menyelesaikan sarapan dengan baik. Dhika dan Maudy berpamitan untuk pergi ke sekolah, sedangkan Erwin hari ini libur untuk datang ke kantor.
Setelah keadaan rumah sepi ,para pekerja dengan pekerjaannya masing-masing, Erwin pun meminta penjelasan pada istrinya perihal Inka yang tidak ada di rumahnya. Erwin memanggil Maya ke ruang kerjanya, sedangkan Maya sudah mengetahui apa yang akan di bicarakan suaminya.
"Duduklah dan jelaskan kenapa pagi ini aku tidak melihat putriku!"
Maya masih menundukkan kepalanya,dia bingung harus memulai dari mana.
"Kenapa kamu masih diam,aku ingin mendengar penjelasan mengenai Inka yang tidak ada pagi ini"
Akhirnya Maya pun mengangkat kepalanya.
"Maaf untuk apa? aku hanya ingin tau di mana Inka sekarang"
"Mas, Inka tinggal di asrama setelah mendapatkan ijazah dari sekolahnya" ucap Maya terus terang
Erwin terkejut, bagaimana bisa anaknya ada di asrama, bukankah tidak mudah masuk asrama itu tanpa persetujuan orang tua.
"Apa maksudnya?"
"Inka mengambil beasiswa,dan dia dapat di salah satu asrama di kota ini"
"Kenapa di asrama,kenapa beasiswa? aku tidak pernah mengizinkan anak-anakku keluar dari rumah ini sebelum mereka benar-benar dewasa,dan aku masih mampu membiayai mereka sekolah kenapa harus beasiswa!" ucap Erwin yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Itu keinginan anakmu mas" ucap Maya gugup
__ADS_1
"Ya! apa karena dia anakku dan bukan anakmu? Apa kamu sengaja menyingkirkan anakku dari rumah ini !" ucap Erwin yang nada bicaranya semakin meninggi
"Ma.. maafkan aku mas,aku hanya mendukung keputusan Inka saja" ucap Maya yang kembali menundukkan kepalanya.
"Alah itu alasanmu saja! aku akan menjemputnya kembali kerumah ini, terserah kamu suka atau tidak suka ,aku tidak ingin putriku merasa terbuang"
"Ta..tapi mas,Inka sudah menandatangani semua berkas dan perjanjian di asrama itu,salah satunya adalah Inka tidak bisa meninggalkan asrama sampai dia lulus sekolah"
Erwin menajamkan pandangannya ke arah Maya .
"Kenapa kamu melakukan ini tanpa persetujuan dariku Hah! . Inka tidak akan ada di sana tanpa persetujuan dari orang tua walinya,lalu kenapa kamu memberi izin pada inka ? Aku kecewa sama kamu Maya ,sejak dulu memang kamu tidak bisa menerima kehadiran anakku,semua itu hanya kedok agar kamu bisa menikah dengan ku"
"Mas,jaga ucapan mu,aku memang tidak menyukai keberadaan Inka tapi apa pernah aku menyiksa dan menyakiti dia seperti ibu tiri yang jahat,bahkan aku tidak masalah jika dia harus satu sekolah dengan anak-anak, pakaian dan fasilitas yang sama di rumah ini. Jika aku jahat bisa saja aku akan pura-pura baik di depan kamu saja,sedang saat kamu tidak ada aku bisa menyiksa dia semauku,tali aku tidak melakukannya ..." ucap Maya menangis
"Aku memang tidak menyayanginya seperti kedua anakku, tapi aku berusaha menerima dia selama ini,aku tidak sejahat yang kamu pikirkan mas"
Setelah mengeluarkan uneg-unegnya Maya pun meninggalkan ruangan kerja suaminya dan pergi Menangis ke dalam kamarnya, sedangkan Erwin langsung pergi ke kamar putrinya.
Erwin memasuki kamar Inka ,ia mengedarkan pandangannya ke semua arah ,sampai matanya berhenti pada figura yang terpasang di kamar Inka ,foto gadis yang sangat Erwin sayangi,tidak terasa kini usianya sudah beranjak dewasa. Saat dia tengah asik memandang foto anaknya, Erwin melihat amplop pink yang berada di sebelah figura tersebut.
Untuk Ayah.
Assalamualaikum ayah. Saat ayah membaca surat ini mungkin Inka sudah berada di asrama. Inka ingin meminta maaf karena mengambil keputusan untuk menerima beasiswa dan tinggal di asrama,terlebih tanpa meminta izin pada ayah.
Inka harap ayah mau memaafkan aku. Aku memaksa ibu untuk menandatangani surat izin dari wali murid,karena jika aku meminta pada ayah,ayah tidak akan mengizinkannya. Yah,jangan salahkan ibu,selama ini aku sangat berterima kasih karena ibu sudah merawat ku dengan baik,padahal aku bukan anak kandungnya.
Degg Erwin terkejut bahwa anaknya sudah mengetahui yang sebenarnya, kemudian dia melanjutkan membaca surat dari Inka.
Aku berjanji setelah lulus nanti aku akan lebih bekerja keras untuk bisa membalas jasa-jasa kalian,dan aku pun akan memaksa ayah untuk mempertemukan aku dengan ibu kandung ku,tapi sebelum itu aku ingin membuktikan pada ibuku bahwa anaknya sudah sukses. Aku tidak tahu alasan ayah sebenarnya berpisah dengan ibu,tapi aku yakin itu demi kebaikan.
Yah,aku sangat menyayangi kalian semua. Salam sayang dari aku.
__ADS_1
Inka.