
Setelah membaca surat yang Inka tulis perasaan bersalah itu semakin besar. Erwin merasa gagal menjadi ayah ,ia tidak bisa menjaga anak dari wanita yang sangat dia cintai,seolah menyesali kenapa dulu ia tidak berjuang untuk Sinta,malah memilih menyerah. Penyesalan tidak berguna jika sudah begini, Erwin akan tetap dalam penyesalan, bagaimana pun hidupnya harus terus berjalan karena ada anak dan istri yang harus ia pedulikan.
Erwin masuk kedalam kamarnya,hal pertama yang dia perhatikan adalah Maya , istri yang sudah menemaninya selama 13 tahun,wanita yang sudah memberikannya 2 anak. Lucu bukan ketika Erwin tidak mencintainya namun ia bisa memiliki 2 anak dari Maya, bahkan jarak Inka dan kedua adiknya tidak jauh,2 tahun dan 4 tahun saja.
Saat itu Erwin dalam kecewa yang sangat berat, setelah membawa Inka bersama Maya dan mereka akhirnya menikah,malam pertama itu benar terjadi. Tidak seperti cerita novel yang tidak akan menyentuh wanita yang tidak ia cintai, sedangkan Erwin melakukannya namun yang dia lihat bukanlah Maya melainkan Sinta, meskipun demikian lambat-laun Erwin pun memiliki perasaan terhadap Maya walau tidak sebesar pada Sinta.
Erwin memeluk tubuh Maya,dia merasa bersalah , seharusnya Erwin tidak berkata kasar pada istrinya. Seperti yang Maya katakan bahwa sebagai ibu tiri Maya masih bersikap wajar terhadap anak sambungnya,dan Erwin mengakui hal itu.
"Maafkan aku may,aku sudah terbawa emosi. Aku hanya kecewa kenapa kalian tidak melibatkan aku saat Inka akan mengambil beasiswa dan yang lebih mengagetkan lagi kalau dia tinggal di asrama. Aku hanya tidak ingin berpisah dengan mereka, meskipun aku sibuk setidaknya aku masih bisa melihat mereka setiap pulang kerja " ucap Erwin yang masih memeluk istrinya dari belakang.
Maya yang sedang terisak pun membalikkan badannya ke arah Erwin,dan memeluk erat suami yang sangat ia cintai itu.
"Aku juga minta maaf mas karena tidak melibatkan kamu,aku hanya ingin memenuhi keinginan Inka. Sejujurnya aku sedikit senang karena untuk sejenak kamu tidak melihat wajah putrimu yang sangat mirip dengan wanita yang sangat kamu cintai itu dan aku berharap selama Inka tidak ada kamu bisa belajar menerima dan mencintai aku sepenuhnya" ucap Maya mengeluarkan uneg-uneg
Erwin terdiam,ingin rasanya ia marah dan menyahuti ucapan Maya yang seperti kekanak-kanakan, bagaimana bisa dia berpikir sampai sejauh itu.
"Sudahlah tanpa kamu melakukan hal itu pun aku sudah menerima kamu sebagai istriku, meskipun tidak mudah namun aku percaya seiring berjalannya waktu, kisah kelam ku dulu akan terganti dengan kehadiran kamu dan anak-anak."
**
Inka
Saat jam istirahat sekolah tiba-tiba ada petugas asrama yang menghampiri ku,katanya aku di suruh datang ke kantor. Meskipun bingung akupun tetap mengiyakan, mungkin saja ada peraturan tambahan untuk murid yang masuk secara gratis ke asrama ini.
"Inka,kenapa petugas itu menyuruhmu datang ke kantor?" tanya gigi kepo
"Entahlah, aku akan tahu setelah datang kesana"
"Yasudah hati-hati,jika perlu bantuan kami katakan saja," ucap Lala menimpali
"Iya,nanti aku cerita"
__ADS_1
Aku pun meninggalkan kelas dan berjalan ke arah ruang kepala sekolah, setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk,aku berjalan dengan sedikit menunduk.
"Inka tegakan kepalamu,apa begini caramu menemui orang tuamu?" Tiba-tiba kepala sekolah membahas mengenai orang tua ku,dan seketika aku melihat ke arah mereka.
"Ayah, ibu" Gumam ku
Aku pun menghampiri ayah dan ibu, setelah mencium tangan ibu aku pun beralih pada ayah. Ayah menatapku dengan sendu,aku merasa ayah sedang menahan airmatanya,tapi aku pura-pura tidak menyadari.
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya ayah saat aku dalam pelukannya
"Aku baik ayah,lalu bagaimana kabar ayah?"
"Ayah tidak baikbaik saja!"
"Kenapa,ayah sakit?"
Ayah pun menggelengkan kepalanya.
"Ayah sedih karena harus membiarkan kamu tetap di sini,jika tidak ada peraturan itu mungkin ayah akan langsung membawa mu pulang saat ini juga"
"Ayah tidak perlu khawatir,doakan saja aku di sini. Selama ini aku sudah merepotkan ayah dan ibu,jadi biarkan aku mandiri"
"Kenapa kamu berbicara seolah kamu menjadi beban untuk kami hah?"
"Bukan seperti itu yah, bagaimana pun aku ingin membanggakan kalian bukan hanya menjadi anak yang selalu merepotkan "
"Baiklah,ayah hormati keputusan kamu dan ayah mohon jangan lagi terbesit dalam pikiran mu bahwa kamu menjadi beban untuk kami,karena apapun yang terjadi kamu adalah bagian dari kami"
Aku pun mengangguk mendengar ucapan ayah. Jam kunjungan sudah habis aku harus segera kembali ke kelas. Ketika ayah dan ibu akan pulang dia memberikan bingkisan dan juga amplop berwarna coklat,aku sedikit bingung mengenai amplop yang ayah berikan.
"Ini apa ayah?" tanya ku mengenai amplop warna coklat
__ADS_1
"Itu hak mu sebagai anak ayah,jangan pernah mengembalikan tabungan itu dengan alasan apapun karena semua anak ayah mendapatkan hal itu. Jika saat ini kamu tidak bisa menggunakannya karena alasan beasiswa,maka kamu bisa memakainya di kemudian hari saat kamu membutuhkannya. Ayah akan selalu mengisi tabungan itu sampai kalian bisa mengisinya sendiri,ayah bekerja untuk kalian jadi jangan menolaknya"
Aku begitu terharu mendengar ucapan ayah,selama ini aku sudah salah menduga,aku pikir ayah pun membedakan kasih sayangnya seperti ibu. Aku pun mengambilnya dan mengucapkan terima kasih, setelah berpelukan kami pun berpisah,tak lupa aku mengirim salam sayangku untuk Dhika dan Maudy.
***
Hari demi hari telah berlalu tidak terasa sudah 6 bulan aku tinggal di asrama,setiap bulan ayah dan ibu selalu mengunjungi ku meskipun dalam waktu yang singkat karena ketatnya peraturan asrama.
Hari-hari ku di asrama begitu menyenangkan, terlebih dengan kehadiran Lala dan gigi, aku bisa berbagi semua hal dengan mereka,dan aku sangat bersyukur bahwa ada mereka yang mengisi hari-hari ku.
Hari ini asrama cukup riuh,dari obrolan para siswi katanya ada pengajar baru yang tampan . Aku tertawa mendengar ocehan ocehan para siswi,efek asrama ini hanya di isi oleh kaum hawa mungkin mereka merindukan sosok Adam.
"Inka kamu sudah dengar berita yang menghebohkan sejagad asrama?" ucap gigi yang selalu mendrama semua hal.
"Apa?"
"Ada guru baru dan ganteng banget, tapi ada gosip yang berseliweran kalau sikapnya tidak seramah ketampanannya" ucapnya lesu
"Apa maksud kamu?"
"Katanya guru itu sudah membentengi diri dengan wajah galaknya,jadi yang mau mendekat sudah menyerah duluan" sahut gigi dengan ekspresi yang seolah-olah menyedihkan.
"Haha lagian kalian ini ada ada saja,kita itu masih di bawah umur untuk apa menyukai laki-laki dewasa,fokus saja untuk belajar."
"Baik ukhti,salah sambung ngomong beginian sama kalian berdua,kenapa si kalian tidak antusias seperti mereka,malah cuek seperti itu,aku kan jadi merasa sendiri"
"Ganjen!" sahut lala singkat.
Setelah keriuhan yang terjadi akhirnya kami masuk ke dalam kelas, kami dengar guru baru itu akan masuk ke dalam kelas ku hari ini,dan semua siswi begitu antusias,namun tidak dengan aku dan lala.
***
__ADS_1
Doakan aku Istiqomah haha
kayanya aku semangat kalau kalian dukung ceritaku seperti cerita cerita sebelumnya ❤️😉