Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST20


__ADS_3

Aku dan ketiga sahabat ku pun mendaftar kuliah di salah satu universitas terbaik di kota kami. Kami sepakat mengambil jurusan Psikologi pendidikan,entah kenapa kami berempat sangat suka mengamati karakter orang lain,dan bisa memberikan solusi kepada mereka.


Dan lucunya ketika salah satu di antara kami sedang ada masalah ,secara tidak langsung kami bisa tahu dan langsung menjadi pendengar dan penasehat yang baik.


Ayahku tidak memaksakan anaknya harus masuk jurusan mana,yang penting anaknya memiliki pendidikan yang akan berguna di masa depan.


Setelah berhasil mendaftar,kami pun pulang ke rumah masing-masing,hari ini aku di jemput Dhika,adikku yang satu itu memang begitu perhatian dan selalu menjadi yang pertama saat aku membutuhkan bantuannya.


**


Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, setelahnya aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur,menatap langit-langit sambil memikirkan apa yang di katakan Gigi tadi siang. Banyak hal yang menjadi pertanyaan ku, bagaimana keadaannya saat ini? apakah sudah makan atau belum? dan apakah Dia menjalani harinya dengan baik?. Ah semakin aku memikirkan semakin aku ingin tahu yang sebenarnya terjadi.


Kali ini aku mencoba mengubur rasa penasaran ku dan memejamkan mata , mengistirahatkan pikiran yang sejak siang sudah berkelana. Berharap setelah bangun nanti aku melupakan apa yang sudah aku dengar.


***


Hari-hari kami selalu penuh keceriaan apalagi setelah melewati proses ospek dan lainnya untuk menjadi Mahasiswi di Universitas Harapan Bangsa. Perlahan aku bisa melupakan sosok pak Putra, laki-laki yang sampai saat ini masih aku kagumi, mudah-mudahan dia selalu baik-baik saja,dan lekas menemukan kebahagiaannya.


"Enggak nyangka ya kita sekarang sudah menjadi mahasiswi, perasaan baru kemarin kita jadi tahanan di Asrama" ucap gigi yang sedang asik menikmati jus alpukat


"Iya, sampai sampai aku bosan terus-terusan kamu ikuti,kenapa kamu tidak menerima saran orang tuamu untuk kuliah di luar negeri hah?" ucap Lala yang seolah keberatan selalu di ikuti Gigi


"Ucapan jahat mu sudah seperti cemilan bagiku,aku tidak mau berpisah dengan mu kecuali maut yang memisahkan" sahut gigi berlebihan


"Dasar pe a!" ucap Lala sarkas


"Bodo!"


"Kalian ini saling berdebat tapi sebenarnya kalian membutuhkan satu sama lain,dan kamu gigi jangan terlalu bergantung pada Lala mungkin saja dia ingin punya kekasih jika kamu terus menempel orang akan berpikiran yang tidak-tidak tentang kalian" ucapku di iringi dengan senyum menggoda.


"Aku tidak berpikiran sejauh itu. Apa benar la kamu ingin mempunyai kekasih?" tanya gigi polos


"Kalian ini kenapa aku yang di serang si,aku mau fokus belajar lagi pula usiaku masih mudah,aku tidak akan berpacaran,kalau bertemu yang cocok dan sejalan aku akan langsung menikah saja"


"Aku sependapat dengan mu la, pacaran itu hanya buang-buang waktu saja" sahut Hesti menimpali


"Aku justru ingin memulai pencarian ku di kampus ini, setelah 3 tahun aku hanya melihat wajah-wajah cantik,dan akhirnya aku bisa melihat lawan jenis ku. Pokoknya aku akan melakukan pencarian cinta di sini" ucap gigi


"Lakukanlah,dan aku berharap kamu menemukan laki-laki yang posesif yang akan mengekang kebebasan mu bermain dengan kami, sehingga aku bisa lepas dari bayang-bayang mu" ucap Lala kembali sarkas pada gigi.


Aku hanya memperhatikan tingkah keduanya yang seperti anak kecil, meributkan sesuatu yang tidak ada.

__ADS_1


Jam kuliah sudah berakhir,mereka berempat memutuskan untuk pulang ke rumah. Kali ini Dhika tidak menjemput,Dia sudah mengirim pesan kalau ada tugas kelompok di sekolahnya dan aku memilih untuk menggunakan ojek online saja.


Kurang dari satu jam aku sudah sampai di rumah. Aku mengucap salam seperti biasanya namun kali ini aku melihat ayah di rumah saat jam kantor.


"Ayah,sudah pulang?"


"Iya,ibu mu sakit tadi pegawai toko menghubungi ayah "


"Ibu sakit apa yah?"


"Ibu mu jatuh pingsan saat di toko kuenya , setelah di bawa ke rumah sakit kata dokter ibu mu tipes"


Aku terkejut mendengar apa yang ayah sampaikan,aku jadi merasa bersalah seharusnya sebagai anak paling besar aku bisa di andalkan.


"Terus keadaan ibu bagaimana yah?"


"Ibu sudah menerima perawatan,ayah pulang untuk mengambil baju ganti, untuk sementara kamu di rumah ya jaga adik-adikmu"


"Tapi yah,aku ingin ikut dan menjaga ibu"


"Kamu kan baru masuk kuliah pasti sedang sibuk-sibuknya, sebaiknya kamu di rumah saja ya"


"Boleh ya yah,besok aku masuk siang. Aku janji tidak akan menggangu kuliahku"


Aku pun segera bersiap dan mengganti pakaian ku, setelah membawa semua keperluan ibu aku pun segera menyusul ayah .


30 menit kemudian aku sudah sampai di rumah sakit,aku mengikuti langkah ayah menuju ruangan ibu. Saat akan masuk ke dalam ruang rawat ibu aku melihat seseorang yang aku kenal,ya dia adalah Pak Putra. Dia sedang menelpon dengan seseorang nampak serius apa yang dia bicarakan,hingga tatapan mata kami bertemu sesaat dan Langsung terdiam.


"Nak,ayo masuk ini ruangan ibumu" ucap ayah kembali menyusul ku di luar.


"I__iya yah aku segera masuk"


Tatapan mata kami terputus hingga dia berjalan ke arah ku dan menyapa.


"Kamu Inka kan,murid Asrama Harapan Bangsa?" tanya pak putra yang ternyata masih mengenalku


"I__iya pak,saya Inka. Bapak apa kabar?"


"Saya baik,kamu sedang menjenguk siapa?"


"Ohh.. ibu saya sakit pak. Bapak sendiri?"

__ADS_1


"Sama,ibu saya juga sedang di rawat di sini."


"Semoga lekas sembuh ya pak untuk ibu bapak"


"Terima kasih,doa yang sama untuk ibu kamu"


Saat mereka sedang asik mengobrol lagi-lagi Ayah keluar dari kamar rawat Ibu untuk melihat aku yang tak kunjung masuk.


"Inka kamu lama sekali,sedang apa si?" tanya ayahku tanpa melihat orang di samping ku.


"Iya yah, sebentar"


"Selamat sore pak" ucap pak Putra pada ayahku


"Sore" sahut ayah


Ayah melihat pak Putra yang baru pertama kali ia lihat, terlihat sopan dan dewasa.


"Kamu siapa?"


"Dia guru aku waktu di asrama yah" sahutku saat ayah bertanya pada pak Putra.


"Ohh gitu,maaf ayah tidak tahu,yasudah kamu masuk temani ibumu"


Aku pun masuk ke ruangan ibu, sedangkan ayah terdengar sedang berbincang dengan Pak Putra.


***


"Perkenalkan pak saya putra ,guru Inka waktu di asrama"


"Oh iya,saya Erwin ayahnya Inka. Apa ada keluarga atau sahabat yang sedang di rawat?" tanya pak Erwin.


"Kebetulan ibu saya pak"


"Sakit apa ibunya?"


"Biasa pak penyakit usia lanjut,saya dengar istri bapak sedang di rawat,semoga lekas sembuh ya pak"


"Terima kasih,apa saya boleh menjenguk ibu kamu?" tanya pak Erwin.


"Tentu saja pak"

__ADS_1


Pak Erwin seolah tertarik dengan sosok putra yang dewasa dan sopan,terlebih pak Erwin mudah dekat dengan siapapun yang menurutnya nyaman untuk di ajak bicara dan berteman.


__ADS_2