
Putra masuk kedalam kamar Arumi dengan perlahan, jantungnya berdetak kencang seolah baru pertama bertemu dengan kekasih pujaan hati. Arumi sedang membaringkan tubuhnya diatas kasur , sedangkan pandangan matanya mengarah ke suara pintu yang baru saja terbuka.
Sama halnya Putra, Arumi pun merasakan detak jantungnya berdetak kencang,ini pertama kalinya ia tidur satu kamar dengan seorang laki-laki asing, meskipun ia berstatus suami Arumi namun tetap saja semuanya terasa canggung.
Putra mendekat kearah tempat tidur Arumi dan berdiri kebingungan harus berbuat apa.
"Apa bapak akan terus berdiri seperti itu?" tanya Arumi
"Lalu saya harus berbuat apa,saya sendiri bingung"
__ADS_1
"Apa bapak akan terus berdiri seperti itu semalaman?"
"Tentu saja tidak,tapi saya harus tidur di mana?"
"Tidurlah di ranjang ini , meskipun sempit tapi masih bisa dipakai untuk tidur berdua. Tapi ingat jangan macam-macam,aku akan memberikan pembatas ditengah-tengah." ucap Arumi
Putra merasa senang dengan apa yang Arumi katakan,ini pertama kalinya Putra akan tidur satu tempat tidur dengan Arumi,karena sebelumnya mereka tidak satu kamar.
Arumi sudah memasang dua guling di tengah-tengah mereka,anggap saja mereka benteng pembatas antara selatan dan timur. Dengan canggung Putra pun membaringkan tubuhnya,nyaman itulah yang ia rasakan meskipun tempat tidurnya tak seluas miliknya.
__ADS_1
Sebelum memasuki kamar Arumi ia sudah mengabari orang rumah kalau putra akan menetap beberapa waktu di kota Jogja,ia akan kembali dengan Arumi,jika wanita itu tidak mau maka Putra akan terus berjuang sampai Arumi bersedia.
Malam kian larut,Arumi sudah mengarungi mimpi indahnya sejak beberapa jam yang lalu tubuhnya benar-benar kelelahan, sedangkan Putra memandang lekat wajah sang istri yang sedang terlelap dalam tidurnya. Senyuman kecil seringkali terbit dari bibirnya, menggambarkan betapa bersyukurnya ia bisa kembali menjumpai sang istri meskipun dengan bantuan sahabatnya,toh ia sudah berusaha mencari sendiri meskipun gagal.
Menjelang jam 1 pagi rasa kantuk itu datang ,Putra pun tanpa sadar memejamkan matanya,dan benar saja udara disana cukup dingin hingga tanpa sadar terdengar suara menggigil ,Arumi merasa terganggu dengan suara itu,dia amat mencintai kesunyian dan kini ada suara yang menggangu tidur lelapnya.
Saat bangun Arumi sedikit terkejut,namun tak lama ia sadar bahwa laki-laki itu adalah suaminya,dan sudah mendapatkan izin darinya untuk tidur satu ranjang. Kedua guling itu masih kokoh menjaga pertahanan keduanya,tidak bergeser apalagi runtuh ke dasar lantai,Arumi bergidik jika hal itu terjadi, menurut novel yang ia baca biasanya akan terjadi peluk memeluk tanpa sadar,dan saling berteriak saat terbangun nanti karena terkejut .
"Aku memikirkan hal bodoh, sepertinya dunia imajinasi ku begitu mengerikan." ucap Arumi langsung bangun untuk mengambil selimut di lemari miliknya
__ADS_1
Setelah mendapatkannya Arumi pun menutupi tubuh Putra dengan selimut yang ia ambil, terlihat putra meringkuk untuk menciptakan kehangatan bagi tubuhnya,hingga ia melepas tangan yang membelit tubuhnya sendiri setelah mendapatkan kehangatan dari selimut yang Arumi berikan. Arumi tersenyum melihat Putra begitu nyaman dalam tidurnya ia pikir pria itu akan kesulitan tidur karena keadaan tempat yang tidak nyaman.