
Tiga puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Pak supir sudah sampai di rumah sakit, Putra langsung membopong tubuh istrinya dan meminta bantuan para dokter yang bertugas saat itu.
"dok tolong istri saya ..." petugas medis langsung berlari kerah Putra dengan membawa brankar, Arumi pun langsung ditangani. Setelah beberapa saat akhirnya dokter selesai melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya ,dok?" tanya Putra yang masih diliputi kekhawatiran
"Istri Bapak kekurangan cairan, saya sudah menyuntikkan vitamin melalui infus. Sebaiknya Bapak memperhatikan kondisi istrinya terutama asupan dan juga Vitamin, janin yang ada di dalam kandungan istri Bapak juga butuh nutrisi," ucap dokter menjelaskan kondisi Arumi
"Janin? maksud dokter istri saya sedang mengandung?," tanya Putra meyakinkan
"Iya, Pak. menurut pemeriksaan saya seperti itu, untuk lebih meyakinkan sebaiknya diperiksakan ke dokter kandungan,"
"Baik, dok. terima kasih. Apa saya sudah bisa melihat istri saya?,"
"Sama-sama. Tentu saja bapak bisa menemuinya tapi saat ini istri Bapak belum sadar, Kalau begitu saya permisi,"
"Silakan, dok. Sekali lagi terima kasih,"
Setelah dokter memberikan penjelasan tentang kondisi Arumi dan juga kabar tentang kehamilan sang istri, Putra langsung menemui istrinya.
"Sayang, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan ini untuk ku. Pantas saja selama beberapa hari ini kamu rewel ternyata ada anak ayah di sini," ucap putra sambil mengelus perut Arumi yang masih rata.
Tak lama kemudian Arumi membuka matanya tak lama ia memejamkan kembali matanya karena silau dengan cahaya lampu, Arumi meminta Putra untuk mematikan lampu, sepertinya dia belum menyadari keberadaannya saat ini.
"Mas, lampunya terang sekali bisa matikan lampunya?"
Putra terkekeh mendengar penuturan istrinya, memangnya rumah sakit nenek moyang, apalagi ini UGD mana bisa main matikan lampu. "Sayang, kita sedang di rumah sakit, bukan di rumah,"
"Hah di rumah sakit, ko bisa? perasaan tadi aku di rumah,"
"Itukan perasaan kamu, tadi kamu pingsan di kamar mandi jadinya Mas langsung membawa kamu ke sini,"
"Kenapa di bawa ke sini? aku kan hanya masuk angin saja, Mas."
"Masuk angin apanya, ini pasti gara-gara aku yang sering telanjangin kamu kalau malam," bisik Putra langsung dihadiahi pukulan oleh Arumi karena ucapan suaminya yang sembarangan ketika di tempat umum.
__ADS_1
"Kalau ngomong dijaga Mas nanti kalau ada yang dengar bagaimana kan malu, kamu ini tidak di mana-mana pasti mesum menyebalkan."
"Memang kenyataannya seperti itu sayang, kamu tahu tidak kalau di sini ada janin yang sedang berkembang, ada calon anak kita. pasti karena kerja kerasku selama ini membuat kamu masuk angin,"
"Kamu ini ngomong apa si Mas?" ucap Arumi tidak menganggap serius perkataan suaminya
"Memang benar sayang kalau di dalam sini ada calon anak kita, kata dokter kamu sedang mengandung namun untuk memastikan kita harus menemui dokter kandungan dan memeriksakan keadaannya," Putra meyakinkan istrinya sambil mengelus perut Arumi, hal itu membuat mata Arumi berkaca-kaca.
"Mas, kamu tidak sedang bercanda kan?,"
"Aku serius sayang, mana mungkin aku bermain-main dengan hal seperti ini. Misi kita berhasil membuatkan adik untuk Rafa dan Arka,"
"Ya Allah Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mengandung, terima kasih ya Allah aku pasti merawatnya dengan baik,"
"Kita akan merawat dan membesarkannya bersama. Terima kasih sudah bersedia mengandung anakku,"
"Anak kita, Mas."
"Iya, anak kita," sahut putra lalu mengecup tangan Arumi.
**
"Mas, kapan kita akan menemui dokter kandungan?" tanya Arumi antusias
"Sekarang masih pagi sayang, dokter prakteknya jam 9 pagi. Tunggu sebentar lagi ya, sekarang kamu tiduran lebih dulu,"
"Aku sudah tidak sabar ingin memastikannya, aku juga ingin segera pulang dan memberikan kabar bahagia ini pada yang lainnya. Aku tidak nyaman tidur di rumah sakit, sempit dan juga terang,"
Putra kembali tersenyum mendengar keluhan calon ibu tersebut "Sabar sedikit lagi ya, setelah pukul 9 kita langsung temui dokter kandungan, Mas sudah mendaftar dan kita dapat urutan teratas jadi jangan khawatir akan menunggu lama."
"Iya Mas, terima kasih sudah menemani ku malam ini,"
"Memangnya malam sebelumnya Mas tidak menemani kamu tidur?"
"Hehe,"
__ADS_1
"Dasar kamu, malah nyengir gitu, awas saja kalau sudah di rumah aku makan kamu,"
"Tidak jauh dari hak seperti itu, sepertinya setelah ini kamu harus berpuasa Mas, menurut informasi yang aku dapat kalau wanita di awal kehamilannya itu harus mengurangi aktivitas ranjangnya, hal itu dikarenakan kondisi janin yang masih rawan,"
"Kali ini kamu pasti mengada-ngada, Mas tidak percaya, aku akan tanyakan langsung ke dokter. Mana bisa urusan ranjang diliburkan,"
"Memangnya kamu tidak malu bertanya hal seperti itu?,"
"Kenapa harus malu, inikan edukasi juga sayang, dari pada kita hanya menduga-duga lebih baik ditanyakan pada ahlinya,"
"Yaya terserah kamu saja,"
**
Tepat pukul 9 Putra mendorong istrinya dengan kursi roda untuk menemui dokter kandungan, sudah ada beberapa pasien yang menunggu giliran, para ibu yang akan memeriksakan kehamilan dengan didampingi para suaminya, ada juga yang sekedar berkonsultasi.
"Mas, nanti kalau usia kehamilan ku sudah besar perutku pasti membuncit kaya ibu itu ya Mas?" tanya Arumi antusias melihat ibu hamil yang perutnya membuncit.
"Tentu saja sayang, Mas sangat menantikan saat-saat itu tiba. Dulu saat mendiang ibu Arka mengandung dan melahirkan mas tidak mendampingi, penyesalan terbesarku yang tidak akan pernah hilang, bagaimana jahatnya aku dulu. Dan kali ini aku akan melakukan yang terbaik untuk anak dan istriku, aku akan melihat setiap prosesnya mas tidak ingin kembali menyesal," Putra bercerita perihal kehidupan sebelumnya, membuat Arumi merasa iba.
Arumi mengelus punggung Putra memberikan ketenangan pada suaminya, bagaimanapun ia menyadari bahwa masa lalu suaminya itu tidak mudah. Saat ini ia hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak, membina rumah tangga yang bahagia sampai tua nanti.
Setelah menunggu hampir setengah jam lebih akhirnya nama Arumi dipanggil, keduanya memasukinya ruang praktek dokter, di sana sudah ada dokter cantik berhijab.
"Selamat pagi Bu, Pak. ada yang bisa saya bantu atau keluhannya apa?"
"Begini dok, kemarin istri saya pingsan dan saya bawa ke UGD, dokter yang bertugas saat itu mengatakan kalau istri saya sedang mengandung, namun untuk memastikan dokter tersebut menyarankan saya menemui dokter kandungan," Putra menjelaskan keadaan istrinya pada dokter bernama Anita tersebut.
dokter Anita tersenyum ramah "Baik sebelum itu ibu di tensi dulu ya dan menimbang berat badan. Arumi pun mengikuti arahan sang dokter
"Boleh saya bertanya kapan ibu terakhir kalinya haid?"; Pertanyaan dasar para dokter saat mendapati awal kehamilan
"Saya tidak ingat persisnya, dok, tapi sepertinya bulan ini saya belum haid,"
"Baik, sekarang ibu berbaring ya, kita lakukan USG untuk memastikan kehamilan ibu," dokter pun melakukan pemeriksaan dan setelah beberapa saat dokter memberitahukan tentang keberadaan janin yang ada di dalam kandungan istrinya, dokter mengatakan usia kandungan Arumi sudah berjalan 5 minggu.
__ADS_1