Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST 8


__ADS_3

Dua hari sebelum ujian Inka dilakukan, ayahnya harus melakukan perjalanan bisnis keluar negeri selama beberapa minggu,semua keputusan tentang anak-anak diberikan kepada Ibu Maya.


Tepat hari ini ujianku selesai dilakukan,kami semua menyambutnya dengan bahagia meskipun belum ada keputusan lulus atau belum,namun setidaknya tugas akhir sebagai pelajar menengah pertama telah selesai. Kini aku dan yang lainnya membahas tentang jenjang pendidikan selanjutnya.


Kami berenam masih di sekolah yang sama itu niat awalnya,namun ternyata tiga diantaranya harus pergi mengikuti dinas orang tua di luar kota. Yang tersisa kini tinggal aku,Hesti dan putri,bahkan mereka bertiga harus berangkat setelah ujian selesai, kehidupanku akan tambah sepi tanpa mereka,bahkan yang kudengar putri pun akan pindah keluar kota,namun tidak secepat ketiganya.


Setelah acara coret mencoret kami pun memutuskan untuk mengadakan perpisahan dengan makan-makan disebuah Rumah makan lesehan yang tidak jauh dari sekolah, ketiganya yang akan mentraktir kita makan.


"Dunia sekolah akan sepi tanpa kalian bertiga,pesanku jangan lupakan kita disini ya" ucapku pada ketiganya


"Iya,nanti kalian melupakan kami setelah dapat teman baru,ah rasanya aku tidak ikhlas berpisah dengan Kalian," sambung Hesti


"Sejujurnya aku juga berat meninggalkan kalian dan semua kenangan kita,tapi aku harus tetap pergi karena ayahku tidak mau meninggalkan aku sendiri,kamu tau sendiri kalau kami sekeluarga adalah pendatang" sahut Ocha menimpali


"Benar apa yang dikatakan ocha,dan tugas ayahku sebagai seorang dokter yang dibiayai oleh negara harus siap jika sewaktu-waktu ditempatkan dimana pun,dan kami sekeluarga terpaksa harus ikut, apalagi dinas aku kali ini menjadi yang terlama, mangkanya beliau mengajak kita semua" sahut Ana


"Iya kami paham, pokoknya dimana pun kalian berada jangan lupakan kami disini" sahutku


"Lalu kau Rika kamu dinas keluar kota juga?" tanya putri penasaran


"Iyah,sama seperti Ana yang dibiayai negara. Ayahku pun demikian, sebagai tenaga pendidik di pelosok sana membutuhkan seorang guru yang profesional,disana ayahku diutus untuk mengembangkan pendidikan, supaya tidak tertinggal,dan mau tidak mau kami sekeluarga pun ikut" sahut Rika dengan lesu


"Yasudah mau gimana lagi,kami disini pun tidak bisa berbuat apa-apa,mencegah hanya akan menjadikan kami egois saja, pokoknya kita harus tetap bersahabat kapanpun dan di manapun" ucap Hesti mengalihkan kemurungan

__ADS_1


Kami pun berpelukan,tak lupa kami saling menitikkan air mata,kita berteman dari zaman SD dan sekarang harus terpisah,pasti hal ini akan terasa berat untuk kami berenam. Makanan yang dipesan pun datang,dua ekor ayam bakar gurame,cah kangkung seafood, cumi goreng tepung,tahu tempe dan sambel goreng,ah makanan ini menggugah selera. Kami makan dengan hikmat setelah selesai kami sedikit berbincang dan sebagai penutup kami berfoto bersama dan saling berpelukan.


Setelah acara perpisahan akupun pulang kerumah, hampir magrib aku baru sampai rumah,karena setelah makan-makan kami pun mendatangi tepat yang biasa kami datangi kalau sekolah sedang pulang cepat. Saat sampai rumah aku disambut oleh ibuku ,tatapan matanya seolah menyimpan banyak kata,aku menunduk.


"Darimana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya ibu dengan tatapan tajamnya


"Ma__af Bu,tadi aku dan teman teman merayakan perpisahan sekolah,ketiga temanku akan pindah keluar kota jadi mereka mentraktir kami makan" ucapku menjelaskan tanpa berbohong sedikit pun.


"Harusnya kamu tau waktu,ini sudah sore adik-adik kamu tidak terurus,seharian mereka bermain,kan kamu tau kalau ibu harus pergi ke toko,sedang asisten rumah tangga memiliki pekerjaan lain selain mengawasi kedua adik kamu!" ucap ibuku masih dengan nada penuh kemarahan


"Iya Bu aku salah,maafkan aku" sahutku tidak berani menyahut lebih banyak lagi ucapan ibu.


"Segera membersihkan diri,kamu harus membantu adik kamu belajar,jangan malas-malasan,kami membesarkan kamu bukan untuk menjadi seorang pemalas" ucap ibu yang aku pahami dan sedikit membuat hatiku ngilu dan sakit.


Kedua adikku nampak menurut dan mengikuti semua arahanku,aku bersyukur dirumah ini masih ada mereka yang menyayangiku,aku jadi tidak merasa sendiri,namun bagaimana jadinya kalau aku ini bukan saudara serahim meskipun ayah kita sama. Ah itu urusan nanti, kalaupun mereka membenciku atau tidak mau memiliki saudara seperti ku yasudah itu sudah nasibku.


***


Tibalah kini pengumuman kelulusan dan semua murid di SMP Pelita Harapan dinyatakan lulus, kebahagiaan kami semakin terasa,saat yang kita tunggu-tunggu telah tiba,dan nilai yang kita raih pun adalah sebuah kerja keras,doa pastinya.


Saat kami tengah merayakan kelulusan seorang guru yang bernama Bu Ani memanggil ku keruangannya,katanya ada yang ingin dibicarakan,aku pun datang keruangannya dan Bu Ani menjelaskan banyak hal.


"Inka beasiswa kamu sudah terverifikasi dan kamu menjadi salah satu siswa terbaik disekolah ini dan akan menjadi perwakilan dari Pelita Harapan untuk melanjutkan pendidikan dengar jalur beasiswa" ucap Bu Ani menyampaikan kabar tersebut

__ADS_1


"Alhamdulillah,ibu serius?" tanyaku yang masih tidak percaya"


"Benar Inka,kamu berhasil lulus disekolah favorit yaitu di Sekolah Harapan Bangsa,namun kamu harus tinggal di asrama dan meninggalkan kediaman kamu,orangtua kamu bisa berkunjung sebulan sekali dan setiap libur sekolah kamu bisa pulang kerumah" ucap Bu Ani kembali menjelaskan


"Apa semua itu gratis Bu?" tanyaku lagi karena takut mengeluarkan biaya,karena aku tidak mau menyulitkan orangtuaku.


Bu Ani mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik untuk mengharumkan sekolahmu,karena disana kamu akan bertemu dengan orang-orang cerdas"


"Bu apa aku boleh bertanya?" ucapku ingin mengeluarkan beberapa pertanyaan yang mengganjal.


"Bu bukankah ibu mendaftarkan beasiswa ku di sekolah Pelita Harapan? tapi kenapa kini aku diterima di SHB?" ucapku bertanya


"Maafkan ibu dan pihak sekolah,tanpa sepengetahuan kamu kami mendaftarkan kamu di SHB jika kamu berhasil lulus,SHB pun akan membatu Pelita Harapan dan bekerja sama,dan tes yang kamu ikuti adalah tes yang disediakan oleh SHB,bukan pelita harapan" ucap Bu Ani menjelaskan panjang lebar


"Lalu,apakah hal ini harus mendapatkan izin dari orang tua?" tanyaku lagi


"Tentu saja,kamu bisa meminta tanda tangan salah satu wali kamu,dan beberapa hari yang lalu ibu kamu sudah melakukannya,katanya ayahmu sedang tugas keluar kota" sahut Bu Ani membuatku sedikit tidak percaya.


Ternyata ibu benar-benar tidak menginginkan aku, sampai-sampai tanpa sepengetahuan ku dia sudah menandatangani berkas persetujuan,kalau sudah seperti ini aku harus benar-benar meninggalkan rumah dan mengejar impian ku sendirian,baiklah mungkin ini sudah kehendak yang maha kuasa,aku akan menjalaninya sampai akhir.


**

__ADS_1


Like,komen vote jika berkenan . Terima kasih


__ADS_2