
Saat Arumi dan Rafa melangkahkan kakinya keluar rumah,Putra mencoba menghentikan keduanya,namun upayanya sia-sia karena Arumi dan Rafa sudah menaiki kendaraan bermotor yang dikemudikan oleh Aldi. Sedangkan Arka pergi ke kamarnya dengan menahan air matanya.
Suasana di rumah Putra sudah tidak baik-baik saja,rasa lelah yang menguasai dirinya seolah bertambah dengan hal yang baru saja terjadi,Putra tidak menyangka bahwa semuanya akan selesai begitu saja.
Putra menyusul Arka ke dalam kamarnya,ia ingin meminta penjelasan kepada anaknya. Hampir sebulan Arka bersikap aneh dan terang-terangan memintanya untuk tidak terlalu dekat dengan Rafa dan juga Arumi, awalnya ingin menolak namun Arka seolah tidak ingin dibantah,dan putra mengikuti keinginan Arka sampai dia bertanya perihal yang sebenarnya terjadi.
"Arka,buka pintunya! ayah tahu kamu ada di dalam tolong buka pintunya kalau tidak ayah akan mendobraknya!" ancam putra dengan nada tinggi dan emosi
Ayu yang menyusul ke kamar Arka seolah memberikan isyarat bahwa putra harus menahan emosinya karena Arka anak yang tidak bisa dikasari,bicara dengan Arka harus pelan dan dari hati ke hati.
"Mohon maaf pak, sebaiknya tenangkan diri bapak dulu,den Arka akan sulit diajak bicara kalau bapak masih dalam keadaan emosi. Saya tidak bermaksud ikut campur tapi hal seperti ini sudah berulang terjadi,den Arka akan melakukan penolakan terus menerus bahkan dia bisa mengurung diri di kamarnya" Ayu mencoba memberikan saran kepada putra karena bagaimanapun persoalan tidak akan teratasi dengan baik jika diiringi dengan emosi.
Putra pun mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Tujuannya saat ini adalah menyegarkan tubuhnya dari situasi pelik yang terjadi, berharap setelah bertemu dengan air dan membersihkan diri dengan berendam maka pikirannya akan sedikit rileks.
Hampir satu jam berendam putra pun menyudahinya dan segera menggunakan pakaiannya,ia ingin segera menyelesaikan persoalannya dengan Arka. Berharap anak itu akan memberikan jawaban yang masuk akal dan membuat kemarahannya sedikit mereda dan hilang.
__ADS_1
Sedangkan Arka ,sesaat setelah mengunci diri di kamarnya ia langsung menangis sesenggukan di atas bantal,Arka tidak ingin melakukan hal ini,namun melihat sikap putra yang berubah terhadap Arumi. Sesekali ia melihat sang ayah tersenyum indah, senyuman yang dulu sering diberikan kepada mendiang ibunya, tiba-tiba Arka melihat senyuman itu diberikan kepada orang lain. Arka merasa ayahnya sudah mengkhianati sang ibu,dan saat putra begitu tulus menyayangi Rafa, memberikan apa yang Arka dapatkan, awalnya ia bersikap biasa saja entah kenapa sikap arogansinya seketika menguasai diri,hati nuraninya jelas menolak namun keegoisan menarik paksa Arka menjadi manusia yang sedikit egois.
"Maafkan Aku" gumamnya diiringi tangis penyesalan.
Malam sudah menyapa, keheningan masih saja terjadi di rumah besar itu. Putra sudah bersabar menahan rasa ingin tahunya,ia harus bertanya pada Arka kenapa sikapnya berubah.
Atas sikap lembut dan sabarnya menghadapi arka Putra mengenyampingkan rasa marahnya, berharap dengan bersikap seperti ini membuat Arka luluh dan mau berbagi perasaan dengannya.
Arka mengizinkan ayahnya masuk setelah bujukan dan rayuan yang diberikan Putra. Hingga akhirnya keduanya saling berhadapan dengan Arka yang menundukkan kepalanya,mata sembab menjadi saksi bahwa Arka telah menangis,hal ini menjadi tanda tanya besar Putra,jika Arka bahagia atas kepergian mereka seharusnya tidak ada tangis di wajahnya,namun hal itu berbanding terbalik.
"Sekarang katakan pada ayah apa yang sebenarnya terjadi,kenapa Arka bersikap kurang baik akhir-akhir ini,apa ada yang menggangu pikiran Arka?" tanya putra hati-hati karena ia tidak ingin melihat Arka tertekan dan malah membuatnya tidak mau membuka suara.
"Apa kamu akan terus diam seperti ini? apa kamu tahu ,nak. Kita berdua sudah menzolimi ibu Arumi dan Rafa,kita sudah menyakiti mereka dengan sikap kita"
Arka mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sang ayah,wajah yang terlihat lelah ditambah masalah yang harus ayahnya hadapi hari ini.
__ADS_1
"Aku hanya tidak suka saat diam-diam ayah tersenyum untuk ibu Arumi,aku tidak mau ayah melupakan ibu Inka. Aku juga tidak mau ayah memberikan kasih sayang yang sama pada Rafa,aku tidak suka ayah sedikit saja mengabaikan aku" Arka berterus terang mengatakan apa yang selama ini Dia rasakan. Setelah itu dia kembali menundukkan kepalanya dan menangis.
Putra yang mendengar jawaban itu dari Arka,merasa tertampar. Apa selama ini ia telah mengabaikan Arka ,apa benar ia telah mengkhianati mendiang istrinya? pertanyaan demi pertanyaan memenuhi isi kepalanya,benarkah ia sudah menjadi ayah yang buruk selama ini.
Putra memeluk tubuh Arka, bagaimana pun ia mengerti perasaan Arka. Wajar saja jika Arka berpikiran demikian karena selama ini yang dia lihat hidup ayahnya hanya untuk dirinya dan sang ibu.
"Lalu kenapa Arka meminta ayah untuk menikah dengan ibu Arumi? bukankah ayah sudah menolaknya. Ayah hanya berusaha membahagiakan kamu dan menuruti semua keinginan kamu,tapi pada akhirnya kita yang menyakiti mereka karena keegoisan kita Arka,"Putra mengelus punggung Arka yang masih berada dalam pelukannya, berharap dia akan menyadari semuanya.
Air mata Arka terus mengalir dan membasahi baju sang ayah,Putra merasakan bahwa Arka sudah menyesali perbuatannya meskipun ia hanya melihat dari tangisan Arka. Malam semakin larut,hingga Arka tertidur dalam pelukan putra,malam ini putra memeluk erat tubuh anaknya memberikan cinta terbaik yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
**
Sedangkan di kediaman Arumi.
Malam itu setelah Rafa tertidur Aldi dan Arumi membicarakan banyak hal. Aldi meminta Arumi memberi tahukan yang sebenarnya pada Rafa,perihal ayah dan keluarga lainnya. Arumi tidak harus menyembunyikan kebenaran lagi,toh Rafa sudah cukup dewasa untuk memahami kata-kata yang akan disampaikan.
__ADS_1
"Kak, mungkin ini sudah waktunya kakak mengatakan yang sebenarnya, kakak tidak harus berkorban lebih banyak lagi. Aku mohon kak,kakak juga harus bahagia dengan hidup kakak jangan terlalu memikirkan banyak perasaan sementara kakak sendiri tidak bahagia." Aldi mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam, meskipun terlihat selalu menyetujui apa yang dilakukan Arumi namun di hati terkecilnya ia sangat menentang,karena Arumi lagi-lagi harus mengorbankan kebahagiaannya.
Arumi terdiam, bagaimana pun ini adalah pilihan hidupnya,dia akan bahagia ketika orang di sekitarnya bahagia, meskipun dia harus berkorban. Menurut Arumi apa yang dilakukan selama ini adalah upaya terbaik dirinya untuk berguna bagi orang-orang yang berharga dalam kehidupannya.