Teman Tidur Paman Daniel

Teman Tidur Paman Daniel
Bab 114


__ADS_3

Dilihatnya oleh Sierra apa yang melekat ditangannya.


"Oh my God, dasar Jazz gila!" umpat Sierra.


Membuat Joanna dan Elrald menghampiri Sierra karena penasaran apa yang membuat wanita itu marah-marah.


"Ada apa Sierra?"


"Lihat ini, cairan milik laki-laki keparatt itu menempel di tanganku, menjijikkan," sambil mengelap dengan tisu.


Hahahaha..


Mendengar umpatan Sierra membuat Joanna dan Elrald justru menertawakannya.


"Nikmati saja Sierra kapan lagi bisa menyentuhnya," ledek Elrald.


"Ah sudahlah aku akan tidur disisi sebelah kiri saja!"


Setelah membersihkan tangannya dengan tisu, Sierra menarik selimut dan tidur disisi sebelah kanan ranjang itu, sedangkan Joanna dan Elrald memilih kembali duduk di sofa untuk bercerita banyak hal tentang 3 tahun selama keduanya terpisah.


Di apartemen Britney dan Daniel keduanya baru bisa bersantai saat Liam sudah tertidur, Britney menemani Daniel menonton televisi sambil ngemil dan minum ice kopi.


"By apa aku meminta bantuan kak Nick saja ya? Aku takut Kak El tidak bisa sendirian menolong Joanna,"


"Bingung juga karena group Limson kan tidak ada urusan dengan masalah yang menimpa Joanna, tapi nanti biar aku coba telepon Nick,"


"Asik terimakasih ya by," Britney memeluk Daniel.


"Jangan dilepas, aku tidak mau kau lepas dari pelukan ku!" pinta Daniel.


"Jadi kita menonton sambil berpelukan terus seperti ini by?"


"Iya memang kenapa? Aku suka dengan posisi seperti ini,"


"Jangan minta ya awas saja!"


"Iya engga sayang, besok aja ya!"


"Oke,"


"Bagaimana ujian mu sudah selesai kan?"


"Iya sudah tapi aku tidak yakin dengan hasilnya nanti, Liam membuatku lelah duluan sebelum belajar setiap harinya,"

__ADS_1


"Tapi aku suka anak kita rewel dan aktif nanti waktu akan cepat berlalu jika Liam sudah besar percaya lah kita pasti akan merindukan tangisan dan rewelnya anak itu!"


Daniel mengusap-usap rambut Britney.


"Kau benar by kadang aku marah keterlaluan pada anak kita,"


"Tidak apa sayang kau marah mungkin sedang capek sekali!"


Malam itu keduanya malah ketiduran di ruang televisi padahal film satu judul pun juga belum habis. Bila mengingat kebelakang bagaimana dulu Britney yang manja dan kekanak-kanakan bisa berubah menjadi sosok yang dewasa seperti sekarang.


Saat sedang nyenyak-nyenyaknya tidur di ruangan televisi sambil berpelukan satu sama lain, terasa seperti ada yang menindih perut Daniel dan Britney, merasa terusik Britney pun terbangun lalu melihat sosok Liam sudah berada ditengah-tengah keduanya.


"Loh ini anak momy turun dari atas ranjang sendiri?"


"My minyum," (Momy minum).


"Liam aus nak? Tunggu disini sama Dady ya momy buatkan su su dulu untuk Liam!"


"Iyah,"


Liam pun menurut dan mengusel-usel Daniel bahkan melingkarkan tangan mungilnya untuk memeluk Daniel, Britney hanya bisa mengulumm senyum melihat anaknya berprilaku yang mirip sekali dengannya.


Setelah melihat Liam anteng dengan Daniel yang masih tertidur lelap! Britney menuju dapur untuk membuatkan su su untuk Liam, padahal mata masih ngantuk tapi sebagai seorang ibu Britney akan langsung sigap bila anaknya meminta sesuatu.


Sudah selesai membuatkan su su Britney kembali ke ruangan televisi dan melihat Liam sedang memencet-mencet hidung Daniel sambil tertawa.


"Idung Dady kok dipencet gitu si Am? Nanti Dady engga bisa nafas dong jadinya?"


Dipegangnya hidung Daniel yang mancung lalu Liam juga memegang hidungnya sendiri untuk membandingkan mungkin, lebih mancung siapa antara hidungnya dengan hidung ayahnya.


Merasakan gatal diarea hidungnya Daniel pun terbangun dan mendapati anaknya sedang asik mengelus hidungnya hingga membuatnya merasa gatal.


"Liam,"


"My, Dady angun," (Momy Dady bangun).


Britney yang baru saja meletakkan gelas yang berisi susuu hangat diatas meja seketika menoleh mendengar Liam bicara Daniel bangun.


"Anak Dady usil banget si, ini dari tadi ya ngorek-ngorek hidung Dady nih,"


Daniel menggelitik Liam hingga membuat anak itu tertawa terbahak-bahak.


"Kayanya anak itu pengen membandingkan by lebih mancung mana hidung mu dengan hidung dia!" Britney duduk disamping Daniel.

__ADS_1


"Cucu, cucu," (susuu, susuu).


"Ya udah sini bangun dulu nak masa udah besar minum sambil tiduran!" Britney meraih gelas berisi susuu tersebut untuk diberikan pada Liam.


Tapi Liam yang tidak mau minum digelas dan ingin minum di dot miliknya, menolak untuk meminum susuu tersebut.


"Nda, ukan yang ini omy," (bukan yang ini momy).


"Mau pakai dot kali dia sayang,"


"Kebiasaan by orang udah besar juga biarin aja biar ga kebiasaan, nih momy engga akan kasih Liam susuu kalau engga dari gelas ini ya!" Britney tegas menolak memberikan dot.


Lagi-lagi Liam akan rewel perkara minum ingin dibotol dot tidak mau digelas. Namun Britney cuek saja membiarkan anak itu menangis malam-malam begini, sementara Daniel menggendongnya agar Liam bisa berhenti menangis.


"Suttt SUTT sutt, nanti kalau Liam nangis terus diambil nenek sihir loh! Tuh lihat ada nenek sihir!" Daniel berusaha mengalihkan perhatian Liam agar tidak lagi menangis.


"Cucu! Cucu!" (Susuu! Susuu)


"Udah by turunin aja nanti juga dia diem sendiri kalau cape,"


"Udah dong nangisnya nak ini udah malem, minum digelas aja ya nak ya,"


Tapi lagi lagi Liam menolak dan kekeh menangis terus mau tidak mau Britney dan Daniel membiarkannya untuk menangis terus daripada Liam tidak bisa lepas dari botol dotnya. Memang tidak tega si melihatnya nangis terus, tapi Britney dan Daniel sepakat untuk sedikit-sedikit mengajarkan hal-hal yang kedepannya akan lebih baik untuk Liam sendiri.


Setelah cape sendiri menangis terus menerus akhirnya Liam tidur lagi.


"Haduh orang-orang tanya kapan kasih Ade untuk Liam, aku ga dulu deh ya ampun satu aja kaya gini by!"


"Ya sayang senyaman mu saja mau punya anak satu oke mau program hamil lagi juga aku oke,"


"Aku masih belum mau deh by punya anak lagi, kecuali kalau Liam sudah masuk sekolah dasar,"


Setelah ngobrol sebentar keduanya pun tertidur di ruang televisi dengan Liam ditengah-tengah mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi dan kini di vila mewah milik Jazz, Sierra sudah nyaman berada di dunia mimpinya hanya tinggal Joanna dan Elrald yang masih sama-sama terjaga hingga semua hal sudah keduanya bicarakan.


Elrald bercerita bisnisnya yang sudah mulai laris di pasaran dan sekarang pembangunan pabrik kedua sedang dilakukan untuk memenuhi target penjualan. Sedangkan Joanna hanya bercerita sedikit tentang sebab dia bisa menikah dengan jazz.


Diawal pernikahan Joanna hanya mengira Jazz menikahinya karena orangtuanya tidak mampu membayar hutang padanya, barulah tadi dia tau kalau ternyata Jazz menunggu orangtua Joanna meninggal dan akan menguasai rumah serta asuransi jiwa milik kedua orangtuanya.


Tidak habis pikir kenapa di dunia ini ada laki-laki sejahat Jazz.


"Kau mau tidur sini di paha ku," Elrald menawarkan.

__ADS_1


"Tidak, aku lebih suka memandangi mu begini!"


Keduanya masih saling beradu pandang seolah mengobati rasa rindu satu sama lain karena selama 3 tahun ini keduanya tidak bisa saling tatap begini.


__ADS_2