Teman Tidur Paman Daniel

Teman Tidur Paman Daniel
Bab 69


__ADS_3

Britney pun lega orangtuanya itu sudah mengetahui dengan apa yang dialami oleh suaminya.


"Fel, Jo, antar aku ke ruangan Daniel!"


"Kau yakin sudah kuat berjalan?"


Britney mengangguk, dia sangat ingin berada didekat Daniel saat ini. Laki-laki terbaik sepanjang hidupnya, dan laki-laki yang sangat dia cintai.


Britney tiba di ruangan Daniel, disana ada Larisha dan Tuan Lan.


"Mom, dad!"


"Britney sayang!" Larisha langsung memeluk Britney sementara Tuan Lan mengusap-usap rambut putrinya.


Britney kembali menangis, tapi mengingat pesan Felicia dan Joanna membuat Britney menghentikan tangisannya! Daniel tidak boleh melihatnya dengan wajah kesedihan, Daniel harus melihat orang-orang disekelilingnya bahagia dan tegar.


"Sayang kau tenang saja, Dady sudah menemukan rumah sakit terbaik di dunia untuk pengobatan kangker,"


"Benarkah dad? Kapan kita akan membawa Daniel ke sana?"


"Benar rumah sakit di Kanada, dan Dokter Fred membantu kita mengurus segalanya di sana! Lusa kita semua akan membawa Daniel ke Kanada!"


"Terimakasih banyak dad, terimakasih!"


Joanna dan Felicia pun ikut bahagia karena jika Tuan Lan sudah turun tangan, masalah terasa sangat ringan.


"Dengarkan momy nak, jika nanti Daniel sadar jangan menangis! Kita harus tegar, dan menghiburnya,"


"Iya mom, tadi Feli dan Joanaa juga mengatakan hal itu,"


"Bagus, ini saatnya anak momy tunjukan kalau kau sudah layak sebagai seorang istri yang baik untuk suamimu, apalagi kau akan segera punya bayi nak!"


"Iya mom, Daniel pasti bahagia bila mendengar kabar ini!"


Malam harinya, Felicia dan Joanna pamit untuk pulang dulu! Begitu juga Tuan Lan dan Larisha karena usia mereka yang tak lagi muda, membuat keduanya gampang kelelahan.


Hanya tinggal Britney sendirian yang duduk disamping ranjang pasien, dan hingga malam begini Daniel belum juga sadarkan diri.


Britney pun ketiduran dengan kedua tangannya yang menggenggam erat satu tangan suaminya. Saat sedang tertidur Britney merasakan tangan yang mengusap-usap kepalanya, Britney pun terbangun dan melihat Daniel sedang menatapnya.


Wajah tampan itu tersenyum walaupun wajah itu kini pucat dan terlihat kurusan hingga tilang pipinya terlihat.


"Tahan Brit, jangan menangis kau harus kuat!"


Britney terus menguatkan dirinya, menarik nafas terlebih dahulu dan setelah bisa menahan air mata itu agar tidak jatuh dihadapan Daniel, barulah Britney tersenyum.


"Hei, ku sudah bangun?"


"Maaf aku membuatmu harus tertidur di rumah sakit!"


"Aku suka tidur di rumah sakit, lagipula bosan tidur di kamar kita terus!" Britney tersenyum.

__ADS_1


"Britney, apa kau?"


Deg..


Hati Britney kembali sesak, rasanya kedua kelopak matanya saat ini tidak mampu diajak kompromi saat melihat sorot mata Daniel yang penuh kesedihan, tapi lagi-lagi Britney sekuat tenaga menahan agar tak menangis dia terus mengatur nafas agar dadaanya tidak sesak.


"Iya aku dan semuanya sudah tau! Momy dan Dady mu pun sedang dalam perjalanan pulang kesini!"


Britney berhasil mengontrol hatinya, sehingga kedua matanya tidak mengeluarkan air mata.


"Aku sangat tidak berguna sebagai seorang suami karena hanya bisa terbaring lemah seperti ini!"


Plak..


Britney memukul perut Daniel namun pelan.


"Hei, kau bukan hanya sebagai seorang suami sekarang! Tapi juga kau seorang ayah!"


"Apa? Seorang ayah?"


"Aku hamil sayang,"


"Benarkah?" Daniel langsung memeluk Britney.


Tak terasa air mata pun menangis, namun Britney menangis tanpa bersuara dipeluknya tubuh suaminya itu dikecuppnya pundak Daniel lalu Britney membenamkan wajahnya pada ceruk leher Daniel.


"Sayang, aku bahagia sekali! Britney kita akan punya bayi!" Daniel sangat bahagia bahkan saking bahagianya dia tidak lagi terlalu merasakan sakit dikepalanya.


"Iya by, kau akan jadi seorang ayah dan kita akan besarkan anak kita bersama-sama! Kau mau kan melawan penyakit sialann ini bersamaku?"


Britney melepaskan pelukan Daniel lalu duduk dibibir ranjang pasien.


"Aku pasti sembuh, karena aku akan hidup sangat lama! Aku tidak memiliki alasan untuk hidup sebentar, karena aku memiliki mu di dunia ini dan juga aku akan memiliki Daniel junior sebentar lagi!"


Wajah Daniel sangat sumringah meskipun wajah sumringah itu tidak menutupi wajah pucatnya saat ini.


"Oh ya by, Dady bilang lusa akan memindahkan mu ke salah satu rumah sakit di Kanada! Itu saran dari Dokter Fred, karena rumah sakit di Kanada itu memiliki fasilitas paling lengkap di dunia dan rumah sakit terbaik di dunia untuk penderita kanker!"


"Apapun dan dimana pun itu aku mau sayang, karena aku ingin sembuh! Maaf aku selama ini merahasiakan semuanya darimu, sampai kau salah paham,"


"Tidak apa-apa, aku yang salah karena terlalu cepat mengambil kesimpulan!"


"Aduh sakit sayang!" Daniel memegangi pipinya.


"Apa yang sakit by?"


"Ini sepertinya bekas tamparan tadi sakit, aduh bagaimana ya agar bisa sembuh?" goda Daniel.


"Hmm, mulai ya?" Britney tau mengarah kemana candaan suaminya itu.


"Sakit Brit, butuh disembuhkan!"

__ADS_1


Britney pun segera mencium pipi Daniel dengan sangat lama.


"Bagaimana apa sudah tidak sakit?"


Daniel mengangguk dan tersenyum, lalu Britney mengambil sup labu untuk Daniel makan malam, ada juga ikan salmon dan banana cake menu dari rumah sakit yang disediakan.


"Makan dulu ya by!"


"Aku tidak lapar sayang!"


"Sedikit aja!"


"Engga!"


"Aku kiss mau?"


"Mau,"


"Habis itu tapi makan supnya ya?"


Daniel pun mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya dan langsung disambar oleh bibir Britney, dilum atnya bibir Daniel oleh Britney sementara kedua tangan Daniel memeluk pinggang Britney.


Britney dan Daniel berciuman untuk beberapa menit, saling melum at dan saling berbelit lidah hingga akhirnya Britney melepaskan ciumannya itu.


"Udah ya, makan dulu!"


"Nanggung sayang," Daniel melirik kearah bawahnya.


Plak..


Dipukulnya terong Belanda yang terlihat dari balik celana Daniel yang sudah menyembul akibat diberikan sinyal oleh si empunya.


"Aw sakit Brit kok dipukul si bukannya di,"


"Apa?"


"Emutt," goda Daniel.


"By jangan mulai deh ini rumah sakit tau!"


"Iya becanda sayang,"


"Ya udah ini makan, aaaa," titah Britney dan Daniel pun membuka mulutnya.


Selesai menyuapi Daniel, Britney pun tidur diranjang pasien, saling memeluk dan berbagi selimut. Sebenarnya dibalik ketenangan Britney, hatinya sangat sesak dan penuh ketakutan.


Britney tau kangker otak itu bukan penyakit enteng, dan ketakutan itu sampai ditahap Britney membayangkan ketika Daniel harus meninggalkan dunia ini, membuat Britney tidak bisa memejamkan kedua matanya.


Tidak pernah sekalipun terpikirkan Tuhan akan membuatnya dalam situasi seperti saat ini. Dilihatnya handphone terbaru yang dibelikan oleh Daniel, dirabanya perut yang sekarang sudah ada benih didalamnya ternyata semua kebahagiaan itu tidak ada artinya bila melihat orang yang paling kita cintai harus menderita sakit seperti ini.


Dalam sekejap Tuhan seperti mengambil seluruh kebahagiaan dalam hidup Britney dan menggantikannya dengan kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


__ADS_2