
Malam harinya Elrald yang baru saja tiba di apartemen setelah dia menghandle beberapa pekerjaan di kantor, dibukanya pintu apartemen yang tidak dikunci itu.
Ada yang berbeda dengan apartemen itu, terlihat kosong tanpa penghuni padahal ada Sierra yang tinggal disini juga.
"Kemana Sierra?"
Elrald mencari-cari Sierra disetiap ruangan di apartemen itu namun tidak dia temukan, saat melihat ranjang diatasnya terdapat sepucuk surat, Elrald pun mengambil surat itu dan membacanya perlahan.
(Terimakasih, aku tidak mau merepotkan hidup mu lagi! Aku akan pergi jauh dan memulai semuanya dari nol bersama buah cinta kita)
"Buah cinta kita? Apa Sierra hamil akibat perbuatan ku?" Elrald langsung duduk dibibir ranjang dan menjatuhkan selembar surat itu setelah membacanya.
"Sierra dimana kau?"
Elrald buru-buru keluar dari apartemennya untuk mencari Sierra, dia tidak bisa hidup seperti pengecut yang setelah menghamili seorang wanita lantas dia tidak bertanggungjawab atas perbuatannya itu. Elrald akan menikahi Sierra, walau bagaimanapun anak yang dikandung oleh Sierra adalah anaknya juga.
Ke sana kemari El mencari Sierra, bahkan ke bandara namun tak juga dia temukan keberadaan Sierra, nomor teleponnya pun tidak lagi aktive.
"Astaga Sierra apa kau sudah gila? Kenapa kau pergi?"
"Kemana kau Sierra? Sierra? Anak itu membutuhkan aku sebagai ayahnya!" Elrald kesal atas keputusan Sierra yang pergi tanpa berpikir perasaannya ketika tau bahwa Sierra hamil hasil perbuatannya.
Hingga pukul 02.00 pagi Elrald mencari Sierra disepanjang jalanan namun usahanya nihil sepertinya Sierra memang sudah pergi jauh dari hidup Elrald dengan membawa sebagian dari Elrald.
Disaat harus fokus dengan perusahaan karena Daniel membutuhkannya saat ini, Sierra justru membebani Elrald dengan perasan bersalah seperti saat ini.
"Sierra kau tidak perlu pergi, aku mencintaimu Sierra! Aku ingin kau disini!" Elrald meremat kepalanya.
Keesokan harinya Tuan Lan dan Larisha kembali ke rumah sakit dan membawakan baju ganti untuk Britney, juga peralatan untuk mandi.
"Pagi Niel," sapa Tuan Lan dan Larisha yang diiringi oleh senyuman seolah-olah mereka baik-baik saja.
"Pagi dad, mom, maaf merepotkan!"
"Jangan bicara begitu, kau kan anak kami juga!"
"Iya Niel, semangat ya jangan dipikirkan apapun lagi dan fokus untuk kesembuhan,"
"Baik mom,"
"Brit kau mandi lah dulu,"
"Nanti dulu, biar aku bersihkan tubuh suamiku dulu mom!"
__ADS_1
"Memang bisa?"
"Bisa lah, aku akan basahi handuk kecil ini dulu momy dan Dady tunggu diluar dulu ya!" Britney menuntun kedua orangtuanya untuk keluar dari dalam ruangan itu.
Setelah hanya berdua dengan Daniel, Britney pun melepaskan pakaian Daniel terlebih dahulu dan mengelapnya dengan lemah lembut dengan handuk basah.
"Geli Brit,"
"Ini kan lagi dilap masa geli by,"
"Sekalian semua dilap juga?"
"Iya, celananya juga aku akan buka!" Britney mengedipkan matanya.
Sedangkan Daniel hanya bisa pasrah saja istrinya itu melepaskan seluruh pakaian dan celananya dan mengelapnya dengan handuk basah.
"Telaten ya dibagian yang itu?"
"Ish," Britney mengelap terong Belanda milik Daniel meskipun sedang sakit tapi tetap kebersihan harus dijaga.
Tak lupa Britney pun mengambil air diwadah untuk Daniel menyikat gigi, kesehatan mulut juga sangat penting dan Britney telaten mengurusi Daniel setelah selesai membersihkan semuanya, Britney kembali memakaikan pakaian pada Daniel.
"Aku akan mandi dulu ya by, nanti habis itu kita sarapan bersama!"
Britney, Daniel, Tuan Lan dan Larisha sarapan bersama dan Daniel merasa terharu karena istri dan mertuanya bisa menemani disini hingga Daniel lupa kalau dia sedang bergelut melawan penyakit itu.
Hanya canda dan tawa yang dilakukan Daniel saat Britney dan mertuanya itu menemaninya di rumah sakit.
"Niel, Dady tinggal dulu ya mau urus administrasi dan kesiapan private jet untuk membawamu besok ke Kanada!"
"Iya Dad, maafkan Daniel dad,"
"Hei sudah, untuk apa minta maaf tuh lihat putri kami sangat bahagia saat didekat mu itu berarti justru kami yang harusnya selalu berterimakasih untuk itu,"
"Dad, besok peswatnya pagi kan?"
"Ya sebaiknya begitu, lebih cepat sampai di Kanada kan lebih baik, Dokter Fred juga sudah bilang kamar untuk Daniel di rumah sakit sudah siap,"
"Apa Paman Fred yang menangani hubby Dad?"
"Tidak Brit, dia hanya membantu mengurus administrasi disana agar Daniel cepat mendapatkan kamar tanpa menunggu,"
"Baiklah dad,"
__ADS_1
Tuan Lan pun mengurus pembayaran biaya perawatan Daniel di rumah sakit ini, bukannya tidak percaya dengan rumah sakit ini tapi Tuan Lan hanya ingin Daniel mendapatkan rumah sakit terbaik agar peluang sembuh itu lebih besar.
Sore harinya Tuan Damian dan Angeline tiba di rumah sakit, mereka berdua berjalan terburu-buru menuju ruang perawatan Daniel, Angeline terus menangis setelah mendapatkan kabar bahwa putranya itu divonis kangker.
"Daniel anakku!"
Angeline langsung masuk kedalam ruangan Daniel dan memeluk Daniel sambil menangis, disusul oleh Damian yang tak kalah sedih melihat kondisi putranya.
"Mom, dad, jangan menangis aku tidak apa-apa kok!"
"Risha, maaf aku terlalu shock sekali mendengar Daniel sakit begini,"
"Aku mengerti Angie, tapi kita tidak boleh semakin membuat Daniel kepikiran, tegar lah!"
"Iya kau benar Risha, Britney kau harus kuat ya nak temani Daniel terus sampai dua sembuh jangan tinggalkan dia!" Angeline memeluk Britney.
"Iya mom, aku akan selalu berada disamping Daniel, aku mencintainya!"
"Apa Lan sudah mengurus kepindahan Daniel ke rumah sakit di Kanada?"
"Sudah, bahkan private jet sudah siap, besok pagi kita semua berangkat!"
"Baiklah kami lega, terimakasih Risha kau dan Lan begitu cepat mengambil keputusan yang terbaik untuk Daniel," Damian mulai bisa tenang setelah mendengar Tuan Lan sudah mengurus semuanya.
"Sepertinya kalian harus memberikan selama dulu padaku dan istriku! mom, dad!"
"Niel, kau sakit parah begini kenapa juga kami harus memberikan selamat padamu dan Britney," kata Angeline.
"Tunggu! Jangan-jangan menantuku hamil, Britney kau hamil nak?" tanya Damian.
"Iya mom, dad, aku sedang hamil sekarang!"
Aaaaa....
Ekspresi kesedihan orangtua Daniel pun perlahan memudar dan berganti dengan kegembiraan, bahkan Angeline sampai menciumi perut rata Britney, sudah lama mereka menginginkan kehadiran cucu dan Britney mewujudkan itu.
Ya, Britney memang masih patut untuk bersyukur ditengah musibah besar ini, calon bayi mereka hadir dikirimkan Tuhan untuk setidaknya sebagai penyemangat bagi Daniel dan keluarga untuk bisa melewati cobaan ini.
Sore harinya Joanna yang sudah membeli buah-buahan memutuskan untuk mengunjungi Daniel dan Britney tapi sayang Felicia tidak bisa ikut karena dia ada acara keluarga.
Joanna pun sampai dihalaman rumah sakit dan secara tidak sengaja berpapasan dengan Elrald.
"Eh kak El," Joanna yang terlihat kerepotan karena membawa dua kantong sekaligus yang berisi buah-buahan dan juga makanan untuk Britney masih sempat menyapa Elrald.
__ADS_1