
Hingga masuk kedalam kamar masa kecil Britney sebelum dia menikah dengan Daniel, sepanjang jalan Daniel membekap mulut istrinya itu, padahal Britney terus memukul-mukul dada suaminya.
Hahh....
Barulah ketika sampai didalam kamar, Daniel melepaskan tangannya yang membekap mulut Britney.
"By kenapa aku dibekap?"
"Brit, jangan bicara masalah itu pada Dady aku malu sayang,"
"Hah malu? Memangnya kenapa harus malu, orang Dady juga suka minta jatah tiap hari kok ke momy,"
"Kata siapa itu Brit?"
"Kata Dady lah, santai saja tidak usah malu kalian sama-sama perkasa kok!" Britney tersenyum lebar.
Sementara Daniel hanya bisa mengusap dadanya menghadapi tingkah istrinya yang asal bicara.
"Yasudah sekarang kau tidur ya, aku mau ngobrol dulu dengan Dady,"
"Iya deh, malam sayang!" Britney mendaratkan ciuman dibibir Daniel.
Setelah berhasil mengamankan istrinya, Daniel kembali ke ruangan Tuan Lan di sana sudah ada Larisha ternyata dan anehnya tatapan Dady Lan dan Larisha seolah memperhatikan Daniel dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
"Ini pasti karena omongan Britney tadi, astaga aku malu sekali," Gumam Daniel.
"Niel, Britney sudah tidur ya?" sapa Larisha.
"Iya mom sepertinya sudah mau tidur,"
"Yasudah besok saja momy bertemu dengan anak itu!"
"Loh momy ngapain masih disini?" Tuan Lan melirik bingung istrinya.
"Hanya ingin tau saja obrolan lelaki," padahal Larisha baru saja diceritakan oleh Tuan Lan bahwa Daniel selalu meminta jatah tiap hari pada Britney, dan sekarang Tuan Lan mau kepo dengan ramuan Daniel.
"Sudah sana my, Dady mau ngobrol masalah bisnis dengan Niel!" usir Tuan Lan.
Membuat Larisha mau tidak mau akhirnya keluar meninggalkan ruangan kerja suaminya, tidak jadi dia menguping.
"Ngomong-ngomong apa kau memakai ramuan khusus Niel?"
__ADS_1
"Maksudnya ramuan khusus untuk bisnis begitu dad?"
"Eh bukan Niel, loh kok jadi ramuan khusus untuk bisnis buat gaspol tiap hari itu loh!!!"
"Gaspol tiap hari?" Daniel seperti bingung.
"Itu loh yang dikatakan oleh Britney kau minta jatah tiap hari,"
Kedua bola mata Daniel kembali melotot mendengar pertanyaan mertuanya itu.
"Ti-tidak ada kok, hanya mengalir begitu saja," dengan malu-malu.
"Wah tidak pakai obat tapi sekuat itu, kau luar biasa ternyata Niel,"
Hahaha...
Tuan Lan tertawa setelah memuji kemampuan menantunya itu.
"Jadi, kalian berencana untuk tidak pakai KB lagi dan membiarkan Britney hamil?"
"Iya Dad kami sudah sepakat dan ingin secepatnya Brit hamil,"
Obrolan itu berlanjut hingga ke masalah bisnis, pasalnya Tuan Lan ingin mengetahui pendapat Daniel karena Limson group ingin melebarkan sayap bukan hanya sebuah perusahaan iklan saja, melainkan ingin membuka bisnis klinik kecantikan, siapa tau Daniel berminat untuk ikut berkecimpung kan bisa sekalian mendistribusikan prodak kosmetik dia di klinik kecantikan yang akan dibangun oleh Tuan Lan dibeberapa pusat kota di negara ini.
Saking asiknya ngobrol dengan Daniel, Tuan Lan sampai ketiduran di ruangan kerjanya ketika terbangun matahari sudah menghadirkan sinarnya.
Di meja makan, Larisha sedang menyiapkan sarapan, datanglah Tuan Lan yang masih menguap karena masih ngantuk.
"Dad cuci muka dulu sana, malah mau langsung sarapan!"
"Bentar mom, Dady masih ngantuk! Dimana Daniel dan Britney?"
"Belum turun,"
Tak lama kemudian, Britney dan Daniel turun bersamaan.
"Morning mom, dad!"
"Kau sudah rapi, mau kemana pagi-pagi begini?"
"Mau hangout lah sama temen-temen,"
__ADS_1
"Daniel ikut?"
"Engga mom, aku akan pergi ke pabrik mau lihat produksi BB cream untuk persiapan launching!" Daniel langsung menjelaskan.
"Yasudah kalian sarapan saja dulu!"
Britney yang sudah terbiasa melayani suaminya, segera mengambilkan sarapan untuk Daniel sebuah pemandangan langka yang tidak pernah disangka oleh Tuan Lan dan Larisha, pasalnya anak itu sebelum menikah mengambil sarapan untuk sendiri saja dia tidak mau kalau Larisha tidak mengambilkannya Britney tidak akan mau sarapan.
"Niel kau sukses mendidik istrimu!"
"Iya momy salut Niel, kau itu lemah lembut dan tidak pernah marah tapi bisa membuat Britney lebih bersikap dewasa, tidak seperti kami saat dulu mendidiknya sampai urat dileher kami keluar anak ini malah semakin melawan!"
"Untung saja aku dinikahi oleh hubby ku yang tampan dan penyabar ini, jadi tidak perlu sakit lagi telingaku mendengar ocehan momy dan Dady!"
"Kami marah juga karena kau sulit diatur!" kata Tuan Lan.
"Ah sudahlah, by aku berangkat sekarang ya ini Joana udah kirim pesan udah didepan rumah katanya!"
"Loh Brit, engga sarapan dulu?" tanya Larisha.
"Nanti saja mom,"
"Ya sudah, jangan lupa kabari ya kalau sudah sampai!"
"Oke sayang,"
Britney langsung mencengkram kedua tulang pipi Daniel dan mendaratkan ciuman dibibir Daniel, hingga cukup lama Daniel berada dalam kungkungan Britney, membuat Tuan Lan dan Larisha geleng-geleng kepal pagi-pagi begini sudah melihat keromantisan anak dan menantunya.
"Dah semuanya!" Britney pergi setelah meninggalkan bekas saliva dibibir Daniel.
Kini dimeja makan Daniel merasa tatapan kedua mertuanya mengarah padanya.
"Ekhem, kau juga sukses mengajari anak kami untuk bisa seperti tadi Niel!" goda Tuan Lan.
"Tadi itu alami kok Dad, bukan aku yang mengajari!"
"Masa si alami?" goda Larisha.
"Britney apa-apaan ini, kenapa dia tidak menciumku tadi saja saat masih dikamar kenapa saat dimeja makan dan menjadi bahan ledekan mertuaku sekarang." Dalam hati Daniel
__ADS_1