Teman Tidur Paman Daniel

Teman Tidur Paman Daniel
Bab 77


__ADS_3

Setelah Elrald pergi berlalu dan masuk kedalam kamarnya, Joanna langsung membanting pintu dengan keras karena kesal juga laki-laki yang kita sukai ternyata milik orang lain, mau merelakan juga ternyata tidak semudah itu.


Sore harinya ketiga unit mobil baru datang ke kediaman Daniel, dan disambut oleh semuanya.


"Wah Brit jadi engga sabar deh kita kuliah pakai mobil ini keren banget,"


"Iya, terimakasih ya mom Brit suka sekali,"


"Iya sayang sama-sama, momy yang seharusnya terimakasih pada kalian karena sudah dengan tulus menjaga dan menyayangi Daniel,"


"By, kau mau jalan-jalan? Aku yang nyetir, boleh kan mom aku aja hubby jalan-jalan dekat sini?"


"Boleh dong, Daniel juga harus happy terus kan,"


"Baiklah aku mau sayang," kata Daniel.


"El, kau juga ajak Joanna pergi ya tolong, kasihan dia di rumah terus,"


"Engga usah Bi, aku bisa jalan-jalan sendiri!" Joanna segera pergi kedalam rumah.


"Eh anak itu aneh sekali," gumam Angeline.


Sementara Elrald merasa Joanna memang bersikap cuek dengannya. Britney dan Daniel memutuskan untuk jalan-jalan menggunakan mobil baru disekitaran jalan raya sini, lalu menepi disalah satu taman dipusat kota yang ramai anak-anak bermain bersama keluarganya.


"Kita bersantai di taman itu ya by?"


"Boleh, banyak anak-anak juga kelihatannya,"


"Iya, ayo turun!"


Britney menggandeng Daniel berjalan bersama masuk kedalam taman lalu duduk direrumputan sambil mendengarkan musik biola yang sedang dimainkan oleh seorang laki-laki seniman jalanan didekat situ.


"Kau suka musik biola?"


"Tidak juga, aku lebih suka piano,"


"Kalau begitu aku akan mengambil les piano agar bisa memainkan alat musik itu untuk mu!"


"Tidak usah by, cukup kau disamping ku aku sudah merasa sangat bahagia dan beruntung,"


"Tapi aku ingin melakukan semua hal yang kau suka selagi aku masih hidup,"


"By kau ini apa-apaan si, kenapa bicara begitu aku tidak mau dengar!" Britney merajuk karena Daniel terus membahas yang mengarah soal hidupnya yang tidak akan lama lagi.


"Sayang aku minta maaf, aku hanya ingin kau menerima kenyataan jika suatu hari nanti aku tidak.lagi disamping mu!"


"Cukup by, aku tidak mau dengar!" Britney menutup kedua telinganya sambil memalingkan wajahnya karena tak terasa air mata itu kembali menetes.


Daniel pun memeluk Britney, alunan melow musik biola seolah mengerti kegundahan hati kedua insan yang sama-sama takut akan sebuah perpisahan, mereka yang tak ingin berpisah namun takdir Tuhan yang menentukan segalanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Britney," Daniel mengecupp bibir Britney.


Britney menatap lekat wajah Daniel, tapi tiba-tiba darah keluar dari hidung suaminya itu.


"By kau berdarah!" Britney membuka tasnya dan mencari-cari tisu dengan panik.


Daniel pun meraba area sekitar hidungnya yang ternyata benar keluar darah. Setelah mendapatkan tisu dari dalam tasnya, Britney segera membersihkan darah yang keluar dari hidung Daniel dengan menahan pilu dihatinya.


Rasanya seperti diris-iris oleh sebuah belati tajam yang menyayat hatinya, sakit sekali melihat kondisi Daniel yang terus mengalami penurunan ingin rasanya teriak dan menangis sekencang-kencangnya tapi Britney tidak bisa


"Jangan khawatir, Dokter bilang memang efek sampingnya seperti ini mual dan pendarahan," Daniel menenangkan Britney karena melihat kedua matanya penuh kepanikan.


Setelah membersihkan darah diarea hidung Daniel, Britney bersandar pada pundak suaminya sambil menggenggam erat tangan Daniel.


Sementara di rumah, Joanna masih betah didalam kamarnya padahal cuaca diluar sore ini cerah dan menyenangkan untuk berjalan-jalan diluar, Elrald yang diminta oleh Angeline untuk mengajak jalan-jalan Joanna akhirnya mengetuk pintu kamar gadis itu.


Tok.


Tok.


Tok.


Klek,, pintu dibuka.


"Ada apa kak?"


"Tidak mau,"


"Kenapa?"


"Tidak mau saja, tidak perlu alasan untuk sebuah penolakan," dengan ketus.


"Kau menghindari ku?"


"Tidak, jangan terlalu percaya diri deh,"


"Sikapmu mendadak ketus juga,"


"Perasaan kakak saja itu!"


"Ayo ikut," Elrald meraih tangan Joanna.


"Ih kok maen tarik-tarik aja si kak,"


"Daripada aku gendong,"


Keduanya naik mobil dan mobil melaju meninggalkan rumah.


"Kita mau kemana si?"

__ADS_1


"Engga jauh kok, sebentar lagi juga sampai ditempat!"


"Pemaksaan," celetuk Joanna.


Disaat Joanna sedang bersusah payah meredam perasaannya terhadap Elrald tapi kenapa Elrald justru malah seolah memberikan harapan palsu untuk Joanna, membuat Joanna tidak nyaman berada didekat Elrald apalagi jalan-jalan berdua begini.


Keduanya tiba di sebuah jembatan gantung, disini sangat terkenal akan jembatan gantung terpanjang di negara ini dan biasa wisatawan akan banyak yang berkunjung ke jembatan gantung sini untuk sekedar merasakan sensasi berjalan diatas ketinggian dan merasakan adrenalin sekaligus uji nyali.


Sementara Joanna sangat takut akan ketinggian, kedua matanya terbelalak melihat jembatan gantung yang kini berada dihadapannya!


"Aku mau pulang!"


"Udah kesini masa pulang, kita jalan diatas jembatannya tuh seperti anak-anak kecil itu mereka pemberani,"


"Sial, aku takut banget," gumam Joanna.


"Kau takut? Tidak berani seperti anak-anak kecil itu?" Elrald menunjuk beberapa anak kecil yang berani berjalan di jembatan gantung itu.


"Siapa yang takut? Tentu saja aku berani, bahkan aku ini mantan anak pecinta alam saat SMA ketinggian begini si biasa, biasannya aku menuruni jalanan curam tanpa pengaman malah!" Joanna menyombongkan diri karena gengsi jika dianggap payah dibandingkan anak-anak kecil yang berani itu.


"Yasudah tunggu apa lagi, kita naik ke sana!"


"Mampus deh!" Gumam Joanna yang kaki dan tangannya sudah gemetaran.


Elrald berada dibelakang Joanna sementara Joanna mulai melangkah memasuki jembatan layang yang super panjang dan terlihat bergoyang-goyang itu.


Tubuhnya berkeringat dingin namun kakinya mulai melangkah naik keatas jembatan layang yang semakin dipijak terasa semakin bergoyang-goyang, sedangkan Elrald begitu tenang dan menikmati berjalan diatas jembatan layang terpanjang di negara ini.


Tanpa terasa Joanna berhasil berjalan cukup jauh di jembatan layang itu tanpa melihat kebawah sekalipun, namun rasa penasarannya akan ketinggian tempat dia berada saat ini membuat Joanna akhirnya melirik kebawah.


Aaaaaaaa.....


"Aku engga mau mati!" Langsung berbalik dan menutup kedua matanya.


"Kau kenapa? Kalau takut jangan lihat bawah!"


"Ayo turun kak, turun!" teriak Joanna.


Anak-anak kecil yang melihat ketakutan Joanna justru mentertawakan dan iseng semakin membuat jembatan itu bergoyang-goyang dengan melompat kearah kanan dan kiri mereka.


"Tolong!!!!! Tuhan! Tolong!" Joanna berteriak histeris dan tanpa disadari dia langsung memeluk Elrald yang berada dihadapannya karena hampir terjatuh akibat jembatan layang itu semakin bergoyang.


Dipeluknya tubuh Elrald dengan erat sementara Elrald hanya bisa menelan salivanya merasakan kedua benda kenyal itu bersarang didadanya saat ini.


♥️♥️♥️


Kenalan dong sama sahabatnya Britney yang satu ini, siapa lagi kalau bukan Joanna.😊


__ADS_1


__ADS_2