
Nyamannya Ia,
Menghanyutkan jiwa raga...
Kedamaian, kehangatan dan cinta penuh terasa...
Menghapus semua yang buruk..
Tangis, Canda, serta tawa semua lengkap disana.
Hanya Dia yang mampu...
Hanya Dia tempat kembaliku... rumahku..
DK, 25 NOV 2020
š·š·
Kilas Balik.
Seorang gadis kecil kira kira umur 6th sedang tersedu dalam tangisnya, air matanya jatuh tak tertahankan. Berulang kali ia menyeka butiran bening itu dari sudut maniknya. Namun usahanya sia-sia, air bening itu tak bisa dibendung dari tangisnya
Didalam sebuah kamar bernuansa serba pink, hasil karya sang mama yang merupakan seorang sosialita dan istri pengusaha terkenal.
Riana ingin mengubah sifat sang anak agar lebih feminim, karena sifat yang dimiliki anak satu satunya tersebut Riana sengaja mendekorasi kamar anaknya dengan nuansa serba girly.
Oceana Saphira, gadis kecil tersebut memang terlihat tomboy daripada gadis kecil pada umumnya. Berkat didikan keras dari sang papa, gadis kecil tersebut menjelma menjadi sosok yang tak mudah ditindas.
Terbukti hari ini Riana dipanggil ke sekolah putrinya karena sang putri kesayangannya memukul salah satu siswa laki laki disekolahnya.
Oleh karena itu, ia sengaja menghukum Oca, panggilan akrab sang putri untuk tak keluar kamar sebelum ia merenungkan kesalahannya.
Dari arah luar jendela kamarnya, sayup sayup Oca mendengar suara seseorang memanggilnya dengan sebuah kode rahasia.
"Apakah Bara ?" gumamnya ditengah Isak tangisnya.
Lalu gadis kecil tersebut menyeret sebuah kursi belajar yang berada di dekat tempat tidur miliknya kemudian ia menggeser kearah jendela kamar Oca.
Karena badan kecilnya, ia tak mampu menengok ke arah luar jendela yang tingginya melebihi tinggi badan Oca.
Gadis kecil tersebut menaiki kursi tersebut dan menyingkap tirai jendela dikamarnya.
Ia melihat seorang anak lelaki sedang menengok ke atas yakni kearah kamarnya.
Namun rasa penasaran musnah ketika ia melihat bukan Bara sang sahabat yang datang mengunjungi dirinya. Melainkan kakak laki laki Bara.
"Apa yang kau lakukan disitu ?" sapa anak kecil tersebut pada Oca kecil.
__ADS_1
"Kau bukan temanku, jadi aku tak tertarik bermain denganmu !" sahut gadis yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap tersebut.
"Adikku tak bisa mengunjungimu, ia memintaku menemuimu untuk menyampaikannya !" jelas anak lelaki yang tersenyum manis pada Oca tersebut.
"Apa Bara punya game PS baru ?" dengan malu malu Oca membuka percakapan dengan kakak laki laki sahabatnya tersebut.
"Ada, plant VS Zombie atau Mario bross !" sahut anak lelaki tersebut yang bernama Prabasonta tersebut.
"Dia pikir aku bayi ? menawariku permainan bayi," keluh Oca dalam hati.
"Aku tak tertarik padamu, pulanglah !" sahut Oca singkat.
"Atau kau ingin bermain sepeda bersamaku ? aku akan mengajarimu naik sepeda !" bujuk Anak lelaki itu tak kenal menyerah.
"Benarkah ?" mata Oca berbinar binar. pasalnya selama ini mamanya sangat protektif terhadapnya. Jangankan naik sepeda, pergi keluar sendiri saja tak diperbolehkan.
Gadis kecil tersebut kini menaiki jendela dari kursi yang sedari tadi ia injak. Ia ingin melompat keluar dari jendela dikamarnya.
Kegiatan kabur seperti ini sering ia lakukan bila ingin bermain bersama Bara.
Oca sudah mengambil ancang ancang untuk melompat dari jendela di kamarnya.
Namun kali ini sungguh berbeda, Biasanya Bara akan menunggu dirinya untuk kabur. Kali ini bukan hanya menunggu saja, anak laki laki itu menangkap Oca ketika ia menjatuhkan tubuhnya ke bawah jendela kamarnya.
"Lebih baik aku terluka daripada kamu yang terluka," sahut anak lelaki tersebut.
Setelah sama sama berdiri, Kedua anak kecil yang selisih usianya kurang lebih 4 tahun tersebut berjalan bersama kearah luar rumah melewati pintu rahasia yang dimiliki Oca dan Bara.
"Aku kakak Bara, Namaku Praba !" sapa anak lelaki itu dengan menjulurkan tangannya.
"Aku tahu kau kakak Bara yang cuek itu, Namaku Oca !' sahut gadis manis tersebut menyambut uluran tangannya sang teman barunya.
"Jangan bersedih lagi, suatu saat nanti aku akan menikahimu jadi berhentilah bersedih !" bujuk sang lelaki kecil tersebut.
"Menikah itu apa ?" tanya Oca singkat.
Setelah pertemuan tersebut, kini diantara keduanya terjalin suatu hubungan pertemanan. Apalagi jarak rumah mereka yang dekat. Karena mereka tinggal di satu kawasan.
Kilas balik selesai š
"Yank, kamu menyukainya ?" tanya sang Arjuna tanpa busur tersebut pada Oca yang pipinya sudah memerah.
Tak ada kata yang terucap dari mulutnya, wanita itu berjalan mendekati sang suami yang sudah menunggu dirinya. Ia ingin sekali membendung air matanya, namun tak kuasa.
Oca tak mampu berkata apa-apa, ia menghambur kedalam pelukan sang suami sahnya.
"Aku tahu, rumah ini memiliki kenangan banyak untukmu Dek," tutur sang suami dengan mengecup kepala sang istri yang masih berada di dalam pelukannya.
__ADS_1
Sedangkan Barapathi sendiri, pria itu tersenyum haru ketika melihat kedua teman masa kecilnya bahagia.
"Terimakasih Mas," kata Oca lirih.
"Ini semua juga berkat Papa Russel, dia yang membatu suamimu ini untuk mendapatkan rumah ini kembali,"
"Bukankah papa sudah menjualnya ketika kami pindah ? aku ke Sidney dan mereka pindah ke Kalimantan,"
"Papa tak benar benar menjualnya, dia menyuruh anak buahnya untuk menempati rumah ini karena ia akan teringat padamu bila masih tinggal disini," jelas Praba.
Setelah kepergian Oca yang mendadak karena ingin menghindari Praba, dengan terpaksa keluarga Anwar meninggalkan rumah tersebut dan menetap di tempat asal Russel Anwar.
Mama Oca sangat terpukul karena keinginan putrinya yang kuat untuk pindah ke Australi.
"Aku ingin menebus kesalahanku dulu yang sudah memisahkan kalian sayang," Pria itu makin mengeratkan pelukannya.
"Jadi kamu membeli rumah ini dari papa ?" tanya Oca, kali ini ia melepaskan tangan Praba dari tubuhnya.
"Pada awalnya, papa bersikeras ingin memberikan rumah ini pada kita, namun aku menolaknya dan membelinya karena ini tanggung jawabku untuk menyejahterakan kamu dan anak kita nantinya," tutur sang pengacara tersebut.
Oca menepuk dahinya, ia merasa Praba sangat kurang kerjaan. Untuk apa dia menghabiskan uangnya hanya untuk membeli rumah yang jelas jelas akan diberikan pada mereka.
"Mas, kamu menghabiskan uangmu untuk hal seperti ini ? Papa juga pasti tak akan tega membiarkan kedua anaknya menderita !" bujuk Oca.
"Daripada menghabiskan dana untik mencari rumah yang belum tentu cocok buat kita, lebih baik Mas beli rumah papa," jawab Praba.
"Iya, tapi kalau bisa gratis kenapa musti bayar yank ?"
"Anggap saja hadiah buat Papa dan Mama !" bujuk Praba kemudian.
"Heleh, percaya sih yang menantu idaman !" Goda sang istri. Oca kemudian mengamati isi rumah tempat ia dibesarkan dulu.
Rumah itu masih sama dan tak berubah, terbukti sebuah piano yang biasa mamanya gunakan untuk mengajarinya masih ada dan masih terlihat terawat.
Lampu lampu gantung berbahan kristal masih menghiasi langit langit rumah besar tersebut.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, setiap sudut jalan menuju kamarnya dulu telah tersusun rapi kotak kotak kecil berhiaskan pita cantik.
Praba menyuruh sang istri untuk segera membuka kotak kotak tersebut. kotak kotak tersebut berisi masing masing benda kesayangan milik sang wanita tersebut.
Wajah Oca makin bersemu merah, ketika ia membuka kotak ke 28 dan menemukan sebuah kalung indah. Dalam kalung tersebut tergantung sebuah leontin batu safir berwarna biru seindah warna lautan.
Sesuai nama sang wanita, Oceana adalah laut dan Saphira adalah batu safir. Kalung yang berleontin batu safir berwarna biru lautan tersebut makin indah ditambah dengan ekor sebuah ikan yang melambangkan kehidupan.
"Happy birthday my Sapphire !" tutur sang Arjuna mengulurkan tangannya untuk membantu memasangkan kalung di leher yang sering ia eksplor tersebut.
ššš
__ADS_1