Terjebak Masa Lalu

Terjebak Masa Lalu
Praba VS Gandhi 2.


__ADS_3

"Aku akan pergi duluan, nanti bara akan mengantarkan kamu !" Ucap seorang lelaki berpenampilan rapi disela sela pelukannya.


"Kenapa kita tak berangkat bersama ?" Protes sang Kekasih merasa kecewa lantaran Praba akan berangkat lebih awal.


"Masih ingin bermesraan dengan Mas ? nanti malam saja !" Godanya melihat reaksi protes dari sang wanita yang masih berada dalam dekapannya.


"Apa salahnya ?"


"Calon istriku tak pernah salah," Pada akhirnya mereka berangkat bersama dengan ditemani Bara juga. Dia memang sedang menerima sebuah misi tambahan dari kakak lelakinya tersebut.


"Kenapa aku harus mengantar kalian berdua ? kau pikir aku supir kalian ?" Bara menghembuskan napas kesal lantaran Praba memaksanya untuk memakai mobil Oca dan mengantarkan mereka berdua bersama sama.


"Aku akan membayar mahal untuk hal ini ?" Jawab sang kakak yang kini duduk di jok belakang bersama kekasihnya.


"Kalian enak sekali bisa berduaan disana !" Gerutu Bara kesal menatap kaca spion sesekali.


"Bilang saja kau iri !" Praba makin suka melihat sikap menyebalkan dari adik kandungnya. Ia bahkan tak segan membuat iri sang adik dengan tingkah Mesranya yang ia perbuat bersama Oca.


"Mas, kau seperti anak kecil saja !" Protes Oca merasa tak nyaman dengan sikap Praba. Ia menjauhkan wajah Praba yang sedari tadi tak berhenti mendekatinya.


"Kalian membuatku pusing, segeralah menikah sebelum keponakan aku tercipta !" Cibir sang adik yang merasa menjadi obat nyamuk saat ini.


Karena saling bersenda gurau, mereka bertiga tak menyangka bahwa ada sebuah mobil yang mengikuti mereka bertiga dari arah belakang. Mobil yang sangat Praba kenal, karena si pemilik mobil tersebut adalah musuh bebuyutan Praba.


"Mereka sudah berani melawan kak !" Celetuk Bara menambah kecepatan dalam mengendarai mobil kakaknya.


Pria di sebelah Oca tersebut kini sudah menunjukan muka memerahnya lantaran menahan emosi yang cukup dalam. Tangan kanannya pun ikut mengepal, sesekali ia melirik kearah spion juga.


"Mas, tenanglah !" Bujuk Sang kekasih yang berada disampingnya. Oca menggenggam tangan sang kekasih tercintanya untuk meredakan amarahnya.


"Dia minta apa, aku akan meladeni Bar !"


Mendengar Penuturan dari sang Abang, Bara kini mengikuti kemauan Praba. Ia sengaja mengurangi kecepatan mobil Praba agar Gandhi bisa mendekati mereka.


Tepat seperti yang mereka rencanakan, Mobil Gandhi menikung mobil yang membawa mereka bertiga. Mobil Gandhi tersebut kini memotong jalan yang akan dilalui mereka bertiga.


Seorang Pria membuka pintu mobilnya dan menatap kearah mobil yang mereka naiki. Pria tersebut menatap dengan tatapan sinisnya.


Tak bisa dipungkiri, Praba yang masih duduk disamping Oca juga tersulut emosinya. Ia sudah geram melihat wajah Gandhi di luar sana.


Tangan kanannya menyambar pintu mobilnya untuk membukanya.


"Mas, Jagan macam macam !" Oca memperingati kekasihnya agar tak mudah tersulut emosi menghadapi Gandhi.


"Aku akan baik baik saja, tunggulah disini kau aman bersama Bara ," Ucap sang kekasih sebelum keluar dari mobilnya. Kata kata Praba tadi penuh penekanan bahwa ia ingin menyelesaikan dendam diantara dirinya dan Gandhi tanpa ada campur tangan siapapun.


"Bar, bagaimana kalau mereka berkelahi ?" Cecar Oca merasa khawatir akan keselamatan Praba.


"Tenang saja kak, kakak tahu sendiri kan bagaimana watak Pria itu ?"


Oca memang sangat tahu bagaimana sifat Praba, ia tak akan pernah melepaskan apapun sebelum menyelesaikannya dengan tuntas.



Sebelum mendekati Gandhi, ia sempat menatap Bara dengan tatapan tajamnya, yang mengisyaratkan untuk tidak ikut campur pada urusannya kali ini. Juga tetap menjaga sang kekasih.


Mereka berdua, Praba dan Gandhi ini saling berhadapan satu sama lain. Dendam dalam hati masing masing membuat mereka saling menjatuhkan satu sama lain dalam hal pekerjaan.

__ADS_1


"Kau terlihat bahagia bersamanya," Tutur Gandhi membuka percakapan antara mereka berdua.


"Ku peringatkan jangan pernah kau menyentuhnya sedikitpun !" Geram Praba karena Gandhi membahas hubungannya dengan Oca.


"Aku tahu kelemahanmu ada padanya !" Ejek Gandhi sambil menujuk kearah mobil Praba.


"Jaga sikapmu !" Umpat Praba.


"Aku akan merebutnya darimu !" Tantang Gandhi tersenyum sinis kearah Praba. Ia sengaja membuat Praba tersulut emosi.


"Braaakkk.." Gandhi jatuh tersungkur ke tanah akibat pukulan Keras dari Praba.


Para pengawal Gandhi ingin segera menolong nya. Namun Gandhi memberikan isyarat tegas untuk menolaknya.


Gandhi berusaha bangkit dari jatuhnya dan ingin membalas pukulan Praba barusan.


Kini perdebatan keras diantara mereka berubah menjadi pertengkaran hebat.


Tak ada seorangpun yang berani memisah keduanya. Mereka hanya menonton saja pertunjukan live perkelahian antara kedua pengacara terkenal tersebut.


"Bar apa kau akan diam saja ? melihat mereka berkelahi ?" Tegur Oca merasa khawatir atas kekasihnya.


"Dia sudah memperingatkan kita untuk tidak ikut campur dalam perkelahian antara mereka Berdua." Sahut Bara mengingat tatapan tajam dari abangnya.


"Apa kau akan diam saja hingga kakakmu sekarat ?" Bentak Oca keluar dari mobilnya.


Ia sudah tak tahan melihat sang kekasih memukul dan dipukul.


Oca berjalan ke arah mereka berdua yang sedang berkelahi, meski para pengawal Gandhi saling menghentikan langkahnya.


"Hentikan !! apa kalian akan berkelahi hingga mati ?" Bentak Oca dengan suara paraunya. Suara paraunya karena menahan rasa sedihnya.


Oca memberontak kesal, meski dua orang pengawal sedang menghadangnya.


Pada akhirnya Oca memukul salah satu pengawal hingga tersungkur agar bisa berjalan mendekati kedua pria yang saling berkelahi satu sama lain.


Wajah Gandhi sudah babak belur setelah mendapatkan pukulan pukulan mematikan dari Praba. Tak berbeda jauh disudut bibir Praba pun sudah mengeluarkan darah setelah ia mendapatkan pukulan dari Gandhi.


Oca berlari mendekati mereka berdua yang saling pukul, Ia mendekat ke tengah tengah mereka. Dan itu membuat Praba sangat kesal karena Oca tak mendengarkan kata kata Praba.


Dan Praba pun hampir memukul wajah sang kekasih lantaran Oca menghalangi Praba memukul Gandhi.


"Menyingkirlah sayang !" Bentak Praba kesal.


Oca sangat mengkhawatirkan keadaan sang kekasih, ia kemudian memeluknya saat itu juga.


"Hentikan, kau akan menyakiti dirimu sendiri !" Tutur Oca meredakan emosi sang Arjuna.


Kedua tangan Praba yang ia pakai untuk memukul Gandhi tadi berubah menjadi memeluk sang Dewi pujaannya.


"Pria seperti itu tak pantas untukmu nona !!" Maki Gandhi di sebelah mereka berdua.


Mendengar Gandhi mengatakan hal tersebut, Oca kemudian melepaskan pelukannya dan menatap tajam kearah Gandhi.


"Lalu pria seperti apa yang pantas untukku ? Sepertimu ?" Oca bertanya dengan nada pelan.


Mereka berdua tak bersuara dengan pernyataan Oca barusan. Gandhi juga merasa bersalah telah membawa Oca pada keadaan ini.

__ADS_1


"Apa pria yang memanipulasi hasil pemeriksaan kesehatan pasienku layak bersanding dengan ku ?" Maki Oca kearah Gandhi.


Gandhi menatapnya dengan tatapan kaget,


"Tahu dari mana dia masalah ini ? apa pria brengs*k itu yang mengajarinya ?" Batin Gandhi merasa bersalah.


Gandhi merasa bersalah pada wanita itu, ia menatap kepergian Oca yang membawa Praba pergi dengan tatapan sedih.


"Kenapa kau harus bersama pria itu, kenapa aku harus telat bertemu dengan mu !" Umpat Gandhi kesal. Ia tampak kesal bercampur sedih melihat Oca begitu mengkhawatirkan Praba.


🌼🌼


"Aku kan sudah menyuruhmu menjaga kakakmu Bar ?" Selidik Praba.


"Jangan protes pada Bara, aku yang berinisiatif !" Protes Oca yang sedang memeriksa luka Praba di sudut bibirnya.


"Sayang, lain kali jangan ikut campur dengan masalah ku dengan Gandhi !" Bujuk Sang kekasih setelah melihat wajah kesal Oca. Pasalnya bila Oca kesal maka malam ini ia tak akan mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Sudah terluka begini masih saja protes ?" Bentak Oca dengan nada sedikit keras.


"Mas tak ingin kau terluka dalam perkelahian ini !!"


"Lukamu seperti ini Mas, nanti ikut aku ke UGD !"


"Aku tak apa apa honey, ini akan sembuh sendiri bila kau menciumku !" Rayu sang pengacara untuk mendapatkan hati sang Wanitanya.


"Aku akan mengobatinya Bar, kita kerumah sakit dulu !" Pinta Oca.


"Tak perlu, yang aku butuhkan hanya dirimu sayang !" Pria yang sedang terluka itu memeluk Oca.


"Apa penyebab kalian menyimpan dendam ?" Tanya Oca penasaran dengan alasan Praba dan Gandhi berkelahi.


"Wanita, wanita yang Gandhi sukai menyukai Abang !" Sahut Bara singkat.


"Jangan dengarkan kata kata ngawur Bara !"


"Kalian berkelahi gara gara wanita Mas ?" Oca tak kuasa meluapkan kekesalannya pada Praba.


"Aku tak pernah menyukai nya, itu hanya rumor saja !" Praba tak ingin membuat Oca salah paham atas masa lalunya.


"Aku ingin tahu seperti apa wanita yang membuat Prabasonta dan Gandhi rebutkan ?"


"Kenapa kakak tak berkaca, dulu aku dan Praba juga memperebutkan dirimu !!" Sahut Bara.


"Namanya Sandra, dia Mahasiswa hukum satu angkatan dengan kami !" Jawab Praba pelan.


Meski Oca merasa kesal, namun kejujuran Praba membuatnya mengurungkan niatnya untuk memarahi sang kekasih.


"Itu kan sudah menjadi masa lalu kak, sekarang kalian kan sudah bersama !" Bujuk Bara menengahi suasana panas antara kakaknya dengan Oca.


"Mungkin kalau aku tak kembali dari Sidney, masalah ini tak akan terjadi !" Ujar Oca pelan.


Pasalnya masalah datang silih berganti setelah kepulangannya ke Indonesia.


☘️☘️☘️


__ADS_1


Kiri apa kanan Gaesss ???


__ADS_2