
Kita harus menyadari bahwa semua hal akan berhubungan satu dengan lainnya. – Leonardo DaVinci
☘️☘️
Sudah hampir pukul 14.20 mereka berempat baru bisa menyantap makan siang mereka. Praba mentraktir mereka di sebuah Restoran Jepang yang letaknya tak jauh dari Rumah sakit tempat Oca bekerja.
"Pak, lain kali boleh dong di traktir seperti ini lagi !" Celetuk Dewi sambil mengelap mulutnya dari sisa makanan.
"Boleh juga kalau kalian tak bersekongkol menipu ku !" Tatapan tajamnya mengarah pada kedua anak buahnya.
"Aku yang meminta mereka membantuku, kau tak merasa juga sudah menipuku ?"
"Siapa yang menipumu ? bahkan kau sendiri yang menganggap ku supirmu, apa kau tak ingat baby ?"
"Oke, itu semua salah ku !" Wanita itu menundukkan kepalanya setelah memasukan potongan Suki ke dalam mulutnya.
Suasana makin canggung setelah Oca selesai menyelesaikan kata katanya, Dewi dan Gusti merasa bersalah karena kata katanya tadi memancing luka lama dari kedua insan yang baru saja berbaikan tersebut.
🌼🌼
Tak ada satupun kata yang terucap dari keduanya hingga mereka kembali dari makan siangnya.
Keduanya kini berada dalam satu mobil untuk pulang bersama.
Lagi lagi Oca mendiamkan pria yang sedang mengemudi di sampingnya.
"Aku minta maaf sayang, aku tak bermaksud menipumu !" Pria itu mencoba menjelaskan duduk permasalahannya dari hati.
"Lupakan, aku yang salah !" Tegas wanita itu tanpa menatap kekasihnya.
"Sayang, ayolah jangan membuatku pusing !" Ia merasa bersalah melihat Oca tak lagi berniat melihatnya. Ia takut Oca akan ngambek dan memutuskan hubungan mereka.
Kemudian ia menggenggam tangan Oca erat,
"Jangan tinggalkan aku lagi ?" Pintanya dengan tatapan sendu.
Ingin sekali Oca menjitak kepala Praba saat itu juga, Ia tahu sekali bagaimana sifat lelaki di sampingnya tersebut.
"Aku akan meninggalkanmu lagi, sejauh yang aku bisa !" Oca mencoba menggoda teman lelaki spesialnya tersebut.
"Jangan macam macam denganku Oca, aku bisa mati tanpamu !"
"Bukankah bagus itu, dari tempat jauh aku bisa membaca sebuah berita seorang pengacara bunuh diri nyemplung kali Cideng lantaran patah hati !" Goda Oca sambil tertawa, ia tak bisa menyembunyikan tawanya melihat lelaki disampingnya yang terbiasa tegas dan berwibawa kini terlihat menyedihkan di hadapannya.
__ADS_1
"Kau mau membuatku patah hati lagi dear ?"
Praba sengaja menatap Oca dalam dalam.
"Hei, aku hanya menggodamu wahai Tuan Pengacara !" Ia benar benar tak kuasa menahan tawanya.
Tak terasa perjalanan mereka telah tiba di Apartemen yang mereka tinggali bersama.
Sebelum turun, Praba menahan tangan wanitanya tersebut.
"Jangan mengatakan hal seperti itu tadi, aku sungguh tak bisa bila jauh darimu !" Ungkapnya kemudian mendekatkan diri lebih dekat dengan Oca.
Oca mulai memasang sikap siaganya, seperti biasa lelaki itu suka sekali melakukan hal hal kurang ajar padanya.
"Jauhkan senyuman mengerikan itu dari wajahmu !" Tolak ia tegas.
"Berikan aku .." Belum sempat Praba melanjutkan kata katanya, Ia langsung mendekap Oca dengan sigapnya.
"Lelaki ini memang banyak maunya," Toh dari pihak wanita tak ada penolakan lagi. Mungkin sesekali boleh lah ya menyenangkan lelaki itu menurut Oca.
Melihat tak ada kata penolakan dari wanitanya, hal tersebut semakin membuat Praba tak sabar untuk segera menikmati bibir merah yang kelihatan merekah tersebut.
Kini posisi mereka sangatlah dekat, hingga keduanya dapat merasakan degup jantung yang lainya. Kesempatan kali ini tak akan di sia siakan oleh Praba, pasalnya ini pertama kalinya ia bisa mendekati Oca sebagai dirinya sendiri dan tanpa bantuan minuman beralkohol atau apapun.
Praba kini sudah mendaratkan ciumannya pada bibir Kekasihnya, Namun baru saja ia menempelkan bibirnya dan belum menikmati dari sensasi ciumannya, kenikmatan itu sirna tiba tiba setelah terdengar bunyi dering ponsel miliknya.
Dering dari ponsel milik Praba terus saja mengganggu aktivitas mereka, hingga membuat lelaki itu kesal.
"Hei, ponselmu berbunyi tuh !" Tegur Oca sambil menunjuk sebuah benda berbentuk persegi tersebut di dalam saku baju Praba.
"Aku akan membunuh siapapun yang menelponku !" Geram Praba benar benar kesal lantaran aksinya tergagalkan.
Praba kemudian merogoh saku bajunya untuk mengambil ponselnya setelah Oca mati Matian menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Cepat katakan ada apa ? kalau tak ada kabar penting besok kau tak perlu bekerja untukku !" Maki Praba pada Gusti yang sedari tadi menunggu diangkat telponnya oleh Praba.
"Waduh, celaka bos masih marah marah !" Batin Gusti takut untuk memulai memberikan informasi pada Praba.
"Beberapa Orang terlihat mengintai rumah keluarga Widya bos, dan Pihak keluarga ingin memindahkan Ny. Ratih ke rumah sakit lain !" Jelas Gusti pelan pelan takut Bosnya tersinggung.
"Aku akan pergi bersamamu !" Jawab Praba kemudian menutup telpon dari Gusti dengan kesal.
"Pulanglah dulu, aku akan kembali secepatnya setelah urusanku selesai !"
__ADS_1
"Bisakah kau tak terlibat dalam kasus ini ?" Pinta Oca dengan memohon pada Praba.
"Kau menghawatirkan aku ?"
"Tentu saja, pekerjaanmu beresiko mengancam keselamatanmu !"
"Jangan khawatir, aku bisa menjaga diri asal kau selalu bersamaku itu sudah cukup. Pulanglah aku akan tiba sebelum makan malam,"
"Kenapa aku harus menunggumu ?" Gerutu Oca sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari Mobil Praba.
"Karena itu tugas barumu sayang !" Terlihat sekali Praba sangat puas bisa menggoda wanitanya.
Tanpa menjawab Praba, Oca berjalan meninggalkan parkiran mobil dan berjalan masuk Apartemen guna pulang kerumahnya.
🌼🌼
Dengan langkah terburu buru, sepasang kaki yang terlihat kokoh berjalan di antara lorong lorong sebuah Apartemen.
Hatinya sangat senang lantaran kini sudah ada seorang wanita yang sudah Sudi untuk menunggunya pulang kerja.
Dibukanya pintu Apartemen miliknya, namun suasana sepi di tampakkan dari unitnya.
Tak ada siapapun, namun Keadaan Apartemen miliknya kini jauh lebih tertata dan nyaman dari sebelumnya.
Pria tersebut terlihat menyunggingkan senyumnya. Namun rasa pemasangan kini muncul kembali lantaran tak menemukan pujaan hatinya di seluruh sudut apartemen miliknya.
Ia mengamati seluruh sudut Apartemen miliknya ia tak menemukan keberadaan Oca, hanya ada meja makan yang sudah ditata rapi dengan beberapa makanan serta cemilan.
Ia kemudian mencoba menghubungi Ponsel milik kekasihnya tersebut. Namun lagi lagi tak ada jawaban yang membuat hatinya lega.
Ia lalu bergegas pergi meninggalkan unitnya dan naik beberapa lantai untuk memeriksa unit milik Oca.
Berhubung ia sudah mendapatkan password Apartemen milik Oca dari Riana, mama Oca ia pun dengan mudah bisa menyelinap masuk kedalam hunian milik Oca.
Praba menyisir setiap sudut hunian Oca. Dan mendapati sesosok Tubuh terbaring dengan pulasnya di kamarnya.
"Aku sudah menyuruhmu menungguku, maafkan aku karena aku terlambat !" Bisik Pria itu di telinga Oca dengan lembut.
"Kau sudah pulang ? kenapa bisa menerobos masuk rumahku ?" Protesnya sambil menggeliat.
"Bagian mana dari dirimu yang aku tak tahu sayang ?" Ia menggoda Oca dengan menciumi pundaknya.
"Aku sudah menyiapkan makan malam, harusnya kau sudah menemukannya kan ?"
__ADS_1
"Tapi aku ingin memakanmu terlebih dahulu,"
🌼🌼🌼