
Awan hitam yakni mendung menyelimuti Firdaus Memorial Park tempat pemakaman Elit di kota Kembang Bandung.
Suasana duka melekat menyelimuti seluruh hadirin yang menghadiri pemakaman seseorang tersebut.
Tanpa terkecuali wanita yang tengah berdiri di depan pusara kekasih hatinya.
Mendung kelabu itupun akhirnya datang, duka mendalam yang ia rasakan hampir hampir tak pernah ia inginkan selama ini.
Rencana indah untuk naik ke pelaminan bersama sang kekasih harus ia urungkan.
Gundukan tanah basah menjadi pemandangan haru bagi siapapun yang datang melayat.
"Aku Oceana Saphira, aku adalah seorang dokter. Tugas seorang dokter adalah menyelamatkan nyawa seseorang yang sedang dalam bahaya. Namun saat kekasihku sedang dalam bahaya, aku tak mampu melakukan apa apa untuknya. Jangankan menyelamatkan nyawanya, memintanya jangan pergi pun aku tak bisa. Dan kini harus aku akui aku telah gagal menjadi seorang dokter."
"Kuatlah Oca.." Bujuk rekan rekan kerjanya yang hadir di prosesi pemakaman Abigail kekasih hatinya.
"Betapa bodohnya aku ini.." Oca mengutuki dirinya sendiri dalam hati.
Bulir bulir cairan bening kini tak lagi mampu keluar dari manik indahnya. Air matanya sudah habis ia tumpahkan dari siang hingga bertemu siang ini.
Seseorang mendekatinya, seseorang tersebut membawa sebuah box berwarna kuning garis garis.
"Kau selalu berada di dalam hati kak Abi, Kak !! Kak Abi sudah tenang disana.." Bujuk Wanita tersebut yang tak lain Adik Abi.
"Kau harus kuat nak, demi Abi.. kita semua memang telah kehilangan sosok Abi.." Bujuk mama Abi mengeratkan pelukannya ke Oca.
Oca tak bergeming, dengan tatapan kosong dari mata sendunya orang bisa melukiskan betapa menderitanya Oca.
Pun sama halnya dengan Praba, ia datang menjemput sekaligus menghadiri pemakaman saingan cintanya. Hanya saja ia datang sebagai Asep. Ia tak kuasa menahan gejolak hatinya saat melihat betapa sedihnya wanita yang ia cintai selama ini.
Oca menerima box kuning pemberian Adik Abi, dan membawanya. Ia masih enggan beranjak dari pusara Abi. Hingga rekan rekannya mengajaknya pulang.
"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku ?"
Akhirnya Oca mau juga dibujuk untuk meninggalkan pusara Abi.
Kemudian sebagai salam perpisahan, Oca mengalungkan syal hitamnya di nisan Abi.
"Biarkan saya yang menemani anda Bu.." Ucap Asep membukakan pintu mobil untuk Oca.
Entah mobil siapa yang ia bawa, Oca tak mengamati mobil apa dan mobil siapa. Pikirannya kosong saat ini. Diapun juga tak memusingkan dimana mobilnya saat ini.
Karena Oca ikut mobil Ambulance untuk mengantar Jenazah Abi ke rumah orang tuanya.
Sepanjang perjalanan ia bersama Abi yang sudah tak bernyawa disampingnya. Menyakitkan bukan, ketika ada seorang pria sempurna datang di hidupnya yang sepi, harus dipanggil Yang Maha Kuasa. Sedangkan keinginan terbesar pria tersebut adalah menikahinya.
Sungguh pelan pelan, Oca membuka kotak berwarna kuning pemberian Adik Abi tersebut. Dia melihat isi kotak tersebut dengan berlinang air mata.
Pasalnya kotak tersebut berisikan barang barang milik Abi.
__ADS_1
Barang pertama yang Oca lihat Adalah botol minum dari salah satu kedai kopi terkenal.
Oca mengambil Tumbler tersebut dan memeluknya.
Praba yang bersama dirinya mengamati dari belakang stir ikut sedih melihat Oca begitu kehilangan Abi.
ππ
Beberapa bulan yang lalu, Oca dan Abi sedang mengantre di sebuah kedai kopi terkenal. Sebut saja Starbuck ( maaf bukan iklan ).
Ketika telah sampai di antreannya, Oca kemudian menyodorkan Tumbler yang ia bawa ke barista yang melayani mereka berdua.
"Kenapa kau suka membawa Tumbler sendiri Dok ?" Tanya Abi ketika Oca mengeluarkan botol minum brand kopi tersebut dari dalam tasnya.
"Selain dapat diskon 50% kita juga berpartisipasi menjaga lingkungan dengan tidak memakai Cup.." Jawab Oca diselingi canda tawanya.
"Diskon ? gajimu cukup besar dan orang tuamnu pengusaha.." Ejek Abi kala itu.
"Itu kan orang tuaku, bukan aku.." Jawab Oca sambil memesan kopi yang ia inginkan.
Karena kebiasaan Oca itulah, akhirnya Abi kena racun dari Oca. Abi ikut ikutan membeli Tumbler Starbucks sama seperti Oca. Dan botol minum itu lah yang saat ini ia genggam erat ditangannya.
kemudian Oca meletakkan kembali Tumbler Abi lagi ke dalam kotak kuning tersebut.
Benda selanjutnya yang Oca lihat adalah sebuah name tag yang bertuliskan nama Abi.
Serta foto Abi yang sedang tersenyum di nametag tersebut.
ππ
"Aku ingin mendedikasikan hidupku untuk keselamatannya nyawa orang lain.." Jawab Abi kala itu.
Mengingat hal tersebut membuat Oca menumpahkan air matanya lagi. Kali ini Oca menangis sejadi jadinya hingga terisak.
"Dia benar benar mencintai lelaki itu.." Gumam Asep dalam hati ketika melihat Oca meluapkan kesedihannya di dalam mobil.
"Bu, bagaimana aku harus menghiburmu ?" Asep pelan pelan menanyai Oca yang sedang bersedih.
Oca tak menjawab apapun yang Asep katakan, ia sangat tahu bila sopirnya tersebut ingin menghilangkan gundah di hatinya.
"Aku gagal Asep, gagal sebagai seorang dokter.." Sahut Oca pelan.
"Lupakanlah, jangan berputus asa masa depan Bu Oca masih panjang.." Bujuk Asep
"Aku sudah kehilangan seseorang yang berharga di hidupku.." Isak Oca
"Kuatlah, anda harus tetap bertahan untuk orang yang mengganggap anda berharga juga !" Bujuk Asep lagi
Setelah mendengarkan nasehat Asep, Oca tak berkata apapun selama diperjalanan.
Suasana hatinya masih diliputi duka yang mendalam.
__ADS_1
Dua kali ia kehilangan orang yang ia cintai.
Dan yang terakhir kali ini sungguh menyakitkan.
Wajah sendunya tak berubah sedikitpun, wajah menahan duka dan wajah tak tidur semalaman.
Dari semalam Oca tak pernah sekalipun meninggalkan Abi, sebelum Jenazah Abi dibawa pulang kerumah orang tuanya Oca selalu menemani Abi.
Bahkan Oca juga menemani Abi ketika tubuh Abi dibawa pulang menggunakan Ambulance.
Ia tak ingin sekalipun berpisah dengan Abi.
πΌπΌ
Sesaat Sebelum Abi dinyatakan meninggal.
Dokter memberitahukan ke pada keluarga Abi dan juga Oca bahwa kondisi Abi bertambah kritis setelah operasi pengangkatan Kanker dilaksanakan.
"Bisakah aku masuk ke ruang ICU ?" Pinta Oca pada dokter yang menangani Abi.
Dokter tersebut mengijinkan Oca masuk menemui Abi di ICU.
Setelah berganti pakaian khusus Oca mendekati tubuh lemah tak berdaya Abi.
Air mata Oca kembali merangsak keluar ketika melihat Abi berbaring tak sadarkan diri.
"Dok bangunlah, kamu berjanji akan menikahiku ? jangan membuat aku menunggu sampai Tua .." Ucap Oca dengan Isak tangisnya.
Abi tak memberikan respon apapun.
"Dok, aku telah bertemu keluargamu seperti yang kamu rencanakan, aku menyukai mereka dan mereka juga menyukaiku. Kamu bilang kita akan bertemu keluarga kita masing masing aku menunggumu bangun untuk mengenalkan kamu pada keluargaku" Imbuh Oca.
Oca makin tak bisa membendung lagi kesedihannya, kini rasa sedihnya sudah meluap kemana mana.
"Bila ini sudah takdir kita, aku berharap kita bisa saling berbahagia.." Ucap Oca.
Abi masih tak bergeming, namun Oca melihat ada benda cair disudut mata Abi.
Oca segera berlari memberi tahu dokter bahwa Abi memberikan respon pada Oca.
Dokter dan keluarga Abi begitu lega mendengar penjelasan Oca.
Kemudian dokter memeriksa keadaan Abi dan menyuruh Oca meninggalkan ICU.
Air mata itu adalah air mata terakhir dari Abi, Air mata itu merupakan salam perpisahan dari Abi untuk Oca.
"*Kita berdua akan saling berbahagia Oca, karena hati kita tetap sama.."
- Abigail -
πΌπΌπΌ*
__ADS_1