
Oca membuka matanya lebar lebar meski kesadarannya masih belum sepenuhnya terkumpul akibat ketiduran.
"Mas, kamu kan sudah berjanji akan selalu menghormati wanita ?" Keluhnya dengan rasa iba meski dibuat buat tentunya.
"Itu kalau tidak kepepet yank, ini mas udah mepet kamu !" Bukan hanya dekat dengan Oca kini Pria yang berprofesi sebagai pengacara itupun sudah menghujani sang Dewinya dengan ribuan ciuman dan belaian.
"Aku belum siap !" Kali ini penolakan Oca memang sedikit lebih tegas dari pada saat pertama tadi. Ia benar benar mampu menghentikan aksi nekat Praba kali ini.
"Semoga untuk berikutnya aku tak gagal ?" Keluhnya dalam hati.
"Aku akan menunggu hingga kau siap Baby, ayo temani aku makan malam !" Praba menggenggam erat tangan Oca kemudian mengajaknya pergi ke Apartemen miliknya.
"Aku lelah sekali hari ini," Ia mencoba memohon dengan kata kata memelas agar Praba tak membawanya ke dalam sarang singa.
"Aku tak akan memakanmu sayang, tenang saja !" Lagi lagi Pria itu tersenyum licik pada Oca.
Kini mereka sudah sampai di Hunian mewah sang lelaki. Di tuntunnya Oca untuk duduk menemani dirinya makan malam.
Sesekali ia menyodorkan makannya ke arah mulut sang wanita, namun berkali kali juga Oca selalu menolaknya dengan alasan tak bisa makan terlalu malam.
Untunglah Oca bisa merencanakan untuk kabur ketika Pria itu sedang berada di kamar mandi, Ia sudah bersiaga ketika pria itu masuk ke kamar mandinya.
Namun langkah kakinya terhenti lantaran menemukan sebotol yang berisi tablet.
Oca Kemudian membuka obat yang sangat mencurigakan tersebut.
Ia sangat yakin obat itu adalah sejenis obat penenang, Benzodiazepine nama yang tertulis di botol tersebut.
"Berarti pria ini tak berbohong padaku ?"
Oca masih terpaku menatap Obat penenang tersebut, rasa ibanya kini muncul mengalahkan rasa takut akan diterkam singa jantan tersebut.
Ia berdiri membelakangi arah kamar mandi dan menatap arah luar jendela dari kamar Praba. Pikirannya masih terus memikirkan Pria tersebut.
"Dia harus ikut terapi !" Bagaimanapun juga Oca adalah seorang dokter dan naluri dokternya pasti akan muncul bila melihat ada orang yang sedang menderita suatu penyakit.
Tiba tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya, Ia sudah menyadari bahwa itu pasti lelaki yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Kenapa belum tidur ? atau kau menunggu aku sayang ?" Godanya.
"Sejak kapan ?" Tanya Oca to the point sambil menampakkan sebotol obat yang sedang ia genggam.
"Aku kan sudah memberitahu kami bahwa aku memiliki masalah kesulitan tidur, itu hanya obat pembantu saja tak ada kandungan narkotikanya sayang aku bersumpah ?"
"Berjanjilah kau akan mengikuti terapi, aku tak mau kau terus terusan mengkonsumsi obat seperti ini mas !" Kini air mata Oca tak bisa dibendung lagi. Wanita itu sangat sedih menyaksikan betapa Praba dalam kesulitan selama ini.
"Iya aku berjanji,"
Oca kemudian secara suka rela akan melakukan terapi dasar untuk lelakinya. Ia menarik tangan pria itu menuju tempat peraduannya. Dan memintanya untuk berbaring.
"Katakan padaku apa yang membuatmu khawatir ?" Mula mula Oca menanyainya.
"Aku takut kau meninggalkanku lagi !" Jawabnya simple.
"Dasar bodoh, siapa yang akan meninggalkan kamu lagi aku perlu kamu karena uangmu banyak !" Celetuk Oca sengaja membuat nyaman Pria itu.
"Ada 2 berita bagus dan buruk untukmu !" Praba kemudian menyela kata kata Kekasihnya.
Kini Pria yang biasanya tampil memukau di persidangan ini berpindah posisi berbaring di paha wanitanya.
"Apa itu ?" Tak mau kalah, sang Dewi juga berusaha membuat Praba merasa nyaman.
__ADS_1
"Berita bagusnya Ratih mau menjalani pengobatan ?" Ungkap Pria yang kini sedang bermanja manjaan dengan kekasihnya tersebut.
"Itu bagus Mas, lalu apa berita buruknya ?"
"Dia hanya mau bila kamu yang bertanggung jawab atas dirinya. Tadi Gandhi sempat akan memindahkan Ny. Ratih namun ia bersikeras ingin bertemu dengan dirimu sayang !"
"Aku bukan ahli penyakit dalam Mas, aku hanya dokter bedah Syaraf." Protes Oca.
"Apa tak ada cara lain ?"
"Harus kita temukan dulu, organ yang cocok untuk transplantasi hati buat Ny. Ratih !" Jelas Oca.
"Aku sudah menemui semua anggota keluarganya, namun mereka lebih memilih untuk menghindar ?"
"Rumit sekali ya !" Sahut wanita itu sambil membelai lembut rambut di kepala lelaki yang sedang berbaring di pahanya.
"Sayang, Oca jangan lebih jauh membelainya aku takut tak bisa mengontrol nafsuku !"
Praba mengeluh lantaran sentuhan sentuhan Oca bukan hanya menenangkan dirinya malah tambah membangkitkan gairahnya kembali.
"Apa ? kenapa kau bersikap seperti itu pada terapis Mas ?"
"Sayang, Mas bukan anak kecil lagi kamu membuat gairah Mas bangkit lagi !" Ucapnya sendu.
"Baiklah, kalau begitu kita sudahi saja aku juga mau pulang !" Kini Oca merapikan penampilannya dan bersiap pulang.
"Tidak boleh, kamu harus tanggung jawab !"
"Kita kan sudah sepakat tidak akan melakukan hal tersebut ?" Tolak Oca dengan mata melotot tajam pada Praba.
"Aku akan berusaha menekan itu, tidurlah disini bersamaku ?" Pinta Praba dengan alis mata gabung agak sedikit memaksa.
"Janji ya ?"
"Begini lebih mendingan ?" Sindir sang wanita ketika Lelaki itu memeluknya sambil berbaring.
"Iya, meski aku sedikit tak puas !"
"Tidurlah, aku masih banyak kerjaan yang belum aku selesaikan !" Gerutu wanita itu karena kesal pada akhirnya ia justru menginap lagi di tempat ini.
"Bujuklah keluarga Ratih dan bantu sumaimu ini!"
"Ada upahnya tidak ?"
"Apapun yang kamu mau," Kini Praba tak segan segan untuk memeluk bahkan mencium serta mencumbu wanita yang berada sangat dekat dengan dirinya.
"Baiklah, tapi kamu harus janji jangan cari masalah pada kasus ini aku sungguh khawatir !"
"Sayang, ada atau tidak kasus ini pekerjaan pangeran mu ini memang beresiko apa lagi kalau berhadapan dengan Gandhi !".
"Pantas saja waktu kita tak sengaja menabrak mobilnya kau terlihat murka sekali bertemu dengannya."
"Dia rival abadiku, jadi dalam hal apapun kami memang selalu seperti itu awas saja kalau dia berani mengusik mu !"
"Tidakkah kamu tahu aku wanita seperti apa ? dia tak akan bisa menyakitiku lagi pula aku ..."
Oca tak melanjutkan kata katanya, pipinya merona merah sebelum iya sempat melanjutkan kata katanya.
"Kamu apa ?"
"Kekasih Prabasonta !" Jawab Oca lirih ditelinga Pria tersebut.
__ADS_1
"Aku akan membunuh Gandhi bila dia berusaha menyakitimu !"
Ketika menoleh ke arah wanita pujaannya, Praba mendapati mata Oca sudah tertutup rapat.
Padahal dia sendiri yang ingin menerapi Praba malahan dia sendiri yang tidur lebih awal.
"Kau terlihat lebih menggemaskan ketika tidur sayang !" Ucap lelaki tersebut sebelum mengecup kening wanitanya.
πΌπΌ
Pagi harinya, Pria yang masih setengah sadar dari tidurnya merasa kehilangan sesuatu. Ia tak mendapati Kekasihnya dimana pun berada.
Praba mencari wanita itu ke setiap sudut Apartemen miliknya.
...Yang ia temukan hanya secangkir kopi dan sebuah note yang tertindih cangkir tersebut....
"Kali ini aku mengundangmu untuk sarapan dirumahku,"
"Dia sudah mulai berani mengakui perasaanya !" Gumam Praba dengan senyum merekah di bibirnya.
βοΈβοΈ
Rasa canggung mulai muncul ketika mereka sedang menyantap hidangan yang Oca buat.
Untunglah bunyi ponsel dari Praba dapat memecah keheningan.
Gusti menelpon bahwa para penguntit mulai mendekati rumah keluarga Widya, kini aksi mereka tak nanggung nanggung. Mereka telah melakukan beberapa teror sepeti melempari batu ke dalam rumah tersebut.
Praba tak ingin membuat wanita di depannya khawatir. Ia tetap menunjukan wajah santainya meski sambil mencari sebuah solusi.
Setelah membereskan sarapan mereka, Samar samar Oca mendengar Praba menelpon seseorang. Yang membuat Oca ingin mengetahui nya lebih dalam.
"Bersiaplah berkelahi Bar, aku bisa
membayarmu berkali kali lipat dari gajimu di perusahaan Ayah !" Ungkap Lelaki yang kini menunjukan rasa bengisnya.
Setelah mengakhiri telponnya kepada Bara, Pria itu kini bersikap normal kembali.
"Kau pandai sekali berpura pura bodoh di depanku, menipuku adalah keahlianmu bukan ?" Sindir wanita yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Aku tak ingin mengkhawatirkan kamu Baby !"
"Dasar sinting, aku sudah berkomitmen padamu berarti aku harus menerima segala resikonya berada di dekatmu !" Ucap Oca dengan mata berkaca kaca.
"Jadi apa kau siap dengan kehidupan keras Prabasonta sayang ?"
"Aku siap !" Jawab Oca lantang.
Setelah bersiap siap untuk mulai bekerja kembali, kini keduanya sudah sangat siap untuk berperang pada profesinya masing masing.
Dari jauh Bara sudah menunggu mereka berdua. Bara melemparkan senyum kearah mereka berdua.
"Kau akan berangkat bersama Bara ?"
"Ada suatu hal yang harus aku kerjakan bersama anak nakal itu, ini keahliannya membuat rusuh suasana bukan ?" Ungkap Praba sambil tersenyum kecut ke arah adik lelakinya.
"Lalu aku ?"
"klik klik !" Praba memencet sebuah benda berwarna siver di tangannya. Akibat perbuatannya itu sebuah mobil mewah mengeluarkan bunyi alarm dari benda yang Praba tekan.
__ADS_1
"Tunjukan keahlian mu sabagai Wanita Prabasonta ! Bila ada yang mengejarmu lari lah seperti kau ingin mengalahkan aku menggunakan mobil ini !"
πππ