
...Indah wajahmu menghiasi hari...
...Senyum manismu meluluhkan hati...
...Hari demi hari terasa sepi...
...Bila tawamu tak mengiringi...
...Tetaplah menjadi penenang hati...
...Karena bagiku kau begitu berarti...
...Β ...
...Ku mohonβ¦...
...Jangan pernah berniat tuk pergi...
...Ataupun rasa untuk membenci...
...Karena ku ingin kau tetap di sini...
...Menemaniβ¦...
...Menjaga hati yang telah kau kunci...
...--Abdul Zaelani...
πππ
Chapter kali ini dibuka oleh pemandangan seorang lelaki dewasa yang baru saja keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya.
Lelaki tersebut seperti biasanya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Di atas tempat tidur sudah tersedia satu stel pakaian yang akan ia kenakan.
Bibirnya mengembangkan senyum indah, bagaimana tidak ? keperluannya kini sudah ada yang menyiapkan mulai hal sepele hingga keperluan seksualnya.
Setelah ia mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh sang istri, sang pengacara berwajah rupawan itupun segera menemui sang istri di luar kamar mereka.
Ia mencari kesana kemari namun tak menemukan jejak sang istri. Namun diatas meja makan sudah tersedia menu sarapan untuk dirinya serta sang istri.
Lelaki itu kemudian mencari gawai miliknya untuk menghubungi nomor ponsel sang istri.
Dengan segera ia menekan nama sang istri di layar gawai miliknya.
__ADS_1
Beberapa kali ia mendengarkan nada sambungan telepon, namun tak ada jawaban dari si empunya nomor yang ia hubungi.
"Kemana wanita itu, apa dia meninggalkan aku begitu saja ?" gerutu sang Pengacara tampan tersebut.
Tak sampai 5 menit, wanita yang ia tunggu kehadirannya membuka pintu Apartemen miliknya. Ia menatap sang wanita itu dengan tatapan penuh selidik ingin konfirmasi dari wanita itu.
"Darimana yank ?"
"Apartemenku, aku mengirim sarapan untuk Bu Yani dan cucunya," jelas sang istri mendekatinya. Terlihat dari raut wajahnya lelaki itu masih tampak kesal.
"Kenapa harus bangun sepagi ini, dan menyiapkan ini semua yank ?"
"Karena ini adalah hari penting untuk kita berdua, Aku akan membantu dalam proses operasi mereka berdua dan kamu akan membantu memenangkan kasus Widya."
"Aku tahu, tapi jangan membebani dirimu dek,"
"Supaya tanganku tak kaku dalam operasi nanti, makanya aku melemaskan otot-ototku dengan memasak !" sambil meyuapkan pasta ke mulut sang suami.
"Kamu pergi tanpa memberitahu suamimu, aku takut sekali kau mencoba kabur dariku !" tutur sang suami yang masih enggan memikirkan kemungkinan Oca akan kabur darinya.
"Apa yang membuatmu berfikir aku akan meninggalkan kamu Mas ? kalaupun aku ingin meninggalkan kamu, kenapa tak dari dulu ?" sambil menyodorkan air putih dalam gelas untuk sang suaminya.
"Aku takut, aku takut tak bisa lagi memelukmu !"
"Gombal !" ejek Oca tak percaya.
"Pada akhirnya akan bermuara kesana juga dek, kan itu yang membuat Mas bersemangat !" jawab Praba dengan muka melasnya.
"Makanlah, aku akan bersiap siap dulu." ungkap Oca setelah ia meminum air dalam gelas di depannya.
ππ
Sang Istri sudah keluar dari kamarnya setelah bersiap siap untuk menjalani proses Operasi pencangkokan hati Nyonya Ratih yang akan didonorkan oleh Widya.
"Apa apaan Dek, kamu mau meng-operasi orang atau merayu orang dengan pakaian mini seperti itu ?" sergah sang pengacara berwajah rupawan tersebut.
"Ada apa sih Mas ?"
"Cepat ganti, Mas ingin membakar rokmu itu !" perintah Praba pada sang istri yang ia rasa penampilannya akan mengundang syahwat para lelaki lain.
"Iya iya, oke !" sahut Oca kesal sekali, inilah yang aku paling tak suka bila menikah. Hidupku akan diatur sepenuhnya oleh Listrik Prabayar.
Mau tak mau, Oca harus mengganti pakaian yang ia kenakan. Daripada ia harus bersitegang dengan sang suami. Bagaimana pun ia harus menuruti apa kata lelaki itu karena lelaki itu saat ini sudah menjadi suaminya.
__ADS_1
"Itu lebih baik," puji sang Suami tak berkedip melihat kecantikan wajah sang istri.
"Iya deh," meski begitu, Oca masih sangat menghargai kemauan sang suami.
"Sayang, maaf aku tak bisa mengantarkan kamu, biar Gusti yang mengantar kamu ya"
"Aku bisa pergi sendiri kok, kaya anak kecil aja diawasin Mas !"
"Supaya kamu aman yank, ini sidang terakhir sebelum putusan resmi, Mas sudah memikirkan semuanya !" pria bertubuh atletis itu kini menggandeng tangan sang istri untuk keluar dari Apartemen miliknya bersama.
ππ
Dari jauh, Gusti sudah standby menunggu sang istri bosnya. Ia enggan untuk tersenyum pada Oca, lantaran tak ingin mendapatkan masalah dari bosnya.
"Pagi Gusti !" sapa Oca dengan senyum sumringahnya.
"Berhentilah tersenyum untuk semua laki laki selain aku dek !" protes Sang suami kemudian membukakan pintu mobil pemberian Praba untuknya.
Oca hanya memberikan sebuah isyarat dari tangannya yang membentuk huruf O.
Sebelum Gusti menghidupkan mobilnya, Pengacara tampan itu dengan spontan mencium bibir sang istri tanpa rasa risih dihadapan Gusti.
"Kalian tak memikirkan aku kah ?" sindir sang Supir dadakan untuk hari ini.
"Masa bodo !" sahut Praba menutup pintu mobil tersebut diikuti senyum merekahnya.
Kini sepasang suami istri tersebut akan menjalankan dua buah profesi yang sudah mereka geluti sejak lama.
Sang istri akan berjuang untuk membantu menyelamatkan nyawa sang pasien, meski dirinya bukan ketua tim dokternya.
Sedangkan sang suami, juga akan menjalankan profesi sebagai seorang pengacara untuk membela kehormatannya kliennya. Kliennya sedang mendonorkan hatinya, sebagai kuasa hukumnya Praba mewakili Widya pada persidangan ini. Karena persidangan ini akan menentukan ending dari kasus ini.
ππ
"Terimakasih dok, sudah hadir di hidup bos saya !" ucap Gusti sambil mengemudikan mobil pemberian dari sang suami.
"Ini takdir Gus, aku sudah berusaha sejauh mungkin pergi darinya, tapi pada ujungnya kembali lagi !" kenang Sang dokter cantik tersebut.
"Selama ini yang saya tahu beliau adalah workaholic, cuek dan datar namun semua itu berubah dengan adanya anda !"
"Aku tahu seperti apa wataknya dari dulu, semua harus sesuai apa yang ia inginkan kalau tidak dia akan marah marah Gus,"
Pembicaraan mereka harus segera terpotong lantaran mobil yang mereka kendarai diikuti oleh beberapa mobil lain. Dengan keadaan darurat ini, Gusti sudah mengambil ancang ancang untuk menambah Gas mobil tersebut.
"Sepertinya ada yang ingin menghalangi rencana anda dok !" ujar Gusti. Mimik wajahnya kini berangsur angsur berubah serius. Hal seperti itu sudah sering ia dapati selama menjadi Assisten Praba.
"Waktunya tak banyak Gus, jangan diladeni kita fokus jalan saja !" usul Sang istri bos.
__ADS_1
Gusti menganggukan kepalanya, ia setuju dengan usul istri dari bosnya. Ia melirik dari arah spion terdapat 3 mobil dengan bentukan yang sama mengejar mereka. Gusti sangat yakin target mereka adalah istri dari bosnya tersebut.