
Chapter kali ini diawali dari Kedua anak Adam yang sedang kasmaran.
Meski ini bukan kisah kasih yang pertama bagi mereka, namun gaungnya masih sangat kerasa hingga pagi ini.
Keduanya pun membuka matanya dengan senyum tersungging di bibir keduanya.
Meski mereka berada di dua tempat yang berbeda saat ini, namun hati dan pikiran mereka adalah sama.
Wanita yang pipinya bersemu merah itupun beranjak dari tempatnya tidur menunju kamar mandi di dalam kamarnya.
Mungkin sebagian orang berjalan ke kamar mandi adalah hal yabg biasa, namun kali ini Oca berbeda. Ia merasakan bulir bulir cintanya merasuk ke dalam bagian terdalam dari hatinya.
Oca mengamati bayangan dirinya dari kaca diatas Wastafel dalam kamar mandinya. Ia mengingat kejadian semalam bersama dengan Asep, hal tersebut membuat kedua pipinya kembali merona. Buru buru ia membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Anak perempuan mama, untuk menjalankan aktivitas mandi perlu hingga sejam lebih," Sindir Riana ketika melihat anak gadisnya keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah jaket lelaki di tangan kirinya.
"Udaranya agak sejuk ma," Sahut Oca menyembunyikan hal yang ia rasakan dari mamanya. Oca takut mamanya akan tak setuju dengan hubungan yang ia jalani bersama sopir pribadinya.
"Wajahmu ceria sekali, enak ya berduaan dengan Sopir dan pulang pulang tertidur." Mamanya mulai mengkonfrontir hubungannya lantaran curiga.
Wajah Oca kembali bersemu merah lantaran menahan malu, buru buru ia menetralkan kembali ekspresi dirinya. "Semuanya tak seperti yang mama lihat." Ucap Oca kembali menyembunyikan hubungannya.
"Makanlah," Goda Riana ketika melihat Oca berjalan ke arah belakang bagian Apartemennya sambil membawa jaket ditanganya.
"Oca mau mencuci dulu,"
"Kelihatanya, berhasil rencana mereka berdua." Gumam Riana melihat segala tindak tanduk putri semata wayangnya.
ππ
Oca berjalan kearah mesin cuci miliknya, ia berniat ingin mencuci jaket Asep. Namun sesuatu benda terjatuh ketika Oca ingin memasukan jaket tersebut kedalam mesin cuci di depannya.
Sambil berjongkok, Oca memungut benda kecil tersebut.
Benda yang biasanya digunakan untuk menulis tersebut Oca pungut dari lantai kemudian ia simpan.
"Untuk apa ada pulpen di dalam jaketnya, apa dia merangkap jadi penagih utang ?"
Gumam Oca sambil tertawa terkekeh-kekeh memikirkan prosesi Asep yang kemungkinan terjadi.
"Ah aku akan menyimpannya," Oca kemudian memasukan pulpen tersebut kedalam saku bajunya.
Pagi ini adalah hari pertama masuk kerja setelah ia mengambil cuti, namun ada hal yang membuatnya kecewa.
Lantaran sopir kesayangannya yang kini telah menjadi seseorang yang berharga bagi dirinya tak dapat mengantarkan dirinya pagi ini.
Rasa kesalnya makin memuncak ketika ia berada satu lift dengan musuhnya.
__ADS_1
"Kenapa Tuhan selalu mengirim dia untuk merusak pandanganku, ini tak adil," Gerutu Oca menatap tajam kearah pria disampingnya.
"Kenapa kau menatapku seperti melihat hantu ?" Lelaki tersebut menyindir Oca yang sedang kesal disebelahnya.
Oca tak berkomentar apa apa, dia sedang menahan hatinya agar tak marah marah di depan Praba.
"Atau karena sedang pecah kongsi dengan sopirmu ?"
Kali ini amarah Oca tak bisa ditahan lagi, dadanya serasa sesak dengan perkataan lelaki disampingnya barusan. Ingin sekali Oca memberinya pelajaran.
"Brak,," Oca memukuli Praba dengan botol yogurt kosong yang dia genggam sedari tadi.
"Hei, apa yang kau lakukan dear ? Sakit tahu !"
"Rasakan, makanya jangan ngomong sembarangan !" maki Oca dengan tatapan tajamnya.
"Begitu spesialkah dia dihatimu ? padahal dia tak lebih tampan dariku,"
" Dia Spesial, karena pakai telor lima."
Untung saja Pintu lift sudah terbuka, alhasil dia bisa buru buru menghindari pria kurang ajar tersebut.
Mendapati muka kesal dari wanitanya, membuat Praba makin bersemangat pagi ini. Dia sudah tak sabar ingin sekali menggoda wanita itu.
"Apa kau tak ada kerjaan lain selain membuntutiku ?" Oca merasakan sedari tadi Praba mengikutinya hingga parkir mobil.
Oca membuka pintu mobilnya dengan kasar setelah mendengar kata kata sinis Praba barusan.
"Terimakasih, berkat dirimu Widya bersedia membuka kasus ini kembali, dan hari ini adalah sidang pleidoi pertamanya."
Oca menengok ke belakang dari kaca jendela mobilnya, dan menatap sinis kearah Praba.
Tiba tiba senyum indah terukir di sudut bibirnya.
Hanya itu saja, dia lalu menstarter mobilnya bersiap siap berangkat kerja.
Diulurkannya tangan kanan Oca keluar kaca mobil sambil ia masih tetap menyetir dan melambaikan tangannya kearah Lelaki yang masih berdiri disamping mobilnya.
Namun gerakan tangan itu tiba tiba berubah menjadi sebuah isyarat karena Oca mengacungkan ibu jarinya.
Wajah Praba bersemu merah karena Oca mendukungnya. Namun ekspresi senang Praba tiba tiba berubah lantaran Oca tiba tiba saja membalikan ibu jarinya kebawah.
"Gadis nakal.." Gerutu Praba sambil memungut Botol Yoghurt kosong yang sedari tadi Oca pegang. Karena botol itu juga dipakai untuk memukulnya barusan.
Setelah memungut Botol kosong tadi, Pria yang masih senyum senyum sendiri itupun masuk kedalam mobilnya. Hari ini jadwalnya memang sangat padat lantaran akan mengahadapi sidang kasus Widya kembali.
Praba akan mempersiapkan amunisinya, dia sudah menyusun semua strategi dan mengumpulkan semua bukti yang ada.
__ADS_1
Kini dia bersiap berangkat ke kantornya.
ππ
Segera saja setelah Praba menyiapkan semua berkas berkas yang akan dia bawa ke pengadilan, Pria yang kini sedang berbunga bunga itupun menghubungi kekasih hatinya.
Wajahnya terlihat sedikit kesal karena Oca tak segera mengangkat telponnya.
Mendapati tak dapat jawaban dari kedua kalinya membuat Praba makin kesal dibuatnya.
Apalagi ia mendapati ada perubahan dimeja kerjanya selama ia tinggal memimpin rapat barusan.
"Dewi...!" Panggil Pria itu dengan lantang.
"Iya pak, ada apa ?" Tanya Sekretarisnya sedikit gemetar karena ada perubahan raut muka bosnya.
"Siapa yang membersihkan ruanganku barusan ?"
"OB baru pak, tadi saya lihat dia baru saja keluar dari ruangan bapak," Jelas Dewi pelan pelan takut terjadi suatu masalah.
"Panggil dia kesini sekarang juga !"
Karena tak ingn berlama lama mendengar Omelan bosnya, Dewi lantas bergegas menemui seorang Office boy yang notabennya masih baru tersebut.
"Eko, ikut aku keruangan Pak Praba, dia ingin berbicara denganmu !" Dewi bersuara sedikit ketakutan.
Kedua pegawai Praba itupun berbondong bondong masuk kedalam ruangan Praba.
"Kau yang membereskan mejaku ?" Tanya Praba dengan sinisnya kepada Eko si karyawan baru.
Dewi merasa ada sesuatu yang salah, mungkin Eko telah menghilangkan atau merusak dokumen penting milik Bosnya tersebut.
"Bila ada masalah, saya akan bertanggung jawab Pak, karena Eko adalah karyawan baru disini." Dewi berbaik hati menjadi Tameng untuk Eko.
"Baguslah, kalau begitu kalian berdua segera cari botol Yogurt kosong miliksaya ! karena tadi saya meletakkannya di atas meja dan sekarang saya tak menemukannya."
"Botol Yogurt ? kosong ?" Dewi menggerutu dalam hati karena tingkah tak masuk akal atasannya. Atasannya mempermasalahkan hilangnya botol kosong yang tak berharga apa apa bagi dia.
"Kalau sampai saya balik dari Pengadilan dan kalian belum mendapatkannya, Seluruh tunjangan pegawai di kantor ini saya pastikan tak akan cair bulan ini !" Ancam lelaki itu lalu membenarkan jas dan dasinya kemudian bersiap pergi ke pengadilan.
"Apa bos kita sedang tak sehat Bu Dewi ?" Eko memberanikan diri bertanya pada atasannya.
"Tempramen bos memang seperti itu, segera kita cari Eko kalau tidak bonus tunjangan kita semua akan sirna." Keluh Dewi yang sangat tahu bagaiman sifat bosnya tersebut
Keduanya kemudian melangkah keluar guna mencari sebuah botol keramat tersebut.
πΌπΌπΌ
__ADS_1