
Mata Oca terbelalak, jantungnya berdesir kencang. Nafasnya memburu lantaran ia menemukan sebuah benda keramat dari dalam dasboard mobil Praba.
"Wah bos, hancur sudah nasibmu ?" Gusti Bergumam pelan sambil menepuk jidatnya.
"Jadi begini kelakuan Bosmu selama ini ? jadi benar gosip gosip di luaran sana yang mengatakan bahwa Bosmu suka main perempuannya ?" Cerca Oca tak kenal ampun pada Gusti. Ia kemudian melemparkan sebuah pack benda yang ia yakini sebagai alat kontrasepsi milik lelaki.
"Setahu saya, Pak Praba tak seperti itu Bu. Buktinya waktu ia patah hati dari anda kemarin tampangnya sangat mengenaskan," Gusti mencoba menjelaskan pada Oca kenyataan yang terjadi.
"Lalu kond*m ini milik siapa ? punyamu ?" Kesabaran Oca habis lantaran mendapatkan sebuah benda keramat di mobil mantan pacarnya yang saat ini menjalin hubungan dengan dirinya.
"Anda bisa mengkonfirmasi sendiri dengan beliau, saya rasa anda salah paham pak Praba bukan orang seperti itu."
"Kau membelanya Gus ?"
"Saya sangat tahu sifat Pak Praba selama bekerja dengan beliau. Tak sekalipun ia mudah menyentuh wanita,"
"Siapa bilang, tadi saja aku hampir di terkam olehnya !" Oca mengingat hal memalukan antara dirinya dengan Praba ketika di ruangan Praba.
"Karena dia menginginkan anda !" Gusti mencoba mencairkan suasana peperangan diantara wanita Bosnya.
☘️☘️
Oca turun dari mobil Praba dengan perasaan dongkol yang ia pendam. Oca sangat marah manakala menemukan sebuah benda keramat di mobil Praba.
Ditutupnya kembali mobil itu dengan kasar. Lalu tanpa menatap Gusti, ia berlalu meninggalkan mobil Praba. Emosinya masih tersulut mana kala mengingat momen tersebut.
Kini ia sudah berada di salah satu ruang perawatan, seorang pasien yang menderita kanker tiba tiba tubuhnya bereaksi lain setelah melakukan operasi.
"Pasien mengeluh kepalanya sakit tak tertahankan dok !"
"Reaksi paling umum biasanya tubuh akan menolak benda asing untuk pertama kali, namun ini bukan operasi cangkok organ." Gumam wanita yang baru saja memeriksa pasien tersebut.
"dokter Adrian juga menjelaskan demikian, bahkan beliau sendiri yang mengoperasi pasien tersebut,"
"Kita harus mengambil tindakan, kita cek melalui MRI, bawa pasien tersebut tunggu aku di sana," Oca sesegera mungkin mempersiapkan dirinya untuk hal yang menuntutnya berbuat lebih.
Meski hatinya kini sedang diliputi perasaan kalut, namun profesinya menuntut dirinya untuk tetap bersikap profesional.
Ponselnya tak berhenti berdering, dia sudah sangat paham dengan sifat lelaki itu. Bila tidak segera diangkat Praba akan melakukan hal yang lebih parah lagi.
Ia kembali me-reject panggilan tersebut, "Apa orang ini tak tahu aku sedang sibuk ?"
Oca pun masuk ke ruangan MRI yang telah di persiapkan oleh perawat yang ia minta.
Oca tak bergeming, dia masih sibuk mengamati layar dari MRI.
Tak sampai satu detik, ponselnya kembali berdering.
"Angkat saja dulu dok, saya akan membantu melihat !" Pinta Adrian yang baru datang.
Oca terpaksa mengangkat ponsel tersebut daripada mengganggu jalannya proses tindakan.
__ADS_1
"Aku sibuk," Sahutnya singkat.
"Barang itu bukan milikku Oca, yang benar saja untuk apa aku menyimpannya."
"Geser sedikit ke kiri," Suara Oca memerintah seseorang. Meski ia sedang menerima telpon dari Praba namun matanya masih saja mengamati layar MRI.
Adrian pun mengikuti kata kata Oca, Oca melihat ada hal yang tak beres di kepala pasien.
"Penggumpalan," Gumam Wanita yang masih sibuk mengamati layar tersebut.
"Baiklah, kita bicarakan setelah pulang kerja !"
"Terserah,"
Buru buru wanita itu menutup telponnya dari Praba, Ia lebih antusias mengamati penyebab pasiennya mengalami penggumpalan darah.
"Kita bisa lakukan operasi ulang dok ?" dr Adrian meminta persetujuan dari Oca.
"Kita harus mengambil bagian itu," Sahut Oca.
Sementara di tempat lain, Seorang Pria sedang duduk termenung memikirkan nasibnya. Ini semua terjadi lantaran ia meminjamkan mobil kepada adik lelakinya.
"Anak itu tak henti hentinya membuat masalah untukku !" Praba menyenderkan Punggung ke kursi kerjanya. Kedua tangannya berada di belakang kepalanya. Pikirannya melayang entah kemana, Padahal baru saja ia berbaikan dan Oca sudah mau diajaknya berbicara. Kini sebuah masalah datang lagi di hubungan mereka.
"Dia kalau sudah marah, bisa mengerikan daripada wabah penyakit mematikan !" Gumam pria tersebut.
☘️☘️
Berselang beberapa jam berikutnya, Terlihat Dua orang wanita sedang tertawa cekikikan di sudut kamar VIP rumah sakit.
Sesekali Meraka tertawa, sesekali juga mereka berbinar binar matanya. Entah sudah berapa lama mereka berdua menghabiskan waktu menonton drama Korea.
Drama Korea yang berjudul was it love ini sangat menarik untuk di tonton, Drama yang dibintangi oleh Koo ja sung yang memiliki senyum indah ini memang masuk rekomendasi dari mereka berdua.
Praba sudah menghubungi Oca lagi, lantaran ini sudah masuk jam ia pulang shif malam.
Lagi lagi Oca tak bergeming dengan bunyi telpon dari handphone yang tergeletak di nakas samping dirinya.
"Angkat aja, nanti dia marah loh !" Goda Malika pada sahabatnya yang masih asyik nonton film.
"Males aku, kau tahu dia seperti apa orangnya !"
"Siapa ?" Malika penasaran siapa sebenarnya orang yang Oca Panggil dia tadi.
"Praba !".
"Kau masih bersamanya ? yaampun Oca sudah sepuluh tahun lebih kalian bersama dan dia tak menikahimu, apa dia normal ?"
Malika berapi api dengan ucapannya.
"Siapa yang memiliki hubungan dengannya,"
"Angkatlah, sebelum ia menghancurkan seluruh isi kamar rawat inap ini, aku tahu bagaimana sifat dia !" Malika bergidik ngeri membayangkan bagaimana bila Praba datang ke tempat ini dan merusuh.
__ADS_1
"Dia tak akan berani Ma, tenang saja !"
"Siapa yang tak berani ?" Tanpa Mereka sadari Hadirlah seorang Pria yang sedang mereka omongkan. Pria itu menatap tajam kearah Oca yang masih tetap tak bergeming.
"Ini diluar jam besuk, kenapa mereka mengijinkan mu masuk ?" Wanita itu tak mau kalah dia mencecarnya dengan pertanyaan.
"Apa hak mereka melarangku menemui kekasihku ?" Sindir Praba tak ubahnya seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
"Kau bilang kalian tak ada hubungan apa apa ? " Malika mengkonfirmasi kata kata Oca tadi.
Praba berjalan mendekati mereka berdua dan menarik paksa tangan kekasihnya.
"Ayo kita pulang, ini sudah larut malam !"
"Aku akan menemani Malika di sini !"
"Lalu siapa yang akan menemaniku ?" Praba memberikan tatapan tajam kearah Malika.
"Bahkan kalian sudah tinggal bersama Ya Tuhan Oca,"
"Sembarangan ! jangan dengar kata kata Pria tak waras ini !"
"Tak waras pun juga kau suka sayang ," Tanpa malu malu Praba menggoda Oca di depan temannya.
"Ayo kita pulang," Lagi lagi ia menyeret tangan Oca. Meski wanitanya sudah menolak keras.
"Aku masih ada urusan denganmu, jangan macam macam !" Tak mau kalah, Oca membentak Praba ketika mereka masuk kedalam lift.
"Jangan bahas itu lagi, itu milik Bara dia meminjam mobilku !"
"Kalau misalnya punya mu juga darimana aku harus percaya ?"
"Aku ? untuk apa aku memakai itu bila denganmu Oca ?" Geram sekali Praba dengan celotehan bawel kekasihnya.
"Dengan aku ? enak saja !"
"Terus dengan siapa lagi aku akan melakukannya ? kau satu satunya wanita yang aku punya !" Tanpa pikir panjang Pria itu sudah melancarkan ciumannya karena kesal dengan sikap bawel kekasihnya.
"Pria sialan ini apa ingin aku menjadi trending topik besok ? bisa bisanya ia menciumku di dalam lift !" Umpat Oca sebelum medorong tubuh Pria itu.
"Mau lagi ?" Godanya menanggap protes keras dari Oca.
Ketika pintu lift sudah terbuka, Oca buru buru keluar meninggalkan Praba yang masih dibelakang menatapnya dengan senyum kemenangan.
"Mulai sekarang, ijinkan aku mencintai seseorang Pria lain !" Kata Oca seperti sedang memohon kepada Praba ketika mereka di dalam mobil.
"Jangan bercanda sayang, kita masih satu komitmen kan ?" Keluh Praba sedikit merendah.
"Aku serius !" Oca menatapnya dengan tatapan memohon.
"Siapa ?"
"Gusti !"
__ADS_1
🌼🌼🌼