
Semua orang mengerubungi tubuh yang masih tergeletak tak berdaya di ruang sidang tersebut.
Oca mencoba mengecek kondisi Ny Ratih, namun sebuah tangan mencoba menepisnya.
"Apa yang sedang kau lakukan dengan klien saya ?" Hardik Seseorang yang Oca yakini Kuasa hukum pasien.
Namun melihat hal tersebut membuat Praba tak tinggal diam melihat wanitanya di sepelekan oleh Gandhi.
Ia mencengkram kerah baju Gandhi, "Jauhkan tangan kotor mu dari wanitaku !" Ancam Praba.
"Siapa kau ?" Gandhi tak terima dengan perbuatan Praba juga.
"445/0153/1427/1-16, Temukan namaku di PERDOSSI Indonesia !" Tatap Oca dengan tajamnya pada Gandhi.
"Untuk kalian semua, aku yang menemukan dia, dia pasienku saat ini jadi saya mohon yang tak berkepentingan silahkan meninggalkan tempat ini !".
"Kau dengar sendiri, apa yang dikatakan Wanitaku !" Ingin sekali Praba menampar wajah Gandhi saat ini. Namun ia urungkan lantaran masih di tempat umum.
"Dewi bantu aku, Sandarkan Korban di tubuhmu aku akan memeriksanya. Satu lagi kalian berdua kalau ingin berkelahi lanjutkan saja di luar !"
"Sayang, bagaimana aku bisa membantumu ?"
"Suruh semua orang meninggalkan tempat ini !" Bentak Oca tak mau tahu.
Oca kemudian memeriksa Ratih mulai dari pemerikasaan awal pada umumnya, Ia memeriksa nadi Pasien dan melihat matanya.
Deru nafas pasien Normal, denyut nadi juga normal namun yang menjadi perhatian Oca adalah warna matanya menguning (Jaundice).
Kemudian ia mengecek perutnya, ia merasakan keanehan pada perut bagian atasnya. Setiap kali ia menekan bagian sebelah kiri Pasien bereaksi.
Segera saja Oca menghubungi UGD tempatnya bekerja untuk meminta jemputan sebuah Ambulance.
Ia menghubungi Wawan, partnernya di UGD.
"Kirimkan aku Ambulance Wan," Oca menjelaskan kondisi pasien dengan lantang dengan memakai kode kode UGD berharap agar Wawan segera mengerti dan langsung menuju kemari.
"Satu lagi, bawakan aku alat USG dan penurun Amonia secepat waktuku tak banyak hanya 15 menit !"
Dewi tak menyangka bahwa calon istri Bosnya juga ternyata tak kalah bengis darioada Bosnya. Ia sungguh kagum oleh ketrampilan medis Oca. Apa lagi ketika ia memukul mundur Gandhi dengan penjelasannya tadi.
"Mereka berdua memang sudah ditakdirkan karena mereka berdua memiliki kecocokan satu sama lain."
"Tunggu hingga Partnerku datang, jangan ada yang mengubah posisi pasien karena bisa berakibat fatal !" Oca kemudian membersihkan tangannya setelah memeriksa pasien dengan cairan antiseptik yang selalu ia bawa kemana saja.
"Apa penyakitnya serius ?" Praba masih tak percaya dengan apa yang sudah ia lihat.
"Aku menduga ada kerusakan hati, Kita bisa mendapatkan jawabannya setelah di USG dan semoga analisaku salah !"
"Sungguh luar biasa kekasih Prabasonta, aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya !" Gandhi bergumam dalam hati.
Ia berniat ingin merebut kekasih Praba dengan tekatnya.
πΌπΌ
Lima belas menit kemudian, Ambulance yang dikendarai oleh Wawan tiba di Pengadilan. Tubuh Ny Ratih diangkat ke dalam Ambulance dan Oca pun mengikutinya ke dalam Ambulance tersebut.
Praba ingin menahannya lantaran gagal rencananya untuk makan siang bersama. Namun lantaran melihat kesungguhan Oca dan rasa kasihannya pada Ratih.
Toh pada akhirnya mereka semua mengikuti kemana Ambulance itu membawa Ny. Ratih.
Oca mulai mengolesi Gel USG di bagian perut pasien, dengan dibantu oleh Rahmi.
__ADS_1
"Sudah kuduga, gagal hati kak Rahmi, Hubungi dr. Anton SpPd kita perlu bantuan beliau."
Segera saja, Oca menyuntikan penurun Amonia untuk pasien setelah proses USG selesai. Kini kondisi pasien lebih stabil dari pada sebelumnya.
"Aku akan menunggu untuk makan siang," Praba menahan tangan Oca sebelum masuk ke ruang observasi.
"Aku tak akan lama, ini bukan keahlianku !" Jawabnya tersenyum sabelum ia meninggalkan Praba dan yang lainnya.
Praba dan kedua anak buahnya duduk di ruang tunggu dan masih ada satu musuhnya juga baru saja datang di tempat tersebut.
"Gus, kini role modelku berubah dulu aku mengagumi penyanyi seperti Raisa namun kini aku mengidolakan dokter Oca." Celetuk Dewi tiba tiba untuk mencairkan suasana.
"Heeh, apa pantas wanita kejam seperti itu kau idolakan ?" Praba menyaut kata kata Dewi dengan sinis.
"Kejam juga anda doyan kelon pak !" Sahut Gusti tak terima. Dan pada akhirnya menjadi bulan bulanan Praba setelah Praba menginjak kakinya.
πΌπΌ
Oca keluar dari ruang Observasi, ia berjalan mendekat kearah mereka yang sudah menunggunya. Kesadaran Ny. Ratih sudah Pulih sekarang beliau sedang menjalani proses MRI bersama dr Anton.
Tinggal menunggu keluarga Pasien saja yang belum datang, lantaran semua prosesi admistrasi sudah di penuhi oleh Gandhi.
"Apa penyakitnya parah ?" Praba merasa bersalah sudah berfikir yang tidak tidak pada Ny. Ratih.
Oca hanya mengangguk membenarkan.
"Aku rasa dia perlu transplantasi hati !" Jawabnya lirih.
"Anaknya ?"
"Yang jadi masalah, dia kekeh menolak semua proses pengobatan. Dia sudah tercatat menjadi pasien dokter penyakit dalam di rumah sakit lain dan dia menolak menjalani pengobatan !"
"Benarkah ? kenapa bisa dok ?" Dewi kaget lantaran Ratih bukan orang biasa kalau masalah dana mana mungkin ia menolak menjalani pengobatan.
"Jangan terlalu di pikirkan, aku akan mentraktir kalian makan siang !" Praba mengajak Oca dan dua karyawannya untuk makan siang bersama.
"Wi, coba kau cubit aku ini bukan mimpi kan ?" Celetuk Gusti.
"Jangan macam macam, kalau sampai Bos edan dengar bisa bahaya kita Yank !"
Ke dua pasangan muda mudi itu pun kini dalam perjalanan menuju Tempat makan yang sudah Praba rencanakan sebelumnya.
"Kau tak apa apa baby ? apa ada masalah ?" Tanyanya pada pujaan hatinya yang sedari tadi menatap jalanan ibukota.
"Aku lebih tertarik melihat jalan raya dari pada melihatmu !"
"Benarkah ? aku semakin bernafsu melakukannya disini kalau begitu !" Ia semakin tertarik menggoda Oca bila Oca terlihat kesal.
"Pikiranmu tak jauh jauh dari selangkang*n !"
Gerutu Oca.
"Karena itu yang di sukai lelaki sayang !" Kemudian ia menarik tubuh kekasihnya itu ke pelukannya sambil mengemudi.
"Kita akan makan dimana ?" Selidik Oca untuk mengalihkan perhatian Praba yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan ingin menerkamnya.
"Ke tempat kita bisa berduaan,"
"Jangan macam macam, kelihatannya bukan hanya Ratih yang perlu transplantasi tapi kau juga perlu transplantasi otak !" Oca menjitak kepala Praba karena kesal.
"Hati hati yank, aku masih memerlukan otakku untuk menghafalkan ikrar pernikahan kita nanti !"
__ADS_1
"Beli saja di rumah makan Padang dasar iblis Prabayar !"
πΌπΌπΌ
**Gelora Asmara
Datanglah, nyatakanlah cintamu
Katakan bahwa kau menginginkan diriku
Datanglah, bawalah bunga-bunga
Agar kau dapat membuat diriku terbang
Aku di sini duduk manis menantimu
Aku pun ingin membuat kau tak menyesal
Bahwa kau telah memilih diriku ini
Yang akan terus membuat hidupmu indah
Datanglah, nyatakan janji cinta
Yang akan kau ucapkan, itu yang terakhir
Datanglah (Datanglah), bawalah aku pergi (Huuu)
Bersama dengan semua gelora asmara
Aku di sini duduk manis menantimu
Aku pun ingin membuat kau tak menyesal
Bahwa kau telah memilih diriku ini
Yang akan terus membuat hidupmu indah
Aku di sini duduk manis menantimu
Aku pun ingin membuat kau tak menyesal,
Wo-wo-wo-wo
Bahwa kau telah memilih diriku ini
Yang akan terus membuat hidupmu indah
Aku di sini duduk manis menantimu
Aku pun ingin membuat kau tak menyesal,
Wo-wo-wo-wo
Bahwa kau telah memilih diriku ini
Yang akan terus membuat hidupmu indah
Hidupmu indah
Hidupmu indah**
__ADS_1