
Dibawah guyuran air yang keluar dari Shower mandi yang menyemprot ke bawah tubuh Seorang lelaki dewasa, Lelaki tersebut memejamkan matanya sambil menerawang ke dunia terdalamnya.
Tangannya sesekali meraba perban anti air di pinggangnya, Ia mengingat bagaimana Bosnya mengkhawatirkan dirinya. Sesekali seutas senyum tersungging dari sudut bibirnya.
Dirinya tak akan menyangka hari ini akan mengalami kejadian seperti ini, apalagi saat Bosnya melihat gespernya, Mulutnya seakan terkunci rapat tak bisa menjelaskan bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Selesai berkutat dengan aktivitas mandinya, lelaki tersebut kemudian memutar kran shower mandi di yang berada diatasnya. Kemudian dia berjalan menyambar sebuah handuk putih untuk menutupi tubuh kekarnya.
"Ah sudah lama aku tak beraktifitas berat, tubuhku kaku rasanya selesai berkelahi.." Keluh lelaki tersebut sambil melemaskan otot bagian lehernya.
Kemudian ia berjalan kearah Pantry mini di kediamannya. Untuk menuangkan segelas air putih ke dalam gelas di depannya.
Dia membuka sebuah tas plastik yang berisikan beberapa obat. Seperti anti nyeri dan antibiotik. Lelaki tersebut meminum obat dari rumah sakit tersebut yang resepnya ditulis oleh Bos barunya.
Kemudian dia berjalan kembali ke kamarnya untuk mengeringkan rambutnya kemudian mengenakan pakaiannya.
ππ
Di tempat terpisah, Oca sedang menghubungi kedua orangtuanya perihal kejadian tadi pagi. Ia ingin meminta ijin tak masuk Asep untuk besok pada Russell Papanya.
Bagaimanapun Asep harus beristirahat dengan cukup. Karena Asep sudah menyelamatkan nyawanya.
Alhasil dengan segala bujuk rayunya, Papanya mengijinkan Oca membawa mobil sendiri selama Asep Cuti tak hadir. Dan juga Oca diharuskan membuat Surat Ijin Mengemudi dahulu. Papanya melaranganya mengemudi apapun alasannya.
"Siap Komandan .." Sahut Oca mengakhiri telepon dengan kedua orang tuanya.
Kerena besok Oca tak ada jadwal bertugas di rumah sakit tempatnya bekerja, dia ingin bangun siang dan bermalas-malasan.
ππ
Rencana bermalas-malasan yang Oca susun sejak malam gagal, pasalnya mamanya sejak pagi sudah berkali kali menelponya. Hingga waktu untuk menghubungi Abi terganggu karena mamanya sibuk menelepon dirinya dari pagi.
Karena sudah terlanjur basah, Oca memutuskan untuk pergi melemaskan otot-otot nya dengan berolah raga. Sudah lama karena kesibukannya dia tak berolah raga.
Selesai mamanya menutup telponnya, Oca keluar dari Apartemennya sambil membawa Tas yang berisikan pakaian ganti untuk olah raga.
Ketika ia keluar dari lift, dia bertatap muka dengan Mantan pacarnya kembali.
"Ah, pagiku ternoda dengan Pria ini !" Gerutu Oca dalam hati sembari melangkah pura pura tak melihat Praba agar lelaki itu tak memikirkan aneh aneh tentang dia.
Pun sama halnya dengan Praba, dia juga ingin tak memperhatikan Oca yang kini sudah berjalan hampir di dekatnya. Ia ingin menghindari wanita itu agar tak membuat jantungnya makin berdebar.
Buru buru Praba masuk ke mobilnya dan mengendarainya keluar gedung Apartemen tersebut. Hari ini dia sibuk untuk mengurus kasus kasus yang ditangani firma hukumnya.
__ADS_1
Sesekali ia menoleh kearah sepion dimobilnya, untuk memastikan Oca tak bersama seseorang.
Oca memang tak bersama seseorang, dia sedang menunggu driver taksi online menjemputnya. Karena supir barunya sedang cuti, maka dari itu Oca memakai jasa taksi online.
Taksi online tersebut membawa Oca ke sebuah pusat olah raga. Dia sudah membuat janji dengan seorang instruktur Muatay nya.
Olah raga beladiri tinju asal negara Thailand ini memang digemari oleh Oca. Pasalnya olah raga ini memang yang paling cocok untuknya.
Tak heran bila Oca bisa mengalahkan para preman kemarin. Apes saja dia supirnya kena luka sayatan pisau.
Seorang instruktur yang sudah lama Oca kenal segera melatih Oca untuk beberapa gerakan.
kini Oca sudah menghabiskan hampir sejam untuk berlatih. Keringatnya mulai bercucuran bagai air hujan. Ia merasakan fit kali ini. Tubuhnya benar benar dalam kondisi prima.
Oca berjalan keluar dari tempat latihan tersebut sambil menenteng tas di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sibuk menekan benda pintar berbentuk tipis.
Oca ingin memesan taksi online dari Handphone miliknya. Sambil terus berjalan dan tak melihat kearah jalanan.
Tiba tiba ia dikejutkan dengan bunyi klakson sebuah mobil. karena keget Oca menoleh kearah sumber bunyi tersebut.
"Mau kemana ?" Tanya Lelaki tersebut tak lain adalah Bara.
Sambil tersenyum pada Bara, "Pulang ,, Aku baru saja Exercise.." sahut Oca
Tak sendirian, Oca melihat Bara bersama seorang wanita di dalam mobilnya. Wanita tersebut melirik tak suka kearah Oca. Mungkin karena Bara dan Oca terlalu akrab.
Bara terlihat membisikan sesuatu ke arah Wanita tersebut. Entah apa yang membuat wanita tersebut kini mengubah cara pandangnya ke Oca.
"Masuklah kak, aku akan mengantarmu.." Ajak Bara keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Oca.
Oca malu malu untuk ikut bersama Bara, dia merasa sungkan karena Bara sedang bersama wanita yang mungkin saja kekasihnya.
"Kenalkan kak, aku Danila.." Wanita tersebut mengulurkan tangannya terhadap Oca di belakangnya.
"Oceana Saphira.." Sahut Oca diiringi senyum pahitnya.
"Bara bilang kakak ini calon kakak iparnya.." Danila berujar dengan nada seriusnya.
Oca mendelik mendengar penuturan Danila barusan. Ingin saja ia memukul Bara saat ini juga, tetapi diurungkannya karena merasa sungkan ada Danila.
__ADS_1
"Yang benar saja, aku sudah memiliki calon sendiri !" Sahut Oca menolak penuturan Danila.
"Berarti pria tua itu sudah kalah.." Ejek Bara sambil memandang ke arah depan.
Oca tak menghiraukan mereka berdua di depan. Mereka saling mengobrol layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Diselingi canda dan tawa sesekali Dania mencubit mesra Bara disampingnya.
Tak terasa kini perjalanan mereka sudah memasuki kawasan Apartemen Oca.
Samar samar Oca melihat bapak penjual bubur ayam kemarin.
Oca menyuruh Bara menepi, dia ingin diatar sampai sini.
"Bukankah ini masih lumayan jauh kak..?" Bara menanyai Oca karena tiba tiba saja Oca mendadak ingin berhenti. Dia takut sudah menyinggung perasaan Oca.
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan.." Oca menyahutnya langsung tancap gas keluar dari mobil Bara. Tak lupa ia melambaikan tangannya untuk Dania juga.
Oca kemudian mendekati Bapak tersebut, penjual bubur ayam tersebut sudah bisa berjualan seperti biasa. Malahan kini gerobaknya berubah jadi lebih baru dan rapi.
"Pak masih ingat saya ...?" Tanyanya mendekati penjual itu.
"Iya neng, si Eneng kan yang kemarin nolongin bapak sama sopir Eneng.." Penjual bubur ayam tersebut ternyata masih mengingatnya.
"Syukurlah bapak bisa jualan kembali, saya ikut senang.." Hati Oca merasa lega setelah melihat senyum indah dari pedagang tersebut.
"Siang kemarin, setelah Eneng pergi mungkin sekitar pukul satu siang datang Mas mas kesini bayarin hutang bapak dan ngasih uang bapak sebagai modal bapak jualan.." Jelas Pedagang tersebut panjang lebar.
Oca hanya mendengar penuturan Pedagang tersebut dengan antusias.
"Ini pertolongan dari Allah pak, mungkin jawaban dari doa bapak.." Sambung Oca.
"Mas mas tersebut tak meminta imblannya, dia ikhlas menolong bapak bukan seperti rentenir yang menolong bapak karena ingin menikahi putri bapak.." Pedagang tersebut menambah penuturannya.
Oca tersenyum simpul mendengar penjelasan penjualan bubur ayam tersebut.
"Eneng,, Bapak doain nanti dapat suami yang baik kayak mas mas tersebut.." Pedagang tersebut tersenyum melihat Oca disampingnya.
"Amiin, calon saya juga orang yang baik.." Sahut Oca.
"Satu lagi, dia tampan .." Goda pedagang tersebut sembari mengedipkan matanya.
Oca berlaku meninggalkan pedagang tersebut, tak lupa ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah pedagang bubur tersebut.
πΌπΌπΌ
__ADS_1